Berita

Basuki T. Purnama (Ahok)/Net

Politik

Andrianto: Ahok Tetap Istimewa Di Mata Bohir

Bahaya Kalau Presidennya Tetap Jokowi
RABU, 13 FEBRUARI 2019 | 09:57 WIB | LAPORAN:

. Wakil Presiden bukanlah posisi yang "aman" bagi Maruf Amin, tidak terkecuali Basuki T. Purnama (Ahok). Alasannya lebih pada posisi presidennya yaitu Joko Widodo.

Dimana pada periode pertama saja, pemeritahan di bawah kepemimpinan Jokowi dinilai telah membuat masyarakat terbelah, hukum tidak tegak lurus, dan ekonomi stagnan cenderung turun.

Namun, Presidium Persatuan Pergerakan, Andrianto mengatakan, isu skenario menggantikan Maruf dengan Ahok bukanlah hal yang tidak mungkin. Sebab Ahok diduga masih merupakan sosok yang istimewa di mata pemilik modal alias "bohir".


"Saya rasa bisa saja (Ahok jadi Wapres). Kan dari awal demikian desainnya, itu kalau Ahok menang jadi Gubernur DKI. Tapi skenario kurang mulus, Ahok terganjal pidana penistaan agama. Dan sudah keluar dari penjara kan. Artinya status Ahok bebas kan, Ahok tetap istimewa, utamanya di mata bohir," ujar Andrianto saat berbincang dengan redaksi, Rabu (13/2).

Ditanya tentang akan ada pergolakan politik jika Ahok benar-benar menggantikan Maruf, Andrianto enggan menanggapi lebih jauh.

Namun yang pasti, menurut aktivis mahasiswa 1998 ini, kalau misalkan nantinya Ahok benar-benar menggantikan Maruf, maka hal itu tak akan mampu memperbaiki keadaan bangsa. Mengingat pada periode pertama, pemerintahan Jokowi seakan telah membuat kertebelahan di masyarakat sampai level lampu merah.

"Justru (posisi Wapres) bahaya siapapun, baik Maruf apalagi Ahok. Bahayanya karena suhu politik memanas, dan ekonomi makin jeblok di tangan Jokowi," pungkas Andrianto. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Pemerintah Hadirkan Tsunami Ekonomi Kelas Menengah

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:14

KPK Panggil 10 Saksi dalam Kasus Gratifikasi IUP Kutai Kartanegara

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:06

ASII Siapkan Hingga 100 Juta Saham untuk Program MSOP

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:04

Segera Matangkan Regulasi Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:59

BrahMos Masuk Indonesia, Pemerintah Perlu Hitung Ulang Prioritas Anggaran

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:57

Pangdam Mandala Trikora Buka Suara di Tengah Isu Kasus Mama Sinta

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:48

Menhub Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahas TBA Tiket Pesawat?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Model Fitri Assiddikki Dipanggil KPK terkait Korupsi CSR BI

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Lahan 2,4 Hektare Bekas BPSDM akan Disulap jadi Pusat Bisnis

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:38

Kenaikan Pertamax Berpotensi Jadi Bumerang bagi Pemerintah

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:30

Selengkapnya