Berita

Presdien Joko Widodo (dua dari kiri)/Net

Politik

Digging The Grave On Russia

SELASA, 05 FEBRUARI 2019 | 11:15 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

KLIK globalis Barack Obama dan Hillary Clinton bersikap antagonis terhadap Rusia dan Vladimir Putin.

Berkali-kali Hillary merilis serangan verbal. Rusia dituduh mengadu domba negara-negara Eropa dan mengubah batas wilayah yang disepakati pasca World War II.

Demokrat dan Hillary tidak senang atas Putin's deeply engagement and supporting Bashar al-Assad di Suriah. Hillary berusaha keras mengeliminir penetrasi Rusia dan keinginan Rusia punya military base di Middle East.


Klik globalis Obama-Clinton protes keras di masalah Aneksasi Crimea. Ada natural gas di situ.

Tapi Zimbabwe, Venezuela, Suriah, Nikaragua, Sudan, Belarus, Armenia, Korea Utara dan Bolivia mendukung Aneksasi Russia on Crimea. N guess what, itu negara-negara satelit Tiongkok.

Di debat pertama pilpres, Hillary menyerang Rusia on cyber-attacks.

Menurut Hillary, selain independent hacking groups yang mencuri dan menjual informasi demi uang, cyber attack dilakukan oleh state-actors yaitu Rusia.

Putin dan Rusia dituduh ikut campur dan mempengaruhi opini dalam pilpres. Mereka beroperasi di belakang Donald Trump dan menyerang Hillary dengan hoax wikileaks.

Dari sini, istilah "Propaganda Rusia" dimulai. Capres Joko Widodo yang baru saja diberi gelar "Cak Jancuk" oleh pengikutnya mengutip istilah itu.

Duta Besar Lyudmila Verobieva menyatakan tak terima dengan penggunaan istilah "Propaganda Rusia".

Jubir TKN Ace Hasan Syadzily pelintir masalah dengan fitnah kubu Prabowo coba benturkan Jokowi dengan Pemerintah Rusia.

Lho..lho..lho...!!

Capres Joko Widodo yang berucap, kubu Prabowo-Sandi yang disalahkan.

Semakin aneh Pilpres kali ini, seaneh manuver jualan cucu untuk menaikan elektabilitas.

Apa pun omongan dan manuver nge-less-nya, mata dunia tidak bisa ditipu. Semakin jelas karakter kubu Ko-Ruf No. 1. Semakin banyak ngomong, mereka semakin blunder. They are digging their own graves. [***]

Penulis adalah kolumnis dan aktvis Komunitas Tionghoa Anti-Korupsi (Komtak).

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

UPDATE

Kejagung Sita Dokumen hingga BBE Usai Geledah Kantor Ombudsman

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:06

Menkop Dorong Penerima Bansos Jadi Anggota Kopdes Merah Putih

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:04

PB PMII Tolak Pelantikan DPD KNPI Sulawesi Selatan

Selasa, 10 Maret 2026 | 15:54

Rupiah Melemah ke Rp17 Ribu, Pemerintah Minta Publik Tak Khawatir

Selasa, 10 Maret 2026 | 15:44

Dua Mantan Ketua MK Diundang DPR Bahas Isu Revisi UU Pemilu

Selasa, 10 Maret 2026 | 15:39

Sahroni Dukung Pesan Prabowo agar Rakyat Tidak Kaget

Selasa, 10 Maret 2026 | 15:32

Japto Soerjosoemarno Tuding Wartawan Tukang Goreng Berita

Selasa, 10 Maret 2026 | 15:17

Sahroni Auto Debet Gaji ke Kitabisa hingga Akhir Masa Jabatan

Selasa, 10 Maret 2026 | 15:11

Retreat Kepala Daerah Dipertanyakan Usai Maraknya OTT

Selasa, 10 Maret 2026 | 15:09

Arogansi Trump Ancam Tatanan Dunia yang Adil

Selasa, 10 Maret 2026 | 15:01

Selengkapnya