Berita

Erdogan/Net

Global

Erdogan: Turki Jaga Kontak Dengan Suriah Di Level Rendah

SENIN, 04 FEBRUARI 2019 | 07:25 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Turki masih menjaga kontak di tingkat rendah dengan pemerintah Suriah, meski Ankara mendukung pemberontak yang berjuang selama bertahun-tahun untuk menggulingkan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Hal itu disampaikan Presiden Turki Tayyip Erdogan pada Minggu (3/1).

Erdogan menggambarkan Assad sebagai seorang teroris dan kerap mengatakan beberapa kali selama konflik delapan tahun Suriah bahwa Assad harus angkat kaki dari kursi nomor satu Suriah.

Meski begitu, Erdogan mengatakan bahwa hingga saat ini, Turki masih memiliki kontak langsung dengan pemerintah Suriah.


"Kebijakan luar negeri dengan Suriah berlanjut di tingkat yang lebih rendah," katanya kepada penyiar TRT dalam sebuah wawancara, dan dimuat ulang Reuters.

Dia menambahkan bahwa badan intelijen beroperasi secara berbeda untuk para pemimpin politik.

"Para pemimpin mungkin akan disingkirkan. Tetapi unit intelijen dapat berkomunikasi untuk kepentingan mereka," kata Erdogan.

"Bahkan jika anda memiliki musuh, anda tidak harus memutuskan ikatannya. Anda mungkin membutuhkannya nanti," sambungnya.

Dalam kesempatan yang sama, Erdogan juga mengatakan bahwa zona aman yang diusulkan di Suriah timur laut tidak dapat dibentuk oleh pasukan koalisi Barat tanpa Turki.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengatakan bahwa zona itu harus dibentuk ketika pasukan Amerika Serikat mundur dari daerah itu.

"Kami dapat memberikan keamanan di daerah. Kami dapat mengelola wilayah bersama Anda," kata Erdogan.

"Tidak masalah di sana. Tapi kami tidak bisa meninggalkan wilayah itu untuk pasukan koalisi," tegasnya.

Washington sebelumnya mengatakan zona aman yang diusulkan harus mengatasi kekhawatiran Turki tentang mencegah segala ancaman lintas-perbatasan dari para pejuang milisi YPG Kurdi di Suriah utara, sementara juga mencegah operasi militer Turki melawan YPG. [mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya