Berita

Pertahanan

Kepala BNPB Janji Benahi Sistem Peringatan Dini Tsunami

MINGGU, 03 FEBRUARI 2019 | 20:04 WIB | OLEH: MEGA SIMARMATA

. Bencana alam tsunami yang menerjang wilayah Banten dan Lampung pada tanggal 22 Desember 2018 lalu, menyisakan duka mendalam untuk para korban dan keluarganya.

Tak sedikit yang sampai saat ini pun masih harus hidup di barak-barak pengungsian, baik di wilayah Banten, maupun di wilayah Kalianda Lampung Selatan. Kita sebagai sebuah bangsa, seakan tidak belajar dari pengalaman buruk dimasa lampau.

Tsunami di Nangroe Aceh Darussalam tahun 2004, menelan korban jiwa ratusan ribu orang. Beberapa menit sebelum tsunami datang di pagi hari, air di bibir pantai di seluruh penjuru Aceh surut sehingga menyebabkan ikan-ikan berlompatan dalam jumlah besar.


Kaum ibu dan anak-anak di Aceh berlarian semua untuk menangkapi ikan-ikan itu. Tapi ternyata dalam hitungan detik datanglah tsunami yang ketinggian ombaknya belasan meter. Atau dalam istilah warga Aceh waktu itu, ketinggian ombak tsunami adalah setinggi pohon kelapa.

Kalau di Aceh, tsunami datang di pagi hari. Kemudian di Sulawesi (Donggala dan Palu), tsunami datang di sore hari. Tidak demikian halnya di Banten dan Lampung pada tanggal 22 Desember lalu. Tsunami datang justu dimalam hari, sekitar jam 21.00 WIB.

Salah seorang korban selamat dari terjangan tsunami di Tanjung Lesung Banten adalah Ifan dari Grup Musik Seventeen yang menjadi pengisi acara Family Gathering PLN di Tanjung Lesung, saat itu sedang mendapat giliran manggung. Ifan Seventeen menceritakan, mereka sedang di atas panggung tapi tiba-tiba panggung berjalan. Ifan harus kehilangan istri tercintanya, Dylan Sahara dan rekan-rekannya dari Grup Musik Seventeen yang meninggal dunia akibat terjangan tsunami.

Dalam hitungan detik, mereka sudah berada dibasah pusaran air dan ditarik sangat jauh ke tengah pantai. Ifan Seventeen menyebutkan hanya 2 kali tsunami menerjang wilayah Banten. Dua kali diterjang, semua jadi rata ditelan air bah. Ombak dengan kekuatannya maha dashyat ketinggiannya adalah 7 meter dan 15 meter.

Tak ada peringatan kepada rakyat Indonesia, khususnya kepada warga di Lampung dan Banten, bahwa tsunami akan menerjang wilayah itu pada malam hari tanggal 22 Desember. Kalau peringatan itu ada, Grup Musik Seventeen, PLN, dan semua wisatawan, tak akan datang ke Tanjung Lesung, Pantai Carita dan sekitarnya. Kemudian masyarakat setempat di semua penjuru Banten dan Lampung Selatan, yang berada di pinggir pantai atau laut akan bisa dievakuasi sebelum tsunami datang.

Untuk yang pertama kalinya, Ifan bersedia bicara tentang kisah pilu saat ia terseret tsunami. Gilang Dirga tampil sebagai pewawancara bagi Ifan. Hari Rabu (16/1) kemarin, rekaman wawancara mereka berdurasi 50 menit dan bisa kita saksikan di Youtube.

Setelah penulis menyaksikan wawancara itu, penulis segera mengirimkan link wawancara itu kepada Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo. Melalui Whatsapp, kemarin saya meminta Doni untuk ikut menonton wawancara Ifan Seventeen dengan Gilang Dirga.

Menurut hemat saya, ada baiknya BNPB mendapat masukan dan referensi tambahan tentang bagaimana saat tsunami menerjang daratan. Saya memberi masukan kepada Kepala BNPB Doni Monardo bahwa sudah saatnya Sistem Peringatan Dini atau Early Warning System terhadap datangnya tsunami, dibenahi secepatnya.

Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang saat ini mendapat amanah dari rakyat Indonesia untuk menjalankan roda pemerimtahan, tidak meneruskan program baik dari Pemerintahan Pak Susilo Bambang Yudhoyono yang pasca bencana  alam tsunami di Aceh, segera memasang alat Early Warning System untuk pemberitahuan awal jika tsunami akam datang. Ada kelengahan dan pembiaran terhadap monitoring bencana alam yang harusnya bisa dideteksi lebih awal rencana kedatangannya melalui teknologi dan peralatan Early Warning System.

Kemarin, Kepala BNPB Letjen Doni Monardo berjanji akan melakukan pembenahan terhadap alat Early Warning System agar ke depan tsunami bisa dideteksi rencana kedatangannya.

Memang harus dibenahi agar tidak lebih banyak nyawa rakyat yang melayang sia-sia akibat "monster" bernama Tsunami. [atm]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

UPDATE

Pendaftaran MagangHub Angkatan II Batch 1 Masih Dibuka, Begini Caranya

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:59

Sesat Pikir Program MBG

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:45

Demi Lunasi Utang Pinjol, Seorang Wanita Hampir Disetubuhi Debt Collector

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:18

Cinta dan Benci Indonesia

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:59

Saatnya Generasi Milenial Tampil Tentukan Nasib Bangsa di Pemilu 2029

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:40

Sumpah Sudaryono dan Donny

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:20

49 Startup Binaan IPB University Didorong jadi Produk Unggulan Nasional

Kamis, 23 Juli 2026 | 03:50

Prabowo-Anies Flagships

Kamis, 23 Juli 2026 | 03:25

TelkomGroup Perkuat Peran Penggiat Budaya Lewat CAMG 2026

Kamis, 23 Juli 2026 | 02:59

Negara OKI Didesak Bantu Iran Hadapi Agresi AS dan Israel

Kamis, 23 Juli 2026 | 02:45

Selengkapnya