Berita

Abu Bakar Ba'asyir/Net

Dunia

Profesor Australia: Abu Bakar Ba'asyir Hari Ini Adalah Sosok Yang Menyedihkan

JUMAT, 18 JANUARI 2019 | 20:55 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Narapidana terorisme Abu Bakar Ba'asyir rencananya akan dibebaskan dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) teroris Gunung Sindur, Bogor pekan depan.

Pembebasannya tidak lepas dari upaya "lobi" pengacara Yusril Ihza Mahendra kepada Presiden Joko Widodo. Pembebasan ini diputuskan karena alasan kemanusiaan dan juga terkait dengan perawatan kesehatannya.

Dalam sebuah posting di Facebook, Yusril mengatakan sudah waktunya bagi Ba'asyir untuk dibebaskan tanpa syarat yang memberatkan. Dia mengatakan, Ba'asyir akan kembali ke kota asalnya, Solo, untuk tinggal bersama putranya, Abdul Rahim.


Bagi Australia, Ba'asyir adalah ancaman. Meski tidak pernah dikaitkan secara langsung, namun Australia menilai bahwa Ba'asyir memiliki peran dalam serangan bom Bali 2002. Serangan tersebut diketahui menyebabkan 202 orang meninggal dunia, termasuk 88 warga negara Australia.

Pada Maret 2018 lalu, kantor Mantan Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop menggambarkan Ba'asyir sebagai "dalang" di balik serangan itu. Dia mendorong agar  tidak ada keringanan hukuman bagi Ba'asyir.

Dalam sebuah pernyataan, pada saat itu, kantor Bishop mengatakan bahwa warga Australia mengharapkan keadilan untuk terus dilayani sampai sejauh yang diizinkan oleh hukum Indonesia.

"Abu Bakar Bashir seharusnya tidak boleh menghasut orang lain untuk melakukan serangan di masa depan terhadap warga sipil tak berdosa," tambah pernyataan itu, seperti dimuat ABC News.

Tetapi profesor Politik Islam Global di Universitas Deakin, Australia, Greg Barton mengatakan bahwa Ba'asyir saat ini bukan lagi ancaman signifikan.

"Cara terbaik untuk menggambarkan Bashir saat ini adalah sebagai sosok yang habis dan menyedihkan," katanya.

"Menyedihkan dalam arti bahwa dia tidak memiliki kharisma atau kontrol nyata atas orang-orang. Dia bukan dalang," sambungnya seperti dimuat ABC News (Jumat, 18/1).

"Tapi yang lebih penting, menyedihkan dalam arti bahwa dia sangat terbuka tentang mendorong orang untuk terlibat dalam jihad kekerasan, namun menolak untuk mengambil tanggung jawab moral apa pun untuk itu," tandasnya. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya