Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Mungkinkah Amerika Menyerang Iran?

KAMIS, 17 JANUARI 2019 | 07:58 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

DUNIA terkejut dengan rencana Amerika menyerang Iran sebagaimana diungkapkan The Wall Street Journal. Sebenarnya berkali-kali Amerika telah berencana menyerang Iran, khususnya sejak Iran berubah menjadi Republik Islam pada tahun 1979. Tidak semuanya diketahui publik. Sebelum yang dibocorkan  The Wall Street Journal saat ini, paling tidak ada 2 kali rencana operasi untuk menyerang Iran yang gagal atau batal dilakukan;

Pertama, operasi yang dikenal dengan sandi:  Eagle Claw tahun 1980 pada saat Amerika dipimpin oleh Presiden Jimmy Charter. Operasi ini memiliki tujuan utama untuk membebaskan 52 orang Amerika yang disandra oleh mahasiswa Iran di gedung Kedutaan Besar Amerika di Teheran.

Operasi ini mengalami kegagalan disebabkan oleh sejumlah helikopter yang digunakan oleh pasukan komando yang dikirim mengalami kerusakan dan bertabrakan di tengah padang pasir akibat terserang badai gurun. Ayatollah Khomaini yang waktu itu menjadi tokoh spiritual Iran menyebut kegagalan ini akibat Allah tidak berkenan, kemudian mengirimkan malaikatnya untuk menggagalkan.


Kedua, operasi dengan sandi: TIRANNT (Theater Iran Near Term)  pada tahun 2003 dengan target utama adalah pusat-pusat reaktor nuklir Iran di sejumlah lokasi. Rencana ini batal disebabkan sejumlah perwira Angkatan Udara yang menjadi tulang punggung  rencana penyerangan menolak untuk melakukannya, dikarenakan resiko besarnya korban akibat penggunaan senjata nuklir konvensional dan taktis dalam sekenario serangan ini.

Kini pertanyaannya, apakah kali ini atau dalam waktu dekat Amerika benar-benar akan menyerang Iran ? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita perlu melihat faktor pendukung dan tidak mendukungnya.

Faktor-faktor pendukung yang ada saat ini antara lain: Pertama, kekalahan Amerika di Suriah yang mengakibatkan berkurangnya atau turunnya wibawa Amerika di Timur Tengah. Karena itu, Amerika perlu mengkompensasinya dengan tindakan atau manuver militer baru demi menjaga dan memberikan rasa percaya diri sekutu-sekutunya di kawasan ini, terutama Israel dan Saudi Arabia.

Kedua, kemenangan Rezim Basyar Al Assad terhadap lawan-lawan politiknya berkat dukungan Iran, Rusia, dan milisia Hizbullah Lebanon  telah membuat Israel gusar. Jika Assad memanfaatkan momentum kemenangannya untuk merebut kembali Dataran Tinggi Golan dari tangan Israel, tentu Israel akan kewalahan menghadapinya.

Ketiga, Saudi Arabia yang menjadi lawan Iran sangat tidak suka dengan kemenangan Assad. Karena hal ini sama artinya dengan semakin kuatnya Iran yang menjadi lawan dalam perebutan pengaruh di kawasan.

Sementara faktor-faktor yang tidak mendukung antara lain: Pertama, Iran memiliki kemampuan militer yang siap menghadapi serangan Amerika, bila ditinjau dari kemampuan Angkatan Darat dan Angkatan Lautnya. Sejumlah genderal Angkatan Darat Iran terlibat langsung dalam pertempuran baik di Irak maupun Suriah. Sementara Angkatan Lautnya memiliki kemampuan menutup Selatan Hormuz yang mengakibatkan tersumbatnya minyak dari sejumlah negara Arab Teluk yang tentu akan mengakibatkan menggelembungnya harga minyak dunia yang sangat ditakuti oleh negara-negara industri Barat.

Kedua, pengalaman buruk Amerika dalam sejumlah perang terutama di Irak dan Afghanistan. Perang berkepanjangan di dua negara ini, telah membuat kerugian besar terutama dalam bentuk hilangnya nyawa tentaranya,  dan mahalnya biaya perang yang mengakibatkan terganggunya roda ekonomi negaranya.

Ketiga, kebijakan Presiden Donald Trump yang berorientasi pada pembangunan ekonomi dalam negri. Dengan demikian operasi militer di luar negri dipandang hanya akan membebani agenda ekonominya.  Hal ini terlihat dengan kebijakannya memanggil pulang tentaranya baik dari Suriah maupun Afghanistan.

Dengan memperhatikan faktor-faktor di atas, maka kemungkinan Amerika menyerang Iran tetap terbuka walau tidak besar. Karena itu, berbagai perkembangan ke depan akan ikut mempengaruhinya. [***]

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi. 

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya