Berita

China/Net

Dunia

AS Pantau Kemampuan China Caplok Taiwan?

RABU, 16 JANUARI 2019 | 21:39 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Amerika Serikat mengamati dengan seksama niat China terhadap Taiwan di tengah kekhawatiran bahwa kecakapan militer Beijing yang meningkat. Hal itu dapat meningkatkan resiko keamanan di Taipei.

Pejabat senior intelijen pertahanan Amerika Serikat, yang berbicara kepada Reuters dengan syarat anonim, tidak meramalkan bahwa militer China, yang dikenal sebagai Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), akan mengambil langkah pengambilalihan Taiwan secara paksa.

Tetapi dia mengatakan ada kemungkinan seperti itu dan hal tersebut adalah kekhawatiran utama ketika China memperluas dan memodernisasi kemampuan militernya.
"Kekhawatiran terbesar adalah bahwa mereka (China) sampai pada titik di mana kepemimpinan PLA dapat benar-benar memberi tahu Xi Jinping bahwa mereka percaya diri dengan kemampuan mereka," kata pejabat itu, merujuk pada presiden China.

"Kekhawatiran terbesar adalah bahwa mereka (China) sampai pada titik di mana kepemimpinan PLA dapat benar-benar memberi tahu Xi Jinping bahwa mereka percaya diri dengan kemampuan mereka," kata pejabat itu, merujuk pada presiden China.

Ditekan apakah pejabat tersebut merujuk pada kepercayaan bahwa China pada kemampuannya untuk dapat berhasil memenangkan pertempuran dengan Taiwan, pejabat itu mengiyakan.

"Ya, khususnya itu yang paling memprihatinkan bagi saya," tambahnya.

Taiwan hanya satu dari sekian banyak titik api dalam hubungan Amerika Serikat-China, di samping perang dagang antar negara, sanksi Amerika Serikat terhadap militer China, dan peningkatan kapabilitas militer China di Laut Cina Selatan yang disengketakan.

Namun, dalam pertemuan dengan para pemimpin Pentagon, pejabat PLA telah lama menggambarkan Taiwan sebagai masalah China yang paling sensitif.

China telah berulang kali mengirim pesawat dan kapal militer untuk mengelilingi pulau dengan latihan dalam beberapa tahun terakhir dan bekerja untuk mengisolasi pulau itu secara internasional, mengurangi jumlah sekutu diplomatik yang tersisa. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Tiga Tahun UU TPKS: DPR Soroti Masalah Penegakan Hukum dan Temuan Kasus di Lapas

Kamis, 15 Januari 2026 | 12:08

Komisi III DPR Mulai Bahas RUU Perampasan Aset Tindak Pidana

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:48

Utang Luar Negeri Indonesia Kompak Menurun

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:34

Giliran Ketua DPD PDIP Jawa Barat Ono Surono Diperiksa KPK di Kasus OTT Bupati Bekasi

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:19

Muncul Tudingan Pandji Antek Asing di Balik Kegaduhan Mens Rea

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:04

Emas Antam Naik Terus, Tembus Rp2,67 Juta per Gram!

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:54

KPK Tak Segan Tetapkan Heri Sudarmanto Tersangka TPPU

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:43

TAUD Dampingi Aktivis Lingkungan Laporkan Dugaan Teror ke Bareskrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:28

Istana Ungkap Pertemuan Prabowo dan Ribuan Guru Besar Berlangsung Tertutup

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:27

Update Bursa: BEI Gembok Saham Tiga Saham Ini Akibat Lonjakan Harga

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:17

Selengkapnya