Berita

Ren Zhengfei/BBC

Dunia

Pendiri Huawei Sangkal Tuduhan Mata-mata

RABU, 16 JANUARI 2019 | 13:26 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pendiri raksasa teknologi China, Huawei yakni Ren Zhengfei membantah tudingan yang menyebut bahwa pihak berwenang China pernah meminta perusahaannya untuk membantu memata-matai kliennya.

Dalam sebuah wawancara langka dengan sejumlah media asing awal pekan ini, Ren membeberkan hal tersebut menyusul klaim Huawei yang menimbulkan resiko keamanan.

Wawancara itu dilakukan Ren dengan mengundang enam wartawan asing, termasuk dari Financial Times, Bloomberg dan Wall Street Journal.


Dalam kesempatan itu, seperti dimuat ulang BBC, Ren mengatakan bahwa dia mencintai negaranya, namun tidak akan melakukan hal yang bisa membahayakan dunia.

"Saya mencintai negara saya. Saya mendukung Partai Komunis. Tetapi saya tidak akan melakukan apa pun untuk membahayakan dunia," kata pria 74 tahun itu.

Dia menambahkan bahwa Beijing tidak pernah memintanya atau perusahaannya untuk berbagi informasi yang tidak patut tentang para mitranya.

"Saya pribadi tidak akan pernah merugikan kepentingan pelanggan saya dan saya dan perusahaan saya tidak akan menjawab permintaan seperti itu," katanya.

"Tidak ada undang-undang di China yang mewajibkan perusahaan mana pun untuk memasang pintu belakang wajib," tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ren juga menuturkan bahwa dia merindukan putrinya, Meng Wanzhou yang yang saat ini diperintahkan tinggal di Kanada setelah ditangkap karena dituduh melanggar sanksi terhadap Iran. Dia sekarang menghadapi ekstradisi ke Amerika Serikat.

Nama Huawei kembali menjadi sorotan setelah pekan kemarin salah satu eksekutif pemasarannya ditangkap di Polandia. Dia dituduh melakukan mata-mata.

Huawei sejak itu memecat karyawannya itu dan menyangkal ada perilaku ilegal yang dilakukan atas nama perusahaan.

Selain itu, kekhawatiran telah dikemukakan di Inggris dan di tempat lain tentang penggunaan peralatan perusahaan di jaringan 5G dan infrastruktur komunikasi lainnya, dengan klaim bahwa hal itu dapat memberikan Beijing cara untuk memata-matai atau mengganggu data. [mel]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Diminati Klub Azerbaijan, Persib Siap Lepas Eliano Reijnders?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:58

Investasi Emas untuk Keuntungan Maksimal: Mengapa Harus Disimpan dalam Jangka Panjang?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:37

Harga Plastik Melonjak, Pengamat Ingatkan Dampaknya Bisa Lebih Berbahaya dari BBM

Sabtu, 04 April 2026 | 14:49

DPR Minta ASN yang WFH Dipantau Ketat!

Sabtu, 04 April 2026 | 14:31

Komisi V DPR Minta Pemerintah Lakukan Pemilihan Terdampak Gempa Sulut-Malut

Sabtu, 04 April 2026 | 14:00

DPR Minta Pemda Pertahankan Guru PPPK Paruh Waktu di Tengah Efisiensi Anggaran

Sabtu, 04 April 2026 | 13:47

Trump Digugat Dua Lusin Negara Bagian Terkait Pemilu

Sabtu, 04 April 2026 | 13:24

Daftar Tayang Bioskop April 2026: Dari Petualangan Galaksi Mario hingga Ketegangan Horor Lokal

Sabtu, 04 April 2026 | 13:22

Ledakan di Markas PBB Lebanon Kembali Lukai 3 Prajurit TNI, 2 Luka Serius

Sabtu, 04 April 2026 | 13:01

Sindiran Iran ke AS Menggema di Tengah “Pembersihan” Pentagon

Sabtu, 04 April 2026 | 12:51

Selengkapnya