Berita

Publika

Nurhadi Dan Mimpi Eudaimonia

SENIN, 14 JANUARI 2019 | 07:36 WIB

FANTASTIS! Fenomena Nurhadi-Aldo seolah menjadi sebuah oase politik yang menarik di jagad media sosial saat ini.

Keriuhan periode kampanye politik nasional, menghadirkan ketegangan psikologis yang seolah terbelah, dengan posisi politik secara berhadapan antara masing-masing kubu kandidat.

Kehadiran figur nyeleneh alternatif Nurhadi, seolah memecah kebuntuan, menghadirkan kerenyahan suasana, sekaligus merecehkan politik formal yang tampak kaku.


Koalisi imajinasi tronjal-tronjol, serta berbagai jargon dalam slogan kampanye yang nampak erotik, merepresentasikan perspektif bahwa hal tabu dan vulgar itu merupakan keseharian kehidupan.

Semestinya memang politik berbicara tentang hidup sehari-hari publik dibandingkan dengan berbagai pilihan diksi abstrak, serta jauh dari realitas.

Kandidat yang diusung warga dunia maya, sebagai capres nomor urut 10 ini, memiliki banyak pengikut.

Fanbase yang berkumpul sebagai pengusung Nurhadi, secara semiotik dimaknai sebagai bentuk kejenuhan atas politik dalam aras formal. Politik diterjemahkan publik tidak lebih sekedar perebutan kekuasaan di antara segelintir elit, jauh panggang dari kepentingan publik itu sendiri.

Pasangan calon tandingan ini menawarkan satire politik, memberi sindiran bagi aktor dan partai politik, dengan menyodorkan ilustrasi bahwa dunia politik kita telah kehilangan etika, sehingga terjadi kekaburan batas antara tujuan mulia dengan logika pragmatis mencari kursi kuasa.

Hal ini sekaligus mampu menerangkan bila para pelaku politik secara tidak terhindarkan terjebak dalam rangkaian peristiwa aksi-reaksi dan saling berbalas pada level permukaan bukan mencari jawaban substansial persoalan publik.

Jika dunia politik sudah sedemikian keruh, maka pasangan Nurhadi-Aldo tidak hadir di ruang kosong, tidak pula dapat dipandang sebagai lelucon biasa, meski membawa sense of humor dalam penampilannya, tetapi hal ini menegaskan ironi yang terjadi, ketika para elit yang membawa pengatasnamaan publik seringkali tidak mendengarkan aspirasi publik.

Pesan Efektif

Kita seolah dibawa kembali ke era Klasik Socrates tentang tujuan dari hakikat kehidupan, yakni Eudaimonia alias beroleh kebahagiaan, dan politik seharusnya menjadi sarana bagi pencapaian hal tersebut bukan sebaliknya.

Pada tahap yang fundamental, pemenuhan kebahagiaan menjadi dasar bagi pembentukan Polis yakni kehidupan bernegara. Dengan demikian, kita telah kehilangan simbol hidup dalam negara yang seharusnya menjamin terciptanya kebahagiaan bersama bagi seluruh publik.

Kemampuan pasangan fiksi imajiner Pilpres ala Nurhadi, sekaligus membuktikan bila konsep komunikasi politik seharusnya diformulasikan dalam bahasa yang sederhana serta menyentuh perikehidupan publik. Sehingga terdapat penyampaian pesan dalam makna yang efektif. Publik dapat menerima -received, dan memahami makna -accepted.

Dalam aspek komunikasi, sekurangnya terjadi efektivitas pesan Nurhadi dalam fungsi membangun relasi proksemik -kedekatan ruang dan waktu antara tokoh dan publik, serta paralinguistik -pemakaian pola bahasa yang mudah dicerna. Hal ini justru berbanding terbalik dengan apa yang terjadi pada tataran politik prosedural, yang kerap sulit dijangkau rasio publik.

Tafsir atas fenomena pencalonan Nurhadi di dunia maya tentu saja tidak bisa diremehkan, meski glorifikasi secara berlebihan juga bisa jadi sebuah kekeliruan. Setidaknya Nurhadi memainkan peran reflektif, sesuai dengan profesinya sebagai tukang urut untuk merelaksasi ketegangan yang memuncak. mungkin kita tengah menuju jalan menuju Indonesia klimaks yang sejahtera, sebagaimana mimpi Eudaimonia dalam kehidupan politik berbangsa. [***]


Yudhi Hertanto
Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

UPDATE

Prabowo Akui Punya DNA India, Suka Bergoyang Kalau Ada Musik

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:09

Pansus DPR Desak Kemendagri Percepat Penyusunan DIM RUU Daerah Kepulauan

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:02

Kapolri Resmikan 80 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau, Total Kini 110 Unit

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:50

KPK Harus Tegas, Pengembalian Amplop Raja Juli Tidak Hapus Dugaan Pidana

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:44

Kejagung Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Tambang PT PMM, Ada Pegawai Bea Cukai

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:43

Prabowo Peluk Erat Modi saat Antar Kepulangannya Menuju India

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:34

Kekuatan Jokowi cuma Uang, Bukan Ideologi

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:32

Memahami Aturan Paspor Diplomatik: Siapa Saja yang Berhak Memilikinya?

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:18

Rekor Baru Messi di Piala Dunia Lewati Maradona

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:17

Ketidakadilan Laga Argentina vs Mesir Bersifat TSM

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:00

Selengkapnya