Berita

Kim Jong-un dan Donald Trump/Net

Dunia

Jendela Dunia

Trump Tak Sabar Ketemu Jong-un

Bahas Nuklir
KAMIS, 03 JANUARI 2019 | 08:35 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Presiden Amerika Serikat Donald Trump tak sabar bertemu lagi dengan Pemimpin Korut Kim Jong-un.

Keinginan Trump diungkapkannya melalui akun Twitter @realDonaldTrump, Selasa (1/1) malam. "Saya juga menantikan pertemuan dengan Pemimpin Tertinggi Kim Jong-un yang menyadari dengan sangat baik bahwa Korea Utara memiliki potensi ekonomi yang besar," cuit Trump seperti dilansir AFP, kemarin.

Pernyataan itu dibuat Trump sembari mengutip salah satu pemberitaan media yang melaporkan pidato Tahun Baru Jong-un. Dalam pidato itu, Jong-un bersumpah tidak akan membuat atau menguji coba senjata nuklir lagi. Dia memastikan bersedia bertemu Trump kapan saja.


"Saya bersedia duduk dengan Presiden Amerika Serikat kapan saja di masa mendatang dan akan berusaha untuk membuat hasil yang akan diterima oleh masyarakat internasional," kata Kim yang mengenakan jas dan dasi.

Tapi dalam pidato itu, Jong-un melontarkan peringatan untuk Amerika. "Jika Amerika Serikat tidak memberikan janjinya dan salah menilai kesabaran rakyat kami, dengan membuat tuntutan sepihak untuk melanjutkan sanksi dan menekan kami, kami tidak memiliki pilihan selain mencari jalan baru untuk melindungi kemerdekaan, kepentingan, dan perdamaian negara di Semenanjung Korea," gertak Jong-un.

Trump sebelumnya sudah mendesak adanya pertemuan kedua dengan Jong-un awal tahun ini. Dalam akun Twitter-nya pada 24 Desember, Trump menyampaikan progres yang dibuat dengan Korut.

Dia dan Jong-un pertama kali bertatap muka Juni 2018 dalam konferensi yang dihelat di Singapura. Kedua pemimpin itu menandatangani dokumen berisikan kesepakatan menuju proses denuklirisasi di Semenanjung Korea. Namun, hingga kini kesepakatan denuklirisasi dianggap tak membuahkan hasil signifikan. Baik Amerika maupun Korut sama-sama kesulitan membuat kemajuan denuklirisasi akibat perbedaan keinginan.

Amerika menginginkan Korut melucuti nuklir sepenuhnya sebelum menghapus semua sanksi yang selama ini dijatuhkan terhadap negara terisolasi itu. Di sisi lain, Pyongyang menginginkan Washington pelan-pelan mencabut sanksi sembari mereka memproses pelucutan senjata nuklir. ***

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Gencatan Senjata Iran-AS Hampir Berakhir, Milisi Irak Siaga Penuh

Selasa, 21 April 2026 | 08:19

Dolar AS Terkoreksi: Investor Mulai Lepas Aset Safe-Haven

Selasa, 21 April 2026 | 08:06

Sinergi BNI dan Perempuan NTT: Mengubah Daun Lontar Menjadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 21 April 2026 | 07:48

Tim Cook Mundur sebagai CEO Apple

Selasa, 21 April 2026 | 07:35

Refleksi 4 Tahun Prudential Syariah: Mengubah Paradigma Deteksi Dini Kanker

Selasa, 21 April 2026 | 07:27

Emas Dunia Masih Sulit Bangkit di Tengah Kenaikan Harga Minyak

Selasa, 21 April 2026 | 07:16

Kerja Sama Polri-PBB Pertegas Posisi RI dalam Misi Perdamaian Dunia

Selasa, 21 April 2026 | 07:10

Bursa Eropa Merah, Sektor Penerbangan Paling Terpukul

Selasa, 21 April 2026 | 07:05

Relawan Protes JK Asal Klaim soal Jokowi Presiden

Selasa, 21 April 2026 | 06:51

Politik Angka vs Realitas Ekologi: Sungai Tak Bisa Dipimpin Statistik

Selasa, 21 April 2026 | 06:29

Selengkapnya