Berita

Ketua Pelaksana Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi, Lieus Sungkharisma/Net

Politik

Lieus: Apakah Polisi Melakukan Hal Yang Sama Terhadap Posko Jokowi-Ma'ruf?

SELASA, 01 JANUARI 2019 | 16:55 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

. Ketua Pelaksana Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi, Lieus Sungkharisma mengecam keras tindakan oknum polisi yang mendatangi Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi NTB dan merobek buku tamu yang ada di meja resepsionis.

"Saya tidak hanya menyesalkan dan mengecam keras tindakan tersebut. Tapi juga meminta Kapolri menindak bawahannya itu. Sebab, jika dibiarkan dan tidak ditindak, tindakan aparat kepolisian NTB itu seolah-olah dapat restu dari atasan," kata Lieus kepada redaksi, Selasa (1/1).

Ditambahkan Lieus, apa yang terjadi di NTB itu memberi kesan kuat bahwa aparat kepolisian tidak bersikap netral dalam Pilpres 2019.


"Apakah hal yang sama juga mereka lakukan terhadap posko pemenangan atau kantor relawan Jokowi-Ma'ruf?" cetusnya.

Menurut Lieus, kedatangan tujuh orang aparat kepolisian ke Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi NTB yang berlokasi di depan gedung Islamic Centre NTB pada Senin (31/12) lalu, telah menimbulkan ketakutan di kalangan relawan.

"Mereka datang katanya ingin bertamu. Tapi tanpa tujuan yang jelas dan tidak dibekali surat tugas. Anehnya kedatangan mereka tanpa lebih dulu mengkonfirmasi pada tuan rumah," ujar Lieus.

Akibatnya, lanjut Lieus, para relawan yang ingin berkunjung ke Rumah Aspirasi mengurungkan niatnya karena mengira sedang ada masalah.

"Teman-teman di sana jadi tidak nyaman," kata Lieus.

Tidak hanya itu, Lieus menduga, apa yang dialami relawan Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi NTB, semakin menguatkan dugaan banyak orang bahwa polisi memang tidak netral dalam Pemilu dan Pilpres 2019.

"Peristiwa berbau intimidasi terhadap relawan Prabowo-Sandi NTB itu, menjadi indikasi kuat ketidaknetralan tersebut," tegasnya.

Jadi, menurutnya, sangat beralasan kalau masyarakat khawatir pada Pilpres 2019 tidak akan berjalan jujur dan adil (Jurdil).

"Sebab, polisi yang seharusnya bersikap netral dan melindungi semua rakyat, justru ikut bermain dan nyata-nyata menjadi pendukung salah satu pasangan capres saja," tuturnya.

"Apa yang dialami kawan-kawan di NTB itu, jelas menunjukkan adanya upaya intimidasi. Tidak sepatutnya aparat kepolisian melakukan hal itu. Rumah Aspirasi NTB itu bukan sarang para penyamun," imbuh Lieus menambahkan. [rus]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

BPOM Terbitkan Aturan Baru untuk Penjualan Obat di Minimarket

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:01

Jaksa KPK Endus Ada Makelar Kasus dalam Kasus Bea Cukai

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:59

Kapolri Dianugerahi Tanda Kehormatan Adhi Bhakti Senapati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:50

Komisi XIII DPR Desak LPSK Lindungi Korban Kasus Ponpes Pati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:39

Pengembangan Koperasi di Luar Kopdes Tetap jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:20

AS Galang Dukungan PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:19

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Komdigi Lakukan Blunder Kuadrat soal Video Amien Rais

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:06

Menteri PU: Pejabat Eselon I Diisi Putra dan Putri Terbaik

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:58

RI Jangan Lengah Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:45

Selengkapnya