Berita

Foto/RMOL

Politik

PDIP Dorong Sistem Pemilu Proporsional Tertutup Untuk Tekan Korupsi Kepala Daerah

KAMIS, 20 DESEMBER 2018 | 21:27 WIB | LAPORAN:

Biaya politik yang mahal disinyalir menjadi salah satu alasan banyaknya operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap para kepala daerah tahun 2018.

Dalam catatan hukum akhir tahun DPP PDI Perjuangan, Ketua Bidang Hukum dan HAM DPP PDI Perjuangan, Trimedya Panjaitan, menyoroti tentang sistem Pilkada langsung. Menurut dia, sistem itu sudah menyebabkan politik berbiaya mahal. Para kepala daerah yang sudah terpilih pun melakukan korupsi untuk menutupi biaya politik yang sudah dikeluarkannya dalam Pilkada.

"Di kampung saya, Tobasa, orang mau jadi bupati itu setidaknya butuh Rp 30 miliar," ungkapnya, dalam Peluncuran Buku Catatan Hukum Akhir Tahun 2018 di Resto Bumbu Desa, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (20/12).


Padahal, lanjutnya, gaji Bupati hanya sebesar Rp 5 sampai 10 juta per bulannya. Kalaupun ditambah dengan tunjangan serta dana taktis, paling-paling seorang Bupati hanya menerima Rp 50 sampai 70 juta per bulannya.

"Bagaimana dia bayarnya (pengeluaran Rp 50 M)?” tanyanya.

Trimedya mengajak semua pihak untuk mempertimbangkan dihapusnya sistem Pemilu langsung yang berbiaya mahal itu. Hal itu juga berlaku untuk pemilihan anggota legislatif dan menggantinya dengan sistem proporsional tertutup.

"Apakah perlu dipertimbangkan kembali pemilihan lewat anggota Dewan dengan cara sistem proporsional tertutup," kata politikus asal Tapanuli ini.

Hadir juga dalam acara itu Ketua Setara Institute Hendardi, dan Guru Besar Hukum Pidana UGM, Eddy O.S Hiariej. [lov]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

Komisi XIII DPR Soroti Perlindungan Hukum Pelaku Usaha yang Tabrak Aturan

Senin, 29 Juni 2026 | 12:22

Ketika Jalanan Pindah ke Dalam Genggaman

Senin, 29 Juni 2026 | 12:07

Gaya Komunikasi Presiden Prabowo Berisiko Menenggelamkan Kinerja Pemerintah

Senin, 29 Juni 2026 | 12:01

KPK Periksa Saksi Swasta dalam Kasus Gratifikasi Produksi Batu Bara di Kukar

Senin, 29 Juni 2026 | 11:54

Harga Bapok Kompak Anjlok, Telur Ayam Turun Jadi Rp28.850/Kg

Senin, 29 Juni 2026 | 11:32

Kasus YTR Jadi Alarm, Garnita NasDem Minta Negara Perkuat Perlindungan Perempuan

Senin, 29 Juni 2026 | 11:15

Safari Politik Jokowi Dibungkus Ritual Adat untuk Dongkrak Publisitas PSI

Senin, 29 Juni 2026 | 11:13

Petugas Haji Masih Bersiaga hingga Kepulangan Kloter Terakhir

Senin, 29 Juni 2026 | 11:07

Kenaikan Beruntun CPO Malaysia Didorong Sentimen Minyak Global

Senin, 29 Juni 2026 | 10:57

Prabowo Ingatkan Ancaman AI, Akademisi Diminta Antisipasi Dampaknya

Senin, 29 Juni 2026 | 10:52

Selengkapnya