Berita

Dunia

Muhammadiyah: Pemerintah Tiongkok Harusnya Melindungi Muslim Uighur

RABU, 19 DESEMBER 2018 | 23:19 WIB | LAPORAN:

Kecaman terhadap kekerasan yang dialami muslim Uighur terus bermunculan. Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyatakan Pemerintah Tiongkok telah melakukan tindakan yang bertentangan dengan perikemanusiaan dan hak asasi manusia universal yang dijamin Perserikatan Bangsa Bangsa.

"Apapun alasannya, Pemerintah Tiongkok tidak dibenarkan melakukan tindakan kekerasan bagi masyarakat yang lemah dan tidak berdosa yang semestinya dilindungi," demikian pernyataan sikap PP Muhammadiyah, Rabu (19/12), yang diterima redaksi.

Kondisi mengenaskan etnis Uighur jadi sorotan media internasional. Mereka mengalami penahanan dalam kamp-kamp reedukasi di Xinjiang. Pemerintah Tiongkok mempekerjakan paksa mereka di kamp-kamp reedukasi tersebut. Para tahanan dipaksa bekerja setelah menjalani indoktrinasi Partai Komunis Cina, dilarang menggunakan bahasa etnis mereka, dan tak boleh menjalankan ritual-ritual agama Islam.


Muhammadiyah menekankan Pemerintah Tiongkok sebaiknya menggunakan pendekatan politik yang elegan dan berorientasi pada kesejahteraan terkait permasalahan muslim Uighur.
Muhammadiyah juga mengimbau Pemerintah Tiongkok untuk membuka diri dengan memberikan penjelasan yang sebenarnya mengenai keadaan masyarakat Uighur dan bekerja sama dengan lembaga-lembaga internasional.
"Penjelasan yang faktual akan memperkecil berbagai opini dan kesimpangsiuran wacana," masih tertulis dalam pernyataan sikap PP Muhammadiyah itu.

Yang lain, Muhammadiyah mendesak PBB dan OKI mengadakan pertemuan darurat membahas masalah Uighur. Dengan begitu PBB dan OKI dapat mengambil tindakan yang diperlukan sesuai dengan ketentuan internasional.

"PBB dan OKI memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan perdamaian dan mencegahsegala bentuk kekerasan di belahan dunia manapu," demikian pernyataan sikap yang diteken Haedar Nashir sebagai ketua umum dan Abdul Mu'ti selaku skretaris umum PP Muhammadiyah.[dem]

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Skandal Hibah Daerah, KPK: Rp83 Triliun Rawan Bancakan

Senin, 20 April 2026 | 12:16

Spirit KAA 1955 Bukan Nostalgia tapi Agenda Ekonomi Global Selatan

Senin, 20 April 2026 | 12:05

Keresahan JK soal Ijazah Jokowi Mewakili Rakyat Indonesia

Senin, 20 April 2026 | 12:01

Lusa, Kloter Pertama Jemaah Haji RI Mendarat di Madinah

Senin, 20 April 2026 | 11:55

Harris Bongkar Peran Netanyahu di Balik Keputusan Perang Trump

Senin, 20 April 2026 | 11:43

Emas Antam Merosot, Ini Harga Terbarunya

Senin, 20 April 2026 | 11:27

Amanah Gandeng Kampus dan Pemda Bangun Ekosistem Pemuda

Senin, 20 April 2026 | 11:25

Tangkapan Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Tembus 6,98 Ton

Senin, 20 April 2026 | 11:06

Wapres AS Kembali Pimpin Delegasi ke Islamabad untuk Negosiasi Iran

Senin, 20 April 2026 | 10:55

Iran Akui Kapalnya Dibajak AS, Ancam Serangan Balasan

Senin, 20 April 2026 | 10:34

Selengkapnya