Berita

Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Daripada Nostalgia

SELASA, 18 DESEMBER 2018 | 05:01 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

TUJUAN akhir saya kali ini: Lebanon. Negeri kecil yang terjepit itu. Israel di selatannya. Syiria di utaranya. Laut di baratnya.
Untung ada langit di atasnya.

Tapi tidak ada penerbangan ke Beirut. Langsung dari Jakarta. Pilihannya sih banyak: lewat Istanbul, Turki. Lewat Dubai. Atau Abu Dhabi. Dua kota di Uni Emirat Arab. Atau lewat Muscat di Oman. Atau lewat Jeddah, Arab Saudi. Masih bisa lewat Cairo, Mesir.

Pilihan saya: lewat Doha. Di Qatar.

Pilihan saya: lewat Doha. Di Qatar.

Sekalian saya ingin tahu: perkembangan terbarunya. Setelah dikucilkan selama dua tahun. Oleh Arab Saudi dan sohibnya: Emirat Arab, Bahrain, Oman dan Kuwait.

Sebenarnya ingin juga lewat Oman. Ingin nostalgia: ke situlah saya ke luar negeri pertama. Dalam hidup saya.

Itu 40 tahun lalu. Saat saya masih wartawan pemula. Harus meliput ketegangan di Salalah. Perbatasan Oman dengan Yaman (Hadramaut).

Sayangnya tidak tiap hari ada penerbangan ke Muscat. Padahal ngiler sekali bisa ke Oman lagi. Mengenang ini: pertama kali tinggal di hotel bintang lima. Intercontinental: saya bawa pulang pernik-pernik hotel itu.

Pertama kali naik helikopter. Milik tentara. Terbang dari Muscat ke Salalah.

Pertama kali tahu dan merasakan sarapan ala Eropa.
Pertama kali merasakan apa itu jetlag. Tidak bisa tidur tengah malam.

Pertama kali naik business class: saya bawa pulang pernik-pernik pesawat.

Semua itu dibayar oleh kerajaan Oman. Yang kaya. Meski termiskin di semenanjung Arabia.

Juga pertama kali saya melakukan liputan bersama lima wartawan asing. Saya tergagap-gagap: cewek-cewek bule itu, wartawati dari Inggris itu, berambut pirang itu, begitu fasih berbahasa Arab. Saya KO.

Saya tidak malu mengakui ini: tidak berani mengajukan pertanyaan. Setiap kali ada momen saya hanya mendengarkan. Mencatat. Toh yang ingin saya tanyakan  sudah terwakili. Sudah ditanyakan oleh wartawati-wartawati yang memperlakukan saya itu.

Pikiran saya pun terbuka: siapa pun berbahasa Arab di Arab. Bukan hanya yang seperti kami yang Islam.

Kemampuan bahasa Arab saya ternyata tidak ada apa-apanya. Hanya bisa membedakan mana itu doa. Dan mana itu pengumuman pramugari yang diucapkan dalam bahasa Arab: jangan merokok di toilet.

Lupakan nostalgia.

Melihat perkembangan Qatar lebih penting.

Qatar. Yang menjadi pusatnya jaringan stasiun televisi Al-Jazeera: CNN-nya Timur Tengah. Yang begitu objektif. Independen. Tidak pernah ‘no signal’. Dalam melihat perkembangan apa pun di dunia Arab. Sampai wartawannya masih di dalam penjara. Di Mesir.

Qatar. Saya juga ingin melihat, ehm, stadionnya. Yang lagi dibangun. Untuk piala dunia 2022. Yang banyak ditentang itu: bagaimana sepakbola dilaksanakan di negara gurun.  Yang suhunya bisa 45 derajat. Pada bulan Juli.

Qatar. Anda sudah tahu: ngotot. Sampai menawarkan ini: membangun empat stadion baru sekaligus. Yang semuanya full AC.

Qatar. Saya sebenarnya masih menunggu tawaran baru Qatar: semua penontonnya diberi tiket pesawat gratis. Juga saat masuk stadion. Tambah voucher hotel. Lalu ada door price Jaguar.

Sayang lembaga sepakbola dunia tidak minta syarat  itu. Keputusan FIFA justru mengagetkan: Demi Qatar Piala Dunia 2022 diubah. Tidak Juli. Diganti Desember. Saat suhu udara Qatar sejuk sekali. Seperti di saat kedatangan saya sekarang ini: 15 derajat.

Maka pertama kali dalam sejarah: Pertama, Pala Dunia di musim dingin. Pertama di benua Arab. Pertama stadion-stadion barunya selesai dibangun lebih cepat: dua tahun sebelum acaranya.

Di Brazil dulu, sehari sebelum pembukaan pun masih ada tukang yang bekerja.

Qatar. Akhir 2018. Saya pun beruntung: bisa makan di pasar tradisional Arab. Di Qatar yang begitu modern.

Qatar. Tentu saya juga ingin melihat ini: apakah Arab Saudi jadi membangun parit. Parit besar. Di sepanjang perbatasannya dengan Qatar. Agar Qatar benar-benar terisolasi: darat, laut, udara. Saking marahnya.

Qatar. Tunggulah besok. [***]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya