Berita

Penulisan karakter tahunan di Jepang/BBC

Global

Satu Kata Untuk Tahun 2018: Bencana

RABU, 12 DESEMBER 2018 | 21:51 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

"Bencana". Kata itulah yang dipilih untuk mewakilkan tahun 2018 bagi warga Jepang.

Stasiun-stasiun televisi Jepang pada hari ini (Rabu, 12/12) menyiarkan pengumuman secara langsung saat tetua dari sebuah kuil kuno di Kyoto menulis istilah "bencana" dalam karakter kanji pada panel putih.

Pemilihan kata itu bukan tanpa alasan. Kata tersebut merupakan kata yang unggul dalam pemungutan suara tahunan publik. Warga Jepang menominasikan karakter kanji ini setelah mengalami sejumlah bencana alam sepanjang tahun 2018 ini.


Kanji Aptitude Testing Foundation yang berbasis di Kyoto telah menjalankan kompetisi untuk menentukan satu kata yang mewaki tahun, setiap tahunnya sejak 1995.

Pada tahun 2017 lalu, kata yang mewakilkan tahun adalah "utara" yang dibuat setelah peluncuran rudal Korea Utara. Kata untuk tahun 2016 adalah "emas" ketika Jepang meraih banyak prestasi di Olimpiade Rio.

Kata tahun ini yang dipilih adalah "bencana". Kata itu lebih banyak dipilih menyusul serangkaian bencana alam yang terjadi di Jepang tahun ini.

Sebut saja banjir, topan, gempa bumi dan gelombang panas pada tahun 2018. Bencana alam tersebut membawa serta penyusutan ekonomi.

Perekonomian Jepang sendiri turun 1,2 persen pada kuartal ketiga tahun ini akibat kerusakan pasca bencana alam.

Dikabarkan BBC, Jepang diketahui mengalami sejumlah bencana alam tahun ini. Banjir menyapu banyak daerah di Jepang pada bulan Juli, menewaskan hampir 200 orang dan menyebabkan evakuasi hampir sembilan juta orang di 23 prefektur.

Di bulan yang sama setidaknya ada 65 orang meninggal dunia dalam gelombang panas yang melihat lebih dari 22.000 orang dirawat di rumah sakit.

Selain itu Jepang juga dihantam oleh Topan Jebi menyerang Jepang barat dengan kecepatan angin hingga 172 km/jam dan merupakan topan terkuat yang menghantam negara itu dalam 25 tahun.

Pulau Hokkaido utara Jepang juga dilanda gempa berkekuatan 6,7 skala Richter, yang memicu tanah longsor pada tahun 2018 ini. [mel]


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya