Berita

Pasca gempa dan tsunami di Palu/Net

Dunia

Ilmuwan Cari Petunjuk Penyebab Tsunami Palu Lewat Pergerakan Dasar Laut

SELASA, 11 DESEMBER 2018 | 13:48 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Para ilmuwan semakin dekat dengan jawaban untuk memahami tsunami yang terjadi di Palu pada akhir September lalu.

Tsunami yang menghancurkan tersebut diketahui dipicu oleh gempa berkekuatan 7,8 skala richter yang terjadi beberapa saat sebelumnya. Meski begitu, para ilmuwan terkejut dengan besarnya gelombang tsunami yang terjadi.

Para ilmuwan menemukan bahwa survei di teluk di Palu menunjukkan penurunan signifikan dari dasar laut. Hal ini mungkin berkontribusi pada pengalihan air secara tiba-tiba yang kemudian jatuh ke darat.


Begitu hasil awal investigasi yang dilaporkan terkait bencana tersebut pada Pertemuan Musim Gugur American Geophysical Union, yang merupakan pertemuan tahunan terbesar ilmuwan bumi dan luar angkasa awal pekan ini.

Laporan tersebut menyebut bahwa gempa terjadi pada apa yang disebut dengan kesalahan "strike-slip", di mana tanah di satu sisi pecah bergerak secara horizontal melewati tanah di sisi lain. Ini bukan konfigurasi yang biasanya terkait dengan tsunami yang sangat besar.

Namun demikian, inilah yang terjadi pada sore hari tanggal 28 September di Palau. Dua gelombang besar air diamati, yang kedua adalah yang terbesar dan mendorong hingga 400 meter ke daratan.

Udrekh Al Hanif, dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Indonesia (BPPT) di Jakarta, mengatakan pada pertemuan tersebut bahwa sumber dari tsunami haruslah sangat dekat dengan kota, karena interval pendek antara awal gempa dan datangnya air yang tinggi yakni kurang dari tiga menit.

Dia dan para koleganya telah mencari jawaban dalam peta (batimetri) kedalaman panjang, saluran masuk sempit yang mengarah ke Palu di ujungnya. Tim masih bekerja melalui hasil yang ada, tetapi data menunjukkan dasar laut di sebagian besar teluk jatuh ke dalam gempa.

Kondisi ini dikombinasikan dengan gerakan tajam dari kerak ke arah utara, yang dianggap bisa menghasilkan tsunami.

"Ketika kita tumpang tindih data batimetrik dari sebelum dan sesudahnya, kita dapat melihat bahwa hampir semua area dasar laut di dalam teluk surut. Dan dari data ini, kita juga dapat mengamati (gerakan) di utara. Jadi, sebenarnya, kami memiliki perpindahan vertikal dan horizontal," sambungnya seperti dimuat BBC.

Namun, apakah kondisi tersebut cukup untuk menjelaskan ukuran tsunami masih terbuka untuk dipertanyakan. Pasalnya, ada bukti beberapa tanah longsor di bawah tanah dalam data yang berpotensi menjadi faktor lainnya.

Kemungkinan lainnya adalah dorongan ke atas dari dasar laut di suatu zona agak jauh dari Palu di mana patahan "strike-slip" terbagi menjadi jalur yang menyimpang.

Gerakan pada kedua lintasan pada saat yang sama mungkin telah memampatkan kerak di antara keduanya.

"Ini adalah peristiwa yang sangat tidak biasa tetapi tektonik memberi tahu kami bahwa itu bisa terjadi lagi," kata Finn Løvholt dari Institut Geoteknik Norwegia.

"Memang, ini bukan pertama kalinya sebuah peristiwa terjadi di Palu. Mungkin ini adalah peristiwa ketiga atau keempat yang telah menyebabkan banyak korban jiwa. Kami mengalami peristiwa di tahun 1960-an dan 1920-an," sambungnya.

Sementara itu Hermann Fritz, dari Institut Teknologi Georgia di Amerika Serikat, mengatakan Palu menunjukkan tantangan yang dihadapi penduduk setempat.

"Tsunami ini tiba sangat cepat, dalam beberapa menit," tambahnya.

"Itu pada dasarnya tidak meninggalkan waktu untuk peringatan. Itu sangat berbeda dari Jepang (pada tahun 2011) di mana ada waktu lebih dari 30 menit di mana-mana sampai orang pertama terbunuh oleh tsunami. Itulah tantangan bagi tsunami lokal ini, orang-orang harus mengevakuasi diri sendiri," jelasnya. [mel]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Steve Hanke Ungkit Lagi Keputusan IMF 1998, Klaim Rupiah Bisa Setara Dolar AS

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:12

Gibran Ingin Generasi Muda Jadi Perekat Persatuan Bangsa

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:06

Komut Pertamina Mochamad Iriawan Pastikan Kesiapan SAF dan Operasional B50 di Jawa Timur

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:57

Wall Street Berpesta! Dow Cetak Rekor

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:53

Nasib Nadiem Ditentukan di Sidang Vonis Hari Ini

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:42

Kekayaan AHY Naik Hampir Enam Kali Lipat, Kini Tembus Rp118,65 Miliar

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:29

STOXX 600 Menguat Tipis, Saham Teknologi dan Energi Topang Bursa Eropa

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:24

Jerman Tumbang, Paraguay Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:14

Pimpin BEI 2026-2030, Jeffrey Hendrik Targetkan Pasar Modal Indonesia Tembus 10 Besar Dunia

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:02

Dana GCA Diklaim Bisa Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 30 Juni 2026 | 06:48

Selengkapnya