Berita

Global

Pasca Penangkapan Pilot Mabuk, Bos Japan Airlines Potong Gaji 20 Persen

SENIN, 03 DESEMBER 2018 | 11:59 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Bos maskapai penerbangan Japan Airlines (JAL), Yuji Akasaka secara sukarela memotong gajinya sebesar 20 persen selama tiga bulan pasca kasus penangkapan pilot JAL karena kedapatan mabuk di Inggris.

Gaji Akasaka akan dipotong 20 persen mulai bulan ini dan seterusnya. Dia juga secara sukarela mengembalikan 20 persen dari gajinya untuk bulan sebelumnya.

Diumumkan pihak perusahaan akhir pekan kemarin, sejumlah eksekutif top lainnya di JAL juga telah melakukan pemotongan gaji secara sukarela.


Perusahaan itu mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihak JAL dengan tulus meminta maaf atas ketidaknyamanan dan tekanan yang berlebihan yang disebabkan kepada semua yang terlibat atas kejadian pilot mabuk tersebut.

Lebih lanjut, seperti dimuat Channel News Asia, pihak JAL berjanji untuk membentuk kebijakan manajemen yang efektif dan ketat untuk mencapai kepatuhan penuh di semua tingkatan untuk mencegah terulangnya hal yang sama.

Diketahui bahwa pada bulan Oktober kemarin, seorang pilot JAL berusia 42 tahun ditangkap di Inggris karena mabuk sesaat sebelum penerbangan di Bandara Heathrow, London.

Tes pada Katsutoshi Jitsukawa dilakukan 50 menit sebelum penerbangan mengungkapkan ada 189 miligram alkohol per 100 mililiter darah dalam sistemnya. Jumlah itu hampir 10 kali lipat dari batas 20 miligram untuk seorang pilot.

Katsutoshi mengaku minum dua botol anggur dan lebih dari 1,8 liter bir lebih dari enam jam malam sebelum dia dijadwalkan menjadi bagian dari awak Penerbangan JL44 dari London ke Tokyo.

Dia dijatuhi hukuman 10 bulan penjara oleh pengadilan Inggris. [mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya