Berita

Nasaruddin Umar/Net

Peristiwa Kontroversi Yang Dilakukan Nabi & Sahabat (17)

Memandikan & Menshalati Mayat Non-Muslim

KAMIS, 15 NOVEMBER 2018 | 08:42 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

KETIKA paman Nabi Muhammad Saw, yakni Abu Thalib meninggal dunia, ia memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk memandikan orang tuanya. (HR. Baihaqi). Seperti kita ketahui bahwa orang-orang paling dekat Nabi belum sempat mengu­cap dua kalimat syahadat hingga wafat ialah kakeknya, Abdul Muthalib dan pamannya, Abu Thalib. Keduanya sangat menyayangi Nabi sepenuh hati. Nabi sangat se­dih karena kedua orang terdekatnya belum sem­pat mengucapkan dua kalimat syahadat walau­pun sangat meyakinkan keduanya sudah sangat Islami. Ada juga kerabat dekat Nabi tidak sempat mengucapkan syahadat tetapi Nabi tidak berse­dih, seperti Abu Jahal, yang sepanjang hidupnya selalu berusaha untuk melenyapkan Nabi. Ri­wayat ini dijadikan dalil bolehnya seorang mus­lim mengurus jenazah orang-orang non-muslim, termasuk memandikannya, sebagaimana petun­juk Nabi diberikan kepada Ali Ibn Abi Thalib.

Apakah boleh menshalati orang-orang non-muslim? Pertanyaan ini masih kontroversi kar­ena ada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, ketika Nabi mend­engar wafatnya Raja Najasy, maka Nabi me­merintahkan sahabatnya untuk shalat gaib em­pat kali takbir di masjidnya untuk kematian raja Habasyah tersebut, seraya memohonkan doa (HR Bukhari No. 3880-3881). Riwayat dari jalur Imam Muslim juga hampir sama redaksinya.

Meskipun hadisnya shahih tetapi masih tetap kontroversi karena satu sisi Nabi memerintahkan menshalati orang yang belum jelas keislamannya sementara ada ayat Al-Qur’an yang melarang untuk menshalati orang non-muslim yaitu: "Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di ku­burnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepa­da Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik". (Q.S. al-Taubah/9:84).


Kontroversi lainnya ialah apakah Raja Nejasy sudah muslim atau belum? Sebagian ulama mengatakan formalnya belum muslim tetapi rasa cintanya terhadap Islam dan Nabi Muham­mad sudah seperti umat Islam lainnya. Hanya saja beliau dikelilingi warga non-muslim maka beliau tidak menegaskan keislamannya. Ulama lainnya mengatakan beliau sudah muslim dan juga sudah bersyahadat hanya belum sempat menjalankan syari'ah Islam.

Pendapat lain mengatakan, shalat gaib seperti ini hanya untuk Raja Najasy sendiri tidak un­tuk orang lain, mengingat sejarah panjang Na­jasy yang sudah mempertaruhkan jiwa-raganya untuk membela kepentingan Islam di negerinya, sehingga Nabi memberikan apresiasi khusus kepadanya. Raja Najasy bernama Al-Shamah pernah lolos dari kematian dan pernah dibuang di negeri lain karena ia sebagai anak tunggal yang masih kecil. Dikhawatirkan kalau mewarisi tahta ayahnya tidak mampu memimpin negerin­ya dengan baik. Mereka meminta tampuk kera­jaan diberikan kepada saudara Bapaknya yang memilki banyak anak. Sejarah menghendaki lain, Al-Shamah akhirnya didaulat juga menjadi raja setelah terjadi peristiwa alam yang melan­da Habasyah. Al-Shamah memimpin dengan adil dan negerinya makmur. Namun ia meneri­ma utusan Nabi Muhammad Saw yaitu 'Amr bin 'Ash dan Abdullah bin Abi Rabi'ah. Raja Najash betul-betul terpesona terhadap Islam dan Nabi Muhammad yang diperkenalkan oleh kedua tokoh ini. Bahkan, ia menjanjikan kerjasama khusus dengan Nabi Muhammad Saw. Belum sampai terwujud semuanya, akhirnya ia menin­ggal. Nabi pun mengapresiasi dengan mengan­jurkan sahabatnya untuk shalat gaib untuknya.

Dari pengalaman di atas, menjadi pelajaran bagi kita para umatnya bahwa non-muslim pun perlu mendapatkan perhatian dan penghorma­tan, bukan saja pada saat mereka hidup tetapi sampai sesudah wafat. Ada sebuah qaul men­gatakan: Al-mayyit haq Allah (mayat itu hak Al­lah). Dalam hadis juga pernah dikatakan: Me­matahkan tulang rusuk mayat sama dosanya dengan mematahkan tulang rusuk ketika ia masih hidup. Dalam riwayat ini tidak dibeda­kan apapun agama dan kepercayaan orang itu. Berdosa massal suatu kampung jika menyaksi­kan mayat yang tidak diurus, sehingga mayat itu dimakan binatang buas. Allahu A'lam.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

UPDATE

Irjen Slamet Uliandi Tersangka Keempat Kasus Penyadapan Telepon Prabowo

Jumat, 06 November 2026 | 02:03

Dzulfikar dan Fuji Abdul Tekankan Intelektualisme Pemuda untuk Pengabdian Bangsa

Jumat, 06 November 2026 | 01:31

Pramono Bertahap Menata Parkir Liar hingga Fasilitas Tanah Abang

Jumat, 06 November 2026 | 01:17

Kalau Hasil Labfor Polri Diragukan, Siapa Lagi yang Mau Dipegang?

Jumat, 06 November 2026 | 01:05

Menjaga Riau dari Ancaman Karhutla Lewat Mitigasi Berkelanjutan

Jumat, 06 November 2026 | 00:32

PPKK Perkuat Pengamanan Kawasan Kemayoran

Jumat, 06 November 2026 | 00:17

Tunjukkan Ijazah di Pengadilan Belum Tentu Akhiri Polemik

Jumat, 06 November 2026 | 00:08

Listyo Sigit Cs Pakai Mesin Sadap Seharga Rp212 Miliar

Kamis, 05 November 2026 | 23:39

Gratis Masuk Ancol Bulan November, Cek Caranya

Kamis, 05 November 2026 | 23:12

Jokowi Menolak Ijazah Diuji Ulang, Pengamat: Apa karena Kapolri sudah Diganti?

Kamis, 05 November 2026 | 23:01

Selengkapnya