Berita

Kesehatan

BPOM-OKI Gelar Diskusi Pengembangan Dan Pengawasan Obat

SELASA, 13 NOVEMBER 2018 | 16:34 WIB

Indonesia akan jadi tuan rumah The First Meeting of the Heads of National Medicines Regulatory Authorities/NMRAs of the OIC Member States atau Pertemuan Otoritas Regulatori Obat (National Medicines Regulatory Authorities/ NMRAs) antaranggota Organisasi Kerja Sama Islam atau OKI pada 21-22 November 2018 di Jakarta, membahas kerjasama farmasi.

Acara ini diselenggarakan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia untuk mendorong terciptanya solidaritas di kalangan negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dalam hal capacity building, pengembangan, dan pengawasan obat.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Penny Lukito saat berbincang dengan wartawan di Jakarta, Selasa (13/11), mengatakan kemitraan dalam bidang farmasi sangat penting untuk negara-negara Muslim yang tergabung dalam OKI.


"Saat ini, dari 57 negara anggota OKI, hanya tujuh negara yang memiliki kapasitas produksi vaksin yang memadai. Ada pun negara-negaranya, Iran, Senegal, Uzbekistan, Bangladesh, Tunisia, Mesir, dan Indonesia," kata Penny.

Sementara, banyak negara anggota OKI lainnya yang masih mengimpor vaksin dari luar negara anggota karena satu dan lain hal.

Dari latarbelakang itu, Indonesia telah menginisiasi pembentukan forum kepala Otoritas regulatori obat kepada OKI.

Menurut Kepala BPOM, terdapat sambutan baik atas usulan itu sehingga ini Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan perdana "The First Meeting of the Heads of National Medicines Regulatory Authorities of the OIC Member States."

Pada 2017, kami ditunjuk sebagai 'center of excellence' untuk farmasi di antara anggota OKI. Di sinilah tugas BPOM jadi penting," kata dia.

Melalui acara ini, kata Penny, BPOM berkomitmen menjadi garda terdepan dalam membantu pengembangan kapasitas produksi dan pengawasan obat-obatan serta membuka akses obat dan vaksin yang berkualitas bagi negara anggota OKI yang masih dikepung kecamuk konflik horizontal.

"Harapannya, solidaritas akan terbangun sehingga Indonesia dan negara-negara OKI yang lain bisa berkembang bersama-sama melalui bidang pengembangan dan pengawasan obat," tegasnya.

Penny mengatakan hingga saat ini belum ada forum khusus untuk Otoritas Regulatori Obat di antara negara-negara OKI.

Padahal, kata dia, perlu agar ada sinergi antarnegara OKI untuk memastikan obat termasuk vaksin yang digunakan masyarakat memenuhi persyaratan khasiat, keamanan dan mutu.

"Indonesia bisa berkontribusi banyak di antara anggota NMRAs. Terlebih Indonesia memiliki kontribusi kepemimpinan intelektual di bidang obat di antara anggota OKI. Kita memiliki Bio Farma yang sudah mengekspor produknya ke 141 negara dengan 50 di antaranya negara anggota OKI," tegasnya. [rry]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

UPDATE

Rakornas BEM KSI Bawa Misi Besar

Jumat, 21 Agustus 2026 | 20:08

BNPB Catat 8 Provinsi Terjadi Karhutla Selama 2 Hari, Wilayah IKN Jadi Prioritas

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:52

Menkop Dorong Anak Muda Malang Bentuk Koperasi untuk Perkuat Usaha

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:51

Gus Yaqut Seret Pemerintah Arab Saudi demi Bantah Dakwaan KPK

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:48

Kinerja Menhut Atasi Karhutla Dipertanyakan, Hukum Cuma Tajam ke Bawah?

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:34

BRI Group Kelola Ekosistem Emas 153 Ton melalui Ekosistem Ultra Mikro

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:23

Belajar dari Kehancuran Harappa

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:09

Pertarungan Para King Maker dan Super-Konektor Belakang Layar Pilpres 2029

Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:29

Petinggi PT Pakuwon Jati Diperiksa KPK

Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:28

Semua Elemen Masyarakat Harus Jaga Jakarta Tetap Kondusif

Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:05

Selengkapnya