Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Humor Tidak (Selalu) Lucu

KAMIS, 08 NOVEMBER 2018 | 06:56 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SAMBIL studi seni musik, seni rupa, pendidikan dan manajemen di Jerman, saya sempat mencari nafkah sebagai kartunis pada beberapa surat kabar Jerman. Saya menikmati suasana kebebasan pers di Jerman sehingga leluasa berkarya kartun tanpa disensor sampai pada suatu hari saya membuat serial kartun dengan tokoh malaikat dan iblis.

Gara-gara kartun malaikat dan iblis itu untuk pertama kali saya disensor oleh redaksi surat kabar di mana saya bekerja. Saya protes ke redaksi dengan alasan bahwa kartun saya merupakan karya humor yang lucu. Redaksi menjelaskan bahwa mereka terpaksa menolak sebab menurut pendapat mereka , kartun malaikat dan iblis  tergolong humor yang tidak lucu.

Humorologi


Penolakan terhadap serial kartun malaikat dan iblis akibat redaksi koran Jerman   menafsirkannya sebagai humor tidak lucu membuat saya penasaran. Maka saya mulai melakukan penelitian terhadap apa sebenarnya yang disebut sebagai humor. Berdasar hasil penelitian humorologi dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya saya keliru apabila meyakini humor pasti lucu.

Apa yang disebut sebagai humor memang tidak selalu mutlak secara pasti terkait dengan apa yang disebut sebagai lucu. Dari sisi bahasa dapat disadari bahwa humor tergolong kata benda sementara lucu tergolong kata sifat seperti halnya lukisan tergolong kata benda dan indah tergolong kata sifat.

Indah-tidak-indahnya sebuah lukisan tergantung selera manusia yang memandangnya maka lucu-tidak-lucunya sebuah humor tegantung selera manusia yang menafsirkannya.

Suatu humor menjadi lucu apabila manusia menafsirkannya sebagai lucu namun menjadi tidak lucu apabila manusia menafsirkannya sebagai tidak lucu. Kartun malaikat dan setan menjadi lucu akibat saya menafsirkannya sebagai lucu sementara kartun yang sama menjadi tidak lucu akibat redaksi surat kabar di mana saya bekerja menafsirkannya sebagai tidak lucu.

Terpaksa saya harus ikhlas menerima kenyataan tidak lucu bahwa redaksi memang lebih berkuasa ketimbang kartunis maka redaksi berhak menolak kartun saya yang mereka anggap tidak lucu.

Demokrasi

Berdasar hasil penelitian humorologi tentang fenomena humor tidak lucu dapat dimengerti bahwa guyonan “Tampang Boyolali” bagi Prabowo Subianto merupakan suatu bentuk humor yang lucu. Namun di sisi lain juga dapat dimengerti bahwa guyonan yang sama langsung menjadi humor yang sama sekali tidak lucu bagi mereka yang memiliki selera tidak sama dengan Prabowo Subianto.

Perbedaan tafsir terhadap humor  juga dapat pula dimengerti dengan kesadaran bahwa pada hakikatnya perbedaan pendapat merupakan konsekuensi Orde Reformasi yang menghadirkan bukan keseragaman namun perbedaan pendapat justru sebagai sukma hakiki masyarakat demokrasi.

Namun perbedaan pendapat bukan berarti hukumnya wajib harus menjadi konflik sebab senantiasa dapat diselaraskan secara musyawarah-mufakat dengan perkenan saling mengerti, saling menghormati, saling menghargai dan saling memaafkan. Syukur Alhamdullilah, secara kesatria Prabowo Subianto telah mengawali proses musyawarah mufakat dengan legowo menyatakan permohonan maaf atas guyonan “Tampang Boyolali” yang dianggap sebagai humor tidak lucu oleh pihak yang merasa tersinggung akibat guyonan tersebut.

Penulis adalah pendiri Pusat Studi Humorologi dan Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

Komisi XIII DPR Soroti Perlindungan Hukum Pelaku Usaha yang Tabrak Aturan

Senin, 29 Juni 2026 | 12:22

Ketika Jalanan Pindah ke Dalam Genggaman

Senin, 29 Juni 2026 | 12:07

Gaya Komunikasi Presiden Prabowo Berisiko Menenggelamkan Kinerja Pemerintah

Senin, 29 Juni 2026 | 12:01

KPK Periksa Saksi Swasta dalam Kasus Gratifikasi Produksi Batu Bara di Kukar

Senin, 29 Juni 2026 | 11:54

Harga Bapok Kompak Anjlok, Telur Ayam Turun Jadi Rp28.850/Kg

Senin, 29 Juni 2026 | 11:32

Kasus YTR Jadi Alarm, Garnita NasDem Minta Negara Perkuat Perlindungan Perempuan

Senin, 29 Juni 2026 | 11:15

Safari Politik Jokowi Dibungkus Ritual Adat untuk Dongkrak Publisitas PSI

Senin, 29 Juni 2026 | 11:13

Petugas Haji Masih Bersiaga hingga Kepulangan Kloter Terakhir

Senin, 29 Juni 2026 | 11:07

Kenaikan Beruntun CPO Malaysia Didorong Sentimen Minyak Global

Senin, 29 Juni 2026 | 10:57

Prabowo Ingatkan Ancaman AI, Akademisi Diminta Antisipasi Dampaknya

Senin, 29 Juni 2026 | 10:52

Selengkapnya