Berita

Foto: MAP

Dunia

Jelang Pertemuan Jenewa, Menlu Maroko Bertemu Presiden Mauritania

SENIN, 05 NOVEMBER 2018 | 09:38 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Menteri Luar Negeri Maroko Nasser Bourita, hari Jumat lalu (2/11) diterima Presiden Mauritania, Mohamed Ould Abdel Aziz, di Istana Negara di  Nouakchott.

Dalam pertemuan itu, Menlu Bourita membawa pesan khusus dari Raja Muhammad VI.

Dalam pernyataan bersama di akhir pertemuan, Menlu Bourita mengatakan pesan khusus yang dibawanya dalam pertemuan dengan Presiden Abdel Aziz terkait dengan hubungan bilateral kedua negara dan situasi di kawasan.


Kedua kepala negara, sebutnya, memiliki keinginan yang sama untuk meningkatkan hubungan kedua negara ke level yang sepantasnya. Terlebih, Maroko dan Mauritania adalah dua negara yang memiliki hubungan kuat sejak lama dan masyarakat kedua negara merupakan saudara.

Kunjungan Menlu Bourita menyusul Resolusi 2440 Dewan Keamanan PBB mengenai sengketa Sahara Barat. Dalam Resolusi 2440 Polisario, Aljazair dan Mauritania diminta untuk memberikan respon positif untuk berpartisipasi dalam pertemuan di Jenewa tanggal 5 dan 6 Desember mendatang.

Sengketa Sahara Barat dipicu oleh klaim Polisario atas wilayah Sahara di selatan Maroko. Polisario didirikan pada tahun 1973 di Kamp Tindouf, Aljazair. Awalnya milisi bersenjata ini berjuang bahu membahu untuk membebaskan Sahara dari kolonialisasi Spanyol.

Pada November 1975, menyusul krisis di dalam negeri, Spanyol memutuskan untuk menarik diri dari Sahara. Kepergiaan Spanyol ini diikuti klaim Mauritania juga Polisario yang didukung Aljazair atas sebagian wilayah yang ditinggalkan itu.

Pada tahun 1979, Mauritania memutuskan untuk mencabut klaimnya atas tanah yang dipersengketakan. Adapun Polisario yang dipengaruhi dan dilindungi serta dipersenjatai Aljazair mempertahankan klaimnya. Pertempuran antara Maroko melawan Polisario yang didukung Aljazair berlangsung hingga gencatan senjata di tahun 1991.

Wilayah yang dikenal sebagai Sahara Barat adalah milik Maroko jauh sebelum Perjanjian Fez 1912 ditandatangani antara Maroko, Prancis dan Spanyol. Dalam perjanjian itu, Prancis menjadi pelindung silayah utara Maroko. Sementara Spanyol menduduki wilayah selatan Maroko dan dua kantong di utara di sisi Mediterania. [dem]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kemendag: Wajib Halal Bukan Pelarangan Impor

Sabtu, 26 September 2026 | 06:30

Baznas dan Komite Bantuan Kepresidenan Palestina Perkuat Kerja Sama Kemanusiaan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:12

Instruksi Prabowo soal Kuliah Gratis PTN Harus Diprioritaskan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:00

Serba ‘Tidak’ di Sidang Gibran

Sabtu, 26 September 2026 | 05:41

Cuma Tambah Dua Perunggu, Peringkat Indonesia Merosot

Sabtu, 26 September 2026 | 05:17

Jalur Sepeda Jangan cuma Jadi Pajangan

Sabtu, 26 September 2026 | 05:00

Benarkah Pengganti Gibran Sudah Ada?

Sabtu, 26 September 2026 | 04:29

Korlantas Polri Luncurkan Empat Inovasi Digital

Sabtu, 26 September 2026 | 04:18

Jangan Istimewakan Oknum DPRD Diduga Bakar Lahan

Sabtu, 26 September 2026 | 04:00

Kepala BNPB Minta Maaf soal Karhutla: Klarifikasi Istilah 'Normal'

Sabtu, 26 September 2026 | 03:46

Selengkapnya