Berita

Barisan Banser NU Apel Kebangsaan di Jakarta, 18 April 2017/Net

Politik

NU Tinggalkan Khittah, Banser Yang Dapat Getah

SELASA, 30 OKTOBER 2018 | 20:06 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Aksi protes terhadap Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama yang meluas ke berbagai kota di Indonesia merupakan akumulasi ekspresi kekecewaan publik terhadap sengkarut penegakkan hukum di Tanah Air.
 
Banser menjadi sasaran karena merupakan badan otonom dalam struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang secara struktural-organisatoris dianggap sudah menjadi bagian dari rezim penguasa, yang ditengarai publik, terutama aparat hukumnya seperti kepolisian, kurang berwawasan keadilan dan kesetaraan dalam menegakkan hukum.
 
Demikian disampaikan Ketua Umum Perkumpulan Swing Voter (PSV) Adhie M Massardi kepada wartawan di Jakarta, Selasa (30/10). Hal itu disampaikan Adhie menanggapi kian meluasnya aksi massa umat Islam memprotes Banser pasca insiden pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid saat acara peringatan Hari Santri di Garut, Jawa Barat.


"Jadi pembakaran bendera tauhid itu hanya pemicu meluapnya kekecewaan masyarakat terhadap proses silang-sengkarutnya penegakkan hukum di negeri ini, soal rasa keadilan masyarakat," ujar Jurubicara Presiden era KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini.
 
Adhie melihat persamaan kasus pembakaran bendera tauhid ini dengan peristiwa penistaan ayat 51 Surat Al-Maidah oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tempo hari.
 
Jutaan massa di berbagai kota yang turun ke jalan kala itu, menurut Adhie bukan semata karena kemarahan kitab suci agamanya dinista. Surat Al-Maidah 51 itu hanya pemicu. Rakyat bergerak karena geram melihat arogansi Ahok dalam menghardik dan menggusur rakyat kecil, juga 'kebal hukumnya' bekas gubernur DKI itu, yang bahkan bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak mengindahkan temuan-temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam serangkaian dugaan skandal korupsi di Balai Kota.
 
Itu sebabnya imbauan para ulama terkemuka untuk memaafkan Ahok, katanya, tidak digubris massa yang terus beraksi sampai hukum kemudian 'terpaksa' memvonis pasangan Joko Widodo dalam merebut tahta kekuasaan tertinggi di DKI Jakarta itu.

"Nah, kasus pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid oleh anggota Banser setali tiga uang. Argumentasi panjang lebar dengan mengutip berbagai hadist, juga penjelasan bahwa ada HTI di balik bendera itu, menjadi tidak penting lagi. Banser sudah dianggap kepanjangan tangan rezim penguasa karena menjadi instrumen politik NU di ranah publik. Apalagi Banser juga dianggap hadir dalam sejumlah kegiatan persekusi," tutur Adhie.

Untuk mengeliminasi dan menghentikan kasus yang kontraproduktif bagi kemaslahatan umat, Adhie menyarankan PBNU secara organisatoris mengumumkan kembali ke Khittah 1926. Artinya, sebagai ormas keagamaan, NU kembali berada di sudut netral setelah meninggalkan Khittah dan masuk ke ranah politik kekuasaan.

"Konsekuensi dari kembali ke Khittah ini, semua pejabat tinggi dalam struktur PBNU yang secara resmi menggunakan organisasi dan kantor (PB) NU untuk kepentingan politik praktis (perebutan kekuasaan), seperti diungkapkan Mahfud MD secara blak-blakan dalam acara ILC di televisi nasional, harus mundur," tambah Adhie.

Dengan begitu, katanya, di pentas politik nasional NU melenggang dengan marwah yang dominan sebagaimana saat dipimpin Gus Dur era 1984-1999.

Ketika itu, secara cerdas, konseptual, kontekstual, dan komprehensif, Gus Dur mengimplementasikan Ahlus-Sunnah wal-Jamaah (Aswaja) dari akidah keagamaan ke dalam perjuangan sosial-politik kemasyarakatan yang didasarkan atas prinsip tawasuth (moderat, di tengah), tawazun (seimbang, tidak berpihak), i'tidal(tegak lurus, obyektif), dan tasamuh (menghormati perbedaan).

"Kalau hal ini dilakukan NU, bukan hanya Banser yang akan selamat dari stigma negatif, tapi bangsa ini akan sngat beruntung karena netralitas NU dalam politik nasional akan mengurangi polarisasi secara signifikan," jawab Adhie.
 
Lalu bagaimana cara mengembalikan NU ke Khittah 1926?
 
"Di NU itu banyak kiai bijak dan cerdas, yang kalau mau bisa dengan mudah mengembalikan NU ke jalan kebenaran yang dirintis para pendirinya," pungkas Adhie Massardi.[dem]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kemendag: Wajib Halal Bukan Pelarangan Impor

Sabtu, 26 September 2026 | 06:30

Baznas dan Komite Bantuan Kepresidenan Palestina Perkuat Kerja Sama Kemanusiaan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:12

Instruksi Prabowo soal Kuliah Gratis PTN Harus Diprioritaskan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:00

Serba ‘Tidak’ di Sidang Gibran

Sabtu, 26 September 2026 | 05:41

Cuma Tambah Dua Perunggu, Peringkat Indonesia Merosot

Sabtu, 26 September 2026 | 05:17

Jalur Sepeda Jangan cuma Jadi Pajangan

Sabtu, 26 September 2026 | 05:00

Benarkah Pengganti Gibran Sudah Ada?

Sabtu, 26 September 2026 | 04:29

Korlantas Polri Luncurkan Empat Inovasi Digital

Sabtu, 26 September 2026 | 04:18

Jangan Istimewakan Oknum DPRD Diduga Bakar Lahan

Sabtu, 26 September 2026 | 04:00

Kepala BNPB Minta Maaf soal Karhutla: Klarifikasi Istilah 'Normal'

Sabtu, 26 September 2026 | 03:46

Selengkapnya