Berita

Sri Mulyani/Net

Politik

Sri Mulyani Vs James Riady

SELASA, 23 OKTOBER 2018 | 09:40 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

BEDA Sri Mulyani, beda James Riady. Sri Mulyani menyatakan bahwa pelemahan rupiah menguntungkan APBN. Namun bagi James Riyadi dan perusahaannya,  pelemahan rupiah adalah bencana bagi perusahaan-perusahaannya.

Mengapa demikian? Bagi korporasi pelemahan rupiah terhadap dolar AS mengakibatkan tiga hal. Pertama, penguatan nilai mata uang dolar disebabkan oleh peningkatan terlebih dahulu suku bunga global khususnya Bank Centeral Amerika Serikat. Akibatnya, beban bunga utang korporasi meningkat.

Kedua, meningkatnya utang perusahaan dalam dolar AS berkali-kali lipat jauh dibandingkan nilai utang yang telah mereka investasikan sebelumnya. Sementara ketiga, pemelahan nilai tukar rupiah memicu peningkatan suku bunga di Indonesia, yang mengakibatkan utang perusahaan meningkat kepada bank nasional.


Sebagaimana diketahui Lippo banyak sekali membuat global bond dalam rangka menopang bisnisnya di semua lini. Bagi perusahaan itu hal biasa. Semakin mudah mendapatkan utang, maka itu berarti bisnisnya makin dipercaya. Semakin laris surat utangnya, berarti mencerminkan usahanya sedang jaya.

Namun sehat atau tidaknya posisi keuangan Lippo sangat ditentukan oleh kondisi stabilitas moneter. Jika kondisi moneter stabil, maka perusahaan bisa terus berjaya. Sementara jika stabilitas moneter terganggu, maka bisa menjadi neraka bagi perusahaan.

Itulah yang terjadi pada Lippo. Pada tahun 2015 perusahaan menderita akibat pelemahan rupiah yang saat itu mencapai kondisi terburuk sepanjang tahun pada posisi Rp 13.800 per dolar AS.

Seluruh keuntungan dari bisnis rumah sakit dan lain-lain disapu oleh utang sektor properti akibat buruknya kinerja keuangan Lippo Karawaci. Peringkat keuangan Lippo jatuh sejak saat itu.

Sekarang Lippo menghadapi masalah serius dengan keuangan Meikarta, di saat masalah keuangan properti di Lippo Karawaci belum selesai. Meikarta menghadapi masalah negatif bukan hanya karena munculnya tindakan hukum mitra mereka yang menagih utang, namun pembangunan di Meikarta sebenarnya telah berhenti karena beban keuangan.

Lippo Group telah menjual sebagian dari 50 persen kepemilikan sahamnya di Meikarta kepada investor, sementara investor China yang tidak mau disebutkan namanya telah menarik diri karena unit target penjualan tidak terpenuhi.

Masalah-masalah ini memicu spekulasi tentang kondisi keuangan Grup Lippo itu sendiri yang disimpulkan buruk. Apalagi kurs sudah 15 ribu lebih per dolar AS. Bagaimana caranya perusahaan ini bisa bertahan?

Sekarang Lippo harus menghadapi masalah hukum dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akibat masalah penyuapan dalam rangka memperoleh konsesi lahan, yang menambah masalahnya pada titik paling krusial dan menciptakan alasan yang benar benar kuat bagi penutupan total perusahaan, karena nama pimpinannya diseret-seret.

Walaupun sebetulnya perusahaan sudah tidak sanggup menjual properti karena daya beli masyarakat yang memang sedang jatuh dan tidak mampu menjangkau suku bunga.

Apa yang dialami Lippo adalah salah satu dari bola salju masalah sektor properti yang jatuh yang akan diikuti oleh bola salju yang lain dalam waktu yang tidak begitu lama.

Mengapa karena pemerintah sebagaimana dikatakan Sri Mulyani memandang bahwa pelemahan rupiah menguntungkan APBN. Pelemahan rupiah menimbulkan peningkatan penerimaan negara dari ekspor sumber daya alam migas dan lainnya. Pelemahan rupiah menimbulkan peningkatan penerimaan negara dari utang yang diterima dalam dolar Amerika Serikat.

Jadi apa yang dilakukan Presiden Jokowi dan Sri Mulyani dalam kebijakan makro ekonomi mereka adalah jurus yang efektif dalam mengakhiri dominasi para penembang dalam menguasai tanah dan properti Indonesia.

Apakah itu yang menjadi tujuan Pemerintah Jokowi? Sampai kapan pertarungan ini akan berakhir? Sangat bergantung pada kuatnya tinju Jokowi dan kemana tinju itu diarahkan sampai akhir 2018. [***]

Penulis adalah peneliti dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)


Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

UPDATE

11 Juta PBI BPJS Dihapus, Strategi Politik?

Jumat, 13 Februari 2026 | 06:04

Warga Jateng Tunda Pembayaran Pajak Kendaraan

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:34

Kepemimpinan Bobby Nasution di Sumut Gagal

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:19

Boikot Kurma Israel

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:09

7 Dugaan Kekerasan Berbasis Gender Ditemukan di Lokasi Pengungsian Aceh

Jumat, 13 Februari 2026 | 04:33

Pengolahan Sampah RDF Dibangun di Paser

Jumat, 13 Februari 2026 | 04:03

Begal Perampas Handphone Remaja di Palembang Didor Kakinya

Jumat, 13 Februari 2026 | 04:00

Jokowi Terus Kena Bullying Tanpa Henti

Jumat, 13 Februari 2026 | 03:34

4 Faktor Jokowi Ngotot Prabowo-Gibran Dua Periode

Jumat, 13 Februari 2026 | 03:10

Rano Gandeng Pemkab Cianjur Perkuat Ketahanan Pangan Jakarta

Jumat, 13 Februari 2026 | 03:09

Selengkapnya