Berita

Hashim Djojohadikusumo/Net

Wawancara

WAWANCARA

Hashim Djojohadikusumo: Sudahlah, Semua Survei Itu Pesanan Sponsor, Kami Bisa Memahaminya Kok

SENIN, 22 OKTOBER 2018 | 08:39 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Baru-baru ini Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survei nasional terkait elektabilitas capres-cawapres. Hasilnya duet Jokowi-Ma'ruf Amin mengungguli Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Dalam survei tersebut, setidaknya 60,4 persen memilih Jokowi-Ma'ruf, sementara Prabowo-Sandi hanya didukung oleh 29,8 persen responden. Sisanya sebanyak 9,8 persen responden merahasiakan pilihannya.

Sebelumnya Lingkaran Survei Indonesia juga menyigi hal yang sama. Hasilnya sebanyak 58,6 persen responden memi­lih Jokowi-Ma'ruf, sedangkan Prabowo-Sandi hanya disokong 25,7 persen responden, sisanya menyatakan belum memutuskan pilihan atau tidak menjawab.


Menyikapi hasil survei terse­but, berikut ini pernyataan adik kandung Prabowo Subianto yang juga Direktur Komunikasi dan Media Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi.

Bagaimana Anda menyikapi sejumlah survei yang me­menangkan duet Jokowi-Ma'ruf?
Kalau sepuluh survei yang mengatakan Pak Jokowi unggul 20 persen itu saya enggakper­caya. Di Pilkada DKI mereka semua (lembaga survei) predik­si Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menang satu putaran kan? Semua (survei) tanpa terkecuali.

Saudara-saudara bisa lihat semuanya. Sudahlah itu pesan sponsor sangat bisa dipahami.

Lantas sejauh ini apakah tim Prabowo-Sandi melaku­kan survei juga. Bagaimana hasilnya?
(Jokowi-Ma'ruf) hanya me­nang 6-11 persen. Sedangkan (berdasarkan prediksi) Pak Rizal Ramli itu mengatakan 6 sampai 10 persen selisihnya. Tapi kalau Pak Rizal bukan (bagian) dari kami. Selebihnya silakan kalian tanya Pak Rizal.

Survei yang dilakukan Gerindra di mana?

Di Indonesia.

Memangnya berapa jumlah responden yang disurvei oleh internal tim Prabowo-Sandi?
2.100 responden.

Kapan surveinya?
Beberapa pekan lalu. Kalau enggak salah pekan lalu baru selesai.

Kenapa program Revolusi Putih yang digagas Prabowo-Sandi diubah namanya men­jadi Gerakan Emas?
Ya Revolusi Putih diubah lantaran ternyata setalah kami dapat feedback kaum muda di Indonesia tidak suka istilah rev­olusi. Ya, ini termasuk revolusi mental Pak jokowi dan kaum milenial tidak suka istilah rev­olusi. Nah, generasi saya suka revolusi. Sebab kami adakan revolusi untuk usir Belanda dari Indonesia. Akan tetapi menurut kaum milenial zaman now, tidak suka dengan istilah revolusi. Maka Revolusi Putih ini kan sebenarnya penyebaran susu sebagai alat untuk mencerdas­kan bangsa Indonesia. Ternyata milenial tidak begitu suka. Ya, makanya kami ubah. Ya sudah kami ubah dengan istilah baru yang bisa diterima.

Jadi gerakannya sama?
Sama. Tapi tambahannya ada­lah asupan gizi, susu, telur, ikan, kacang hijau, dan lain-lain. Mungkin saudara ada lain-lain yang bisa ditambah sebagai protein, silakan. Akan tetapi ini sudah ada bukti. Data dari pemerintah Indonesia dan bank dunia yang baru saja rapat di Bali, 38 persen anak Indonesia kekurangan gizi atau gizi buruk. Ini bagi Pak Prabowo dan Sandi memprihatinkan.

Anda mengatakan data World Bank soal harga ma­kanan Indonesia lebih mahal komparasinya dari mana?
Hal itu dengan nominal prices. Artinya itu dengan prices yang berlaku. Saya tanya dua tiga empat kali bukan karena saya enggak mau percaya tapi world bank katakan demikian dengan nominal prices. Jadi harga ma­kanan di Jakarta lebih tinggi daripada harga makanan di Singapura. Pun harga makanan di Jakarta dua kali lipat harga makanan di New Delhi India. Saya tegaskan itu bukan angka kami namun angka dari World Bank. Kalian (wartawan) bisa cek ke perwakilan World Bank di Jakarta.

Apa maksud slogan Make Indonesia Great Again yang disampaikan Prabowo?
Ya saya kira semua tahu sejarah Indonesia ada kerajaan Majapahit yang disegani. Sebelum itu ada kerajaan Sriwijaya kemudian ada kerajaan-kerjaan lainnya. Seperti Terumanegara, Syailendra, dan semua waktu itu Indonesia.

Bahkan bukan hanya itu tapi bangsa Indonesia. Maka kita merasa adalah negara yang berdaulat yang disegani banyak negara-negara lain. Hal tersebut yang juga termasuk dimaksud Pak Prabowo.

Pasca kemerdekaan apa pernah disegani?

Kita pernah disegani tapi saat ini kita merasa agak lemah dan suara Indonesia tidak dianggap. Terus terang saja di era Pak Soeharto Indonesia ketua Non-Blok. Kita disegani dan diang­gap negara mayoritas muslim terbesar di dunia, maka kita disegani.

Tahun 1955 Bung Karno melakukan Konfrensi Tingkat Tinggi Non-Blok di Bandung. Pemimpin dunia seperti dari Yugoslavia se­mua datang ke Indonesia sebagai salah satu pemimpin Non-Blok dan disegani.

Prabowo kerap dikunjungi sejumlah duta besar negara lain. Apakah itu bagian dari penggalangan dukungan?

Itu bukan penggalangan du­kungan tapi diplomasi. Pasalnya mereka yang minta ketemu bukan Pak Prabowo. Mereka minta ketemu dan Pak Prabowo menerimanya. Pak Prabowo kan salah satu tokoh Indonesia. ***

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

Tips Aman Belanja Online Ramadan 2026 Bebas Penipuan

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:40

Pasukan Elit Kuba Mulai Tinggalkan Venezuela di Tengah Desakan AS

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:29

Safari Ramadan Nasdem Perkuat Silaturahmi dan Bangun Optimisme Bangsa

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:23

Tips Mudik Mobil Jarak Jauh: Strategi Perjalanan Aman dan Nyaman

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:16

Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:33

Pernyataan Jokowi soal Revisi UU KPK Dinilai Problematis

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:26

Tata Kelola Konpres Harus Profesional agar Tak Timbulkan Tafsir Liar

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:11

Bukan Gibran, Parpol Berlomba Bidik Kursi Cawapres Prabowo di 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:32

Koperasi Induk Tembakau Madura Didorong Perkuat Posisi Tawar Petani

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:21

Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kesepakatan RI-AS soal Pelonggaran Sertifikasi Halal

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:04

Selengkapnya