HM Prasetyo di ST Petersberg/Puspen Kejaksaan Agung
Kepala Kejaksaan Saint Petersberg, Moskow, Litvinenko Sergey Ivanovich turut berduka atas bencana gempa bumi dan tsunami yang menewaskan ribuan jiwa di Indonesia.
Hal itu disampaikan Litvinenko Sergey Ivanovich ketika menerima kunjungan Jaksa Agung RI, HM Prasetyo dan jajarannya di Moskow, Rusia, Kamis (4/10) lalu.
"Kami menyatakan turut berduka atas bencana gempa dan tsunami yang melanda Palu dan Sulawesi," tutur Litvinenko Sergey Ivanovich, dalam siaran pers, yang disampaikan Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kapuspenkum), M Roem, Minggu (6/10).
"Saya meyakini kunjungan Jaksa Agung Prasetyo dapat memastikan terciptanya keamanan dan ketenteraman masyarakat," ujar Ivanovich melanjutkan sambutannya.
Dalam pertemuan bilateral antara Kejaksaan RI dan Kejaksaan Saint Petersburg itu, Ivanovich berpandangan, dengan begitu luasnya tugas dan wewenang kejaksaan tidak hanya untuk memastikan agar ditaatinya hukum dan perundangan-undangan, melainkan yang tidak kalah pentingya lagi adalah mampu melindungi masyarakat dari kejahatan.
Dengan demikian, dia berharap, semuanya berjalan secara teratur, sehingga warga masyarakat dapat melakukan transaksi ekonomi maupun berbagai aktivitas lainnya.
Terlebih lagi, menurut dia, dengan kondisi geogerafis Saint Petersburg sebagai pintu gerbang masuknya barang-barang terutama dari negara-negara Eropa Timur, maka kerjasama hukum antara Kejaksaan kedua negara memiliki arti penting dan strategis.
Prasetyo pun sependapat perlunya memperluas kerjasama dan koordinasi satu sama lain. Kerjasama itu mesti saling menguntungkan, adil dan berimbang, termasuk dengan membuka kemungkinan pertukaran jaksa dan praktik terbaik
(best practice) penegakan hukum antara kedua negara.
"Rasanya kita semua sepakat menetapkan darurat narkoba, mengingat betapa begitu berbahayanya kejahatan narkoba yang tidak hanya memakan korban jiwa, tapi juga dapat membunuh keberlangsungan generasi penerus harapan bangsa,†kata Prasetyo.
Lebih lanjut, Prasetyo juga mengingatkan adanya perubahan paradigma ISIS, seiring dengan kalahnya kelompok ekstrimis tersebut di Syuriah. Hal ini tidak menutup kemungkinan akan membuat kerusuhan dan kekacauan di berbagai tempat, termasuk di Saint Petersburg dan Indonesia. Karena itulah harus diwaspadai dan diantisipasi secara bersama-sama.
Dalam pertemuan tersebut, Prasetyo juga memaparkan berbagai langkah kebijakan dan inovasi dalam penegakan hukum yang tidak semata-mata tertuju pada aspek represif penindakan, melainkan juga melakukan pendampingan dan pengawalan terhadap pelaksanaan pembangunan, sehingga hasil-hasilnya akan segera dinikmati oleh masyakat.
"Apa yang kami lakukan, telah mendapatkan dukungan dan apresiasi dari berbagai pihak, antara lain dengan berhasil mengawal pembangunan venue-venue olah raga, sehingga kami dapat sukses menyelenggarakan Asian Games 2018,†kata Prasetyo.
Pertemuan bilateral yang penuh suasana keakraban, kehangatan dan persaudaran itu, diakhiri dengan foto bersama dan saling menukar cinderamata yang menjadi ciri khas masing-masing negara.
"Kami sekitar 16 jam terbang dari Indonesia, memang agak sedikit lelah, namun merasa terobati dengan begitu hangatnya penerimaan dan penyambutan dari jajaran Kejaksaan Saint Petersburg ini," tukas Prasetyo yang diikuti tepuk tangan Ivanovich.
[wid]