Berita

Dari kiri ke kanan: Ilham Bintang, Atal S. Depari dan Margiono/RMOL

Politik

Kongres XXIV PWI: Wartawan Murni Dan Independensi

SELASA, 02 OKTOBER 2018 | 08:44 WIB | OLEH: ASRO KAMAL ROKAN

SOLO, kota bersejarah bagi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Di kota ini, 9 Februari 1946, wartawan-wartawan pejuang dengan berbagai aliran politik, mendeklarisakan berdirinya PWI.  Melalui organisasi ini wartawan pejuang -- antara lain Sumanang Surjowinto, Sudarjo Trjokrosisworo, BM Diah, dan Abdul Rachmat Nasution -- menyatukan tekad dalam fungsinya sebagai wartawan, membela kedaulatan, kehormatan, dan integritas mempetahankan kemerdekaan Indonesia.

Sumanang, Abdul Rachmat Nasution (ayah Adnan Buyung Nasution), bersama Adam Malik, Pandu Kartawiguna, dan AM Sipahutar, adalah pendiri Kantor Berita Antara pada 13 Desember 1937. Di tengah ancaman tentara Jepang, tokoh-tokoh ini melalui Kantor Berita Domei, Jepang -- karena Antara dibekukan Jepang -- secara sembunyi menyebarkan proklamasi kemerdekaan Indonesia pertama sekali ke seluruh dunia, sehingga sejumlah negara mengakui kemerdekaan RI.

Kongres XXIV PWI, 27-30 September 2018, diselenggarakan di Solo. Pilihan kota ini, antara lain untuk mengembalikan semangat awal PWI -- menjaga kedualatan, kehormatan, dan integritas. Dalam iklim politik, yang rentan terhadap pengaruh politik, integritas wartawan sangat penting.


Ini yang antara lain mendorong Pengarah Kongres XXIV, yang diketuai Ilham Bintang melahirkan Pakta Integritas, sejarah baru kongres PWI yangmewajibkan calon ketua umum PWI menandatangani pakta, yang antara lain menyatakan tidak terlibat politik praktis dan tidak melakukan politik uang untuk menang. Calon juga bebas dari afiliasi parpol manapun.

Selain itu, produk baru kongres tahun ini adalah  Kode Perilaku Wartawan yang mendampingi Kode Etik Jurnalistik yang sudah berlaku selama ini.

“Ini merupakan produk baru Kongres XXIV. Sanksi atas pelanggaran itu yakni skorsing hingga  pemecatan,” kata Ilham Bintang, yang secara aklamasi terpilih kembali sebagai Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat priode 2018-2023.

Ini bagian dari cara PWI membentengi diri dari kepentingan politik, menjadi independen, dan bermartabat.

Setelah calon ketua umum PWI menandatangani Pakta Integritas, dilanjutkan proses pemilihan melalui pemungutan suara. Atal S Depari (Ketua Bidang Pembinaan Daerah) meraih 38 suara, sedangkan Hendry Ch Bangun (Sekretaris Jenderal) meraih 35 suara dari total 73 suara. Atal, Ilham Bintang, dan Margiono, ketua umum sebelumnya, ditetapkan sebagai formatur menyusun kepengurusan 2018-2023.

Generasi Baru


Sebelum kongres, ada lima nama yang muncul sebagai calon kuat, yakni Atal S Depari, Hendry Ch Bangun, Sasongko Tejo, Ahmad Munir, dan Teguh Santosa.

Ada analisa menarik Ilham Bintang terhadap munculnya lima nama bakal calon ketua umum tersebut. Ketua Dewan Kehormatan ini membagi tiga klasifikasi generasi kepemimpinan PWI sejak berdiri 1946 lalu. Tiga generasi -- Ilham menyebutnya rezim -- yakni pertama: para tokoh pergerakan, yang diawali oleh Soemanang SH sebagai Ketua PWI pertama, menyusul Usmar Ismail, Manai Sophiaan, BM Diah, Rosihan Anwar, dan lain-lain.

Sedangkan rezim kedua, yakni para tokoh pers yang sukses membangun industri media/ dari group media besar, yakni Jacob Oetama, Harmoko, Zulharmans, Atang Ruswita, Sofyan Lubis, Tarman Azzam hingga Margiono.

Berbeda dengan sebelumnya, lima tokoh yang muncul dalam kongres ini, merupakan rezim baru PWI. Mereka wartawan murni yang berkarier dari bawah, bukan pemilik media, bukan pula pengambil keputusan di media tempat mereka bekerja masing-masing.

Dengan posisi sebagai wartawan murni -- hidup dari dinamika  medan pengabdian -- mereka sangat independen dari kekuasaaan. Mereka bukan pemilik konglomerasi usaha, bukan pengusaha media pers. Tidak ada nilai materi yang dapat mereka kalkulasikan untuk takluk pada intervensi dan kooptasi. Mereka -- rata-rata sudah berumur -- akan mengabdikan sisa hidupnya untuk kepentingan bangsa, sebagaimana semangat PWI didirikan 72 tahun lalu.

Lima tokoh PWI itu, menurut analisa Ilham, telah puluhan tahun merasakan pahit getir dan kesulitan dalam perjalanan karir. Dari pengalaman itu, tentu tidak mudah mereka menyerahkan organisasi untuk dikooptasi oleh penguasa. Mayoritas wartawan anggota PWI, lebih yakin dengan posisi itu sebagai jaminan independensi pers di tangan tokoh-tokoh yang berlatar belakang wartawan murni itu. Dan, mereka dapat mengabdi tanpa risau dalam bersikap untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.

Analisa Ilham ini menarik di tengah fenomena kuatnya peran pemilik media dalam news room dan keterlibatan pemilik media dalam politik praktis. Dalam situasi tersebut independensi menjadi barang mewah.

Kepengurusan PWI mendatang tidak saja harus memperkuat semangat awal PWI -- membela kedaulatan, kehormatan, dan integritas -- tapi juga memperjuangkan independensi ruang redaksi dari kepentingan politik pemilik modal. Ini tentu tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa.

Selamat berjuang. [***]

Penulis adalah wartawan senior, mantan pimpinan LKBN Antara

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Bursa Asia Awali November di Zona Merah

Senin, 02 November 2026 | 08:21

Laba Samindo Resources Melonjak 53 Persen, Efisiensi Biaya Jadi Penopang

Senin, 02 November 2026 | 07:55

Jet Pribadi Jatuh dan Meledak Dekat Permukiman, Sembilan Orang Tewas

Senin, 02 November 2026 | 07:40

Dituding Manipulasi Suara, Ketua KPU India Didesak Mundur

Senin, 02 November 2026 | 07:20

OJK: Tak Ada Dua Sanksi untuk Satu Pelanggaran di Pasar Modal

Senin, 02 November 2026 | 07:06

Polda Metro Tak Cukup Minta Maaf soal “Mahasewa Bayaran”

Senin, 02 November 2026 | 06:40

Kelurahan Berperan Besar Menuju Jakarta Kota Global

Senin, 02 November 2026 | 06:36

Potensi Pasar Asuransi Syariah RI Masih Besar

Senin, 02 November 2026 | 06:00

PPP NTB Protes Mardiono Asal Pecat Pengurus

Senin, 02 November 2026 | 05:39

Ketika Syarat Konstitusional Wapres Dipersoalkan

Senin, 02 November 2026 | 05:26

Selengkapnya