Berita

Foto/Net

Nusantara

Hati-hati, Gesekan Antar Pendukung Mudah Terbakar

Masa Kampanye Terlalu Lama
JUMAT, 28 SEPTEMBER 2018 | 09:08 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kampanye adalah tahapan paling krusial dalam pelaksanaan pemilu. Namun lamanya waktu kampanye Pemilu 2019 justru menjadi dilema. Salah satunya karena berpotensi menimbulkan gesekan horizontal antar pemilih.

 Sekjen Komite Independen Pemantau Pemilu Indonesia (KIPP Indonesia) Kaka Suminta mengatakan, bercermin dari proses pemilihan tahun 2014 ma­ka potensi konflik di masyarakat saat masa kampanye sebetulnya telah berubah menjadi sangat ter­buka. Arus informasi hoax dan hate speech yang tidak mampu di kontrol sepenuhnya oleh pemerintah jadi pemicunya.

"Oleh karena itu semakin lama proses kampanye berlang­sung maka potensi gerakannya semakin tinggi," ujarnya, di Jakarta, kemarin.

Diketahui, masa kampanye pemilu legislatif dan presiden 2019 mencapai sekitar 7 bulan lamanya. Sesuai Jadwal KPU, masa kampanye telah dimulai sejak Minggu (23/9) dan bera­khir pada 13 April 2019.
Diketahui, masa kampanye pemilu legislatif dan presiden 2019 mencapai sekitar 7 bulan lamanya. Sesuai Jadwal KPU, masa kampanye telah dimulai sejak Minggu (23/9) dan bera­khir pada 13 April 2019.

Ia mengakui, gagasan laman­ya waktu kampanye awalnya di desain untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi para peserta pemilu untuk menyampaikan visi dan misinya. Begitu juga bagi pemilih, ada ruang cukup untuk mendiskusikan visi dan misi para kandidat.

Akan tetapi, lanjut dia, kencangnya perkembangan teknologi informasi (TI) pada faktanya juga membuat informasi-informasi yang beredar di masyarakat banyakyang palsu. Celakanya, celahini kini kerap dimanfaatkan pihak yang berkompetisi untuk saling jegal meskipun konsekue­nsinya adalahpecahnya keruku­nan antar masyarakat.

"Kondisi sekarang justru cukup mengkhawatirkan. Proses kampanye rawanndijadikan ruang utuk melakukan politikbelah bambu. Menginjak lawan untuk meme­nangkan kompetisi," jelasnya.

Berdasarkan dasar pemikiran itu, dia meminta agar pihak penyelenggara bisa melakukan upaya antisipisai dini bersama-sama dengan pemerintah.

"Idealnya mengurangi waktu pemilihan dan masa kampanye. Tapi kan pilihan ini agak sulit mengingat sudah ditentukan oleh undang-undang. Makanya, perlu langkah konkrit untuk memini­malisir potensi konflik horizon­tal di masyarakat danbpotensi politik biaya tinggi," tandasnya.

Peneliti Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Fadli Ramadhanil sepakat bahwa isu gesekan sosial pada pemilu 2019 harus diberi perhatian lebih. Pasalnya, masalah ini bukan hanya bisa dipicu oleh masalah Hoax tapi juga karena kerasnya kompetisi dalam pemilu.

Kompetisi pemilu menjadi keras, jelas Fadli, karena diikuti oleh belasan partai politik dan terjadi penambahan jumlah dapil. Kedua hal ini bisa membuat celah clash dilapangan jadi terbuka.

"Peserta pemilu 2019 juga cukup banyak sampai 14 partai, coba bandingkan dengan pemilu sebelumnya. Hal ini tentu akan menggambarkan betapa keras nanti dilapangan," ujarnya.

Menurut dia, tugas berat kini ada ditangam Bawaslu, Gakkumdu termasuk Kepolisian. Ketiganya tidak bolah tumpul dalam menghadapi setiap kasus.

Pengamat hukum Universitas Andalas, Alvon Kurnia Palma juga tidak habis pikir bahwa masa kampanye pemilu 2019 sangat panjang hingga lebih dari 4 bulan. Padahal, secara historinya maka masa kampanye paling panjang hanya ada di kontestasi Pilkada.

"Saya juga tidak mendapatkan legal reasoning kenapa bisa se­lama ini. Saya tidak tahu apakah kita ingin mengimplan metode di Amerika Latin," jelasnya.

Sekalipun begitu, ia sepakat dibutuhkan upaya antisipasi dini dari pihak penyelenggara agar tidak terjadi gesekan sosial. Upaya antisipasi tidak boleh melulu hanyadeklarasi-deklarasi semata.

"Paling penting adalah aware­ness bahwa kampanye yang pan­jang juga berpotensi menimbul­kan konflik sosial. Ini agar proses pemilu kita tidak jadi ajang kekerasan," tandasnya. ***

Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Fuad Hasan Punya Peran Sentral Skandal Korupsi Kuota Haji

Kamis, 09 April 2026 | 16:31

UPDATE

Analis Ungkap 3 Faktor Penentu Reshuffle Kabinet di Era Prabowo Subianto.

Sabtu, 18 April 2026 | 09:43

Harga BBM Non Subsidi Naik, Perrtamax dan Dexlite Nyaris Rp24 Ribu per Liter

Sabtu, 18 April 2026 | 09:18

Menuju Kuartal II-2026: Sektor Furnitur Siap Ambil Alih Kendali Pertumbuhan

Sabtu, 18 April 2026 | 09:08

Harga Emas dan Perak Kompak Menguat di Penutupan Pekan

Sabtu, 18 April 2026 | 08:47

Trump Kembali Kecam NATO, Tegaskan AS Tak Butuh Bantuan di Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 08:30

Harga Minyak Anjlok setelah Hormuz Dibuka

Sabtu, 18 April 2026 | 08:17

Wall Street Hijau: Nasdaq Terbang Tinggi

Sabtu, 18 April 2026 | 08:03

Sempat Viral, Ini Fakta di Balik Visual Balita pada Kemasan AMDK

Sabtu, 18 April 2026 | 07:55

Bursa Eropa Menghijau Efek Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 07:41

Hormuz Dibuka tapi AS Tetap Menekan Iran

Sabtu, 18 April 2026 | 07:18

Selengkapnya