Berita

Anton Tabah Digdoyo

Politik

Pilih Capres Yang Tidak Bifurkasi Dan Vandalisme

SABTU, 22 SEPTEMBER 2018 | 17:49 WIB | LAPORAN:

Rezim Pemerintah Joko Widodo kerap membuat aturan untuk melegitimasi kekuasan. Hal itu dirasakan selama empat tahun pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

Demikian dikatakan Anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat, Brigjen Pol. (Purn) Anton Tabah Digdoyo. Menurutnya, apa yang dilakukan Jokowi tersebut sangat berbahaya.

"Karena konsep negara hukum dibelokkan ke mana-mana sehingga negara hukum menjadi negara kekuasaan," ungkap Anton Tabah melalui pesan tertulis yang diterima redaksi, Sabtu (22/9).


Dikatakan Anton, beberapa contoh nyata dilakukan Jokowi dengan intruksi lisan mengatakan, aksi #2019GantiPresiden terlarang dan melarang baca buku Jokowi Undercover.

"Kalau negara hukum semua itu harus diuji di pengadilan. Adalagi yang jelas melanggar UU, yaitu melarang sweeping logo PKI. Bahkan jalin kerja sama dengan PKC (Partai Komunis China) yang dilarang pasal 107 (A) sampai dengan (F) KUHP Yo UU nomor 27/1999 ancaman pidananya cukup berat berat 15 tahun," ungkapnya.

Anton memberi contoh, Perppu 2/2017 tentang Ormas yang diterbitkan pemerintah tidak jelas, karena menghilangkan due process of law dan hanya menilai ormas itu baik, buruk, salah, dan benar.

"Jelas Perppu tersebut melanggar UU karena UU Ormas No 17/2013 memerintahkan harus dilakukan step by step. Kalau ormas dinilai melakukan pelanggaran harus dilakukn langkah-langkah dari peringatan, pembekuan, sampai diputuskan di pengadilan dimana ormas itu diberi hak untuk membela diri," kata Anton.

Situasi saat ini, lanjut Anton, membuat Indonesia seakan terjebak dalam
vandalisme hukum.

"Hantam dulu, kalau tidak terima silakan gugat di pengadilan. Dalam situasi ini, terjadilah bifurkasi of law atau pembelokan hukum

Apa yang dilakukan Jokowi tersebut, kata Anton, merusak yang sudah dibangun Presiden terdahulu dengan susah payah sehingga jadi berantakan.

Contoh paling nyata, lanjut Anton, kerja sama dengan ormas partai atau lembaga apapun yang berfaham komunisme dalam segala bentuk dan perwujudannya dilarang dan dipidana 15 tahun.

"Tapi rezi, ini dan beberapa pendukungnya terang-terangan jalin kerja sama dengan PKC," ujarnya.

Bahkan, kata Anton, rezim saat ini getol melarang pemutaran film G 30S/PKI. "Akan menghilangkan adegan-adegan kekejaman dalam film tersebut, tidak perintahkan lagi kibarkan bendera setengah tiang tiap tanggal 30 September, bilang faham komunisme bukan ancaman Pancasila dan lains sebagainya," kata Anton.

Bifurkasi, tambah Anton, tak hanya mengubah NKRI jadi negara kekuasaan tapi juga jadi negara otoriter.

"Tentu ini kemunduran bangsa Indonesia yang sangat menyedihkan.
Karena itu jangan pilih capres yang ubah NKRI jadi negara kekuasaan, ubah NKRI jadi pro komunis. Dan jangan pilih yang pembohong," pungkasnya. [lov]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya