Berita

Nasaruddin Umar/Net

Perempuan Hebat di Dalam Al-Qur'an (17)

Sikap Istri Terhadap Perintah Penyembelihan Anak (2)

SENIN, 10 SEPTEMBER 2018 | 08:33 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

Alasan bagi mereka yang mendukung pendapat kedua, yang disembelih ialah Ishaq, putra Siti Sarah, antara lain: Pertama, pada ayat Q.S. as-Shaffat: 99 disebutkan: Innahu dzahibun ila Rabbi (Dan Dia (Ibrahim) berkata: "Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, dan akan memberi petunjuk kepadaku), maksudnya ialah Ibrahim as. berhijrah dari neg­eri kaum yang telah menyakitinya lantaran fa­natik terhadap sesembahan-sesembahan yang berupa patung dan atas kekufuran kepada Allah swt dan kedustaan pada rasul-rasul-Nya. Atas desakan itu, ia berhijrah dengan harapan dapat beribadah kepada-Nya dan dapat memberinya petunjuk ke suatu tempat yang mampu memberi kemaslahatan bagi agama dan dunianya, yaitu ke Syam, tanah yang suci (al-ardl al-muqadda­sah). Thahir Ibnu 'Asyur menyebut peristiwa ini sebagai hijrah yang paling awal di jalan Allah yang dilakukan oleh seorang hamba.

Daerah tujuan hijrah Ibrahim ASini juga didukung oleh ijma' ulama. Untuk mengobati rasa keterasingan dari kampung halamannya, Nabi Ibrahim berdo'a agar dianugerahi seorang anak shaleh yang dapat memotivasinya untuk senantiasa taat kepada Allah swt. Untuk itu, Allah swt. menggembirakannya dengan seorang anak yang sangat sabar. Anak tersebut, menurut mereka, adalah Ishaq. Hal tersebut didasarkan pada kata ma'a pada ayat Q.S. as-Shaffat: 102: Falamma balagha ma'ahus sa'y.., yaitu bahwa anak yang menyertainya ke Syam adalah Ishaq. Mereka meyakini bahwa penyembelihan itu terjadi di Syam, bukan di Mina ataupun Baytul Muqaddas.

Alasan Ketiga bagi orang yang berpendapat yang disembelih ialah Malaikat, maka sebuah riwayat shahih yang bersumber dari Abdullah bin Mas'ud bahwa seseorang berkata kepa­danya: "Wahai anak orang tua yang mulia"! (ya ibna al-asyakh al-kiram!). Abdullah bin Mas'ud berkata: Orang itu ialah Yusuf bin Ya'qub bin Ishaq sembelihan Allah (dzabihullah) bin Ibrahim. Ulama Asy'ariyah berpendapat bahwa Allah swt. terkadang memerintahkan sesuatu yang tidak menghendakinya untuk terjadi. Atas dasar ini pula, mereka berpendapat bahwa boleh mena­sakh hukum sebelum waktu terjadinya pelaksa­naan perintah tersebut (jawâz naskh al-hukm qabla wajûd zaman al-imtitsâl). Sebagai buktinya adalah perintah dalam ayat ini. Dari ayat ini juga, ulama Mu'tazilah berpendapat bahwa terkadang suatu perintah tidak disertai dengan keinginan (irâdah). Perintah kepada Ibrahim untuk me­nyembelih anaknya adalah perintah ujian (amr al-ibtila'), bukan perintah hukum (amr al-tasyri'), tujuannya untuk menguji kesungguhan orang yang diuji dan meneguhkan ketinggian marta­batnya dalam menaati Allah. Perintah tersebut diperoleh melalui mimpi. Lazim diketahui bahwa mimpi para nabi merupakan wahyu. Adapun ungkapan qad shaddaqta ar-ru'yâ pada ayat selanjutnya bermakna bahwa yang disembelih (Ismail, menurut jumhur ulama, Ishaq menurut sebagian ulama) mengakui kebenaran mimpi tersebut sehingga wajib untuk dilaksanakan. Adapun hikmah adanya semacam 'musyawarah' yang dilakukan Ibrahim terhadap putranya seputar mimpinya itu adalah untuk melihat se­jauh mana kesabaran dan ketabahan putranya tersebut dalam menaati perintah Allah.


Hikmah terjadinya perintah ini dalam mimpi dan tidak dalam keadaan tersadar atau ter­bangun bisa dijelaskan dari beberapa sudut pandang, yaitu: Pertama, perintah (taklif) ini sangatlah sulit di sisi si penyembelih dan yang disembelih, sehingga dihadirkan dalam mimpi selama tiga malam sebelum dikuatkan dalam kondisi sadar. Dengan demikian, perintah itu tidak langsung diyakini sekaligus tetapi sedikit demi sedikit. Kedua, Allah swt. menjadikan mimpi para nabi sebagai sebuah kebenaran, sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat al-Qur'an seperti mimpi Yusuf, Ibrahim dan Muhammad saw. Maksud dari mimpi tersebut adalah untuk menegaskan akan kebenaran mereka. Pasalnya, kondisi yang dialami oleh setiap insan –pada umumnya- adalah tertidur atau tidak tertidur. Jika kedua kondisi tersebut menunjukkan kebenaran, maka itu menjadi bukti nyata bahwa mereka adalah benar dan jujur di setiap keadaannya. 

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Kapolri Resmikan Laboratorium Uji Seragam untuk Tingkatkan Perlindungan

Rabu, 13 Mei 2026 | 00:17

MK Tolak Gugatan UU IKN, Ibu Kota RI Tetap Jakarta

Rabu, 13 Mei 2026 | 00:00

Menhut Gaungkan Pengakuan Hutan Adat di Markas PBB

Selasa, 12 Mei 2026 | 23:39

Rupiah Babak Belur, BI Kembali Sebut Kebutuhan Dolar Membludak

Selasa, 12 Mei 2026 | 23:12

Eks Kasat Narkoba Polres Kutai Barat Diduga jadi Kaki Tangan Bandar Narkoba Kelas Kakap

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:49

Laut dan Manusia Harus Saling Menjaga

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:39

Bleng-Blengan Sawah Blora, Cara Lama Petani Usir Tikus

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:28

Peradilan Berjalan, GMNI Tetap Minta Dibentuk TGPF Kasus Andrie Yunus

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:16

Menkop dan Wakil Panglima Kompak Kawal Operasional Kopdes

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:10

Masa Depan Hotel Mewah dan Pariwisata di Indonesia Tourism Xchange 2026

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:01

Selengkapnya