Berita

Bisnis

Penundaan Proyek Infrastruktur Tidak Efektif Memperkuat Perekonomian

SABTU, 08 SEPTEMBER 2018 | 18:10 WIB | LAPORAN:

Rencana pemerintah untuk menunda proyek pembangunan infrastruktur diyakini tidak akan efektif memperkuat ekonomi nasional, utamanya penguatan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

Hal itu terjadi jika pemerintah tidak segera menunda proyek infrastruktur yang sebenarnya tidak perlu namun berbiaya tinggi.

Ekonom senior Anwar Nasution mengatakan, kalau memang pemerintah ingin menunda pembangunan infrastruktur, maka yang pertama kali dilakukan adalah menunda proyek infrastruktur kereta cepat Jakarta-Bandung. Menurut dia, proyek tersebut sebanarnya tidak perlu karena akan menghasilkan penghasilan yang sangat sedikit karena hanya mengangkut penumpang.


Proyek itu jauh berbeda dengan proyek pembangunan rel kereta api di sepanjang Pulau Jawa, dan Sumatera. Di sana, infrastruktur kereta dibangun untuk mengangkut kekayaan alam dan hasil perkebunan masyarakat yang devisanya bisa digunakan untuk membayar utang.

"Coba bayangkan jarak Jakarta-Bandung hanya 180 kilometer, kecepatan kereta api itu lebih dari 500 kilometer. Jadi cuma berapa, 10 menit sudah sampai. Bagaimana Marhaen bisa bayar itu, mahal kan itu," katanya usai diskusi 'Bisakah Bersatu Menghadapi Krisis Rupiah' di Menteng, Jakarta, Sabtu (8/9).

Tak hanya kereta cepat Jakarta-Bandung, mantan deputi gubernur senior Bank Indonesia itu juga mendesak pemerintah segera menunda proyek Trans Papua dan Trans Kalimantan. Diakuinya, kedua daerah itu memang memiliki kekayaan alam yang melimpah, namun disana menurut dia bukanlah daerah padat penduduk. Artinya hasil perkebunan yang diangkut pun tak terlampau banyak.

"Trans Kalimantan, Trans Papua, apa yang diangkut. Ini yang harus dipikirkan itu. Kalau garis pantai yang banyak penduduk, banyak ekonomi masuk akallah," pungkas Anwar.

Rencana penundaan proyek infrastruktur yang banyak mengandung bahan baku impor disampaikan oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution. Penundaan itu dilakukan untuk menyikapi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang kian jeblok. [wah] 

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Steve Hanke Ungkit Lagi Keputusan IMF 1998, Klaim Rupiah Bisa Setara Dolar AS

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:12

Gibran Ingin Generasi Muda Jadi Perekat Persatuan Bangsa

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:06

Komut Pertamina Mochamad Iriawan Pastikan Kesiapan SAF dan Operasional B50 di Jawa Timur

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:57

Wall Street Berpesta! Dow Cetak Rekor

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:53

Nasib Nadiem Ditentukan di Sidang Vonis Hari Ini

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:42

Kekayaan AHY Naik Hampir Enam Kali Lipat, Kini Tembus Rp118,65 Miliar

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:29

STOXX 600 Menguat Tipis, Saham Teknologi dan Energi Topang Bursa Eropa

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:24

Jerman Tumbang, Paraguay Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:14

Pimpin BEI 2026-2030, Jeffrey Hendrik Targetkan Pasar Modal Indonesia Tembus 10 Besar Dunia

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:02

Dana GCA Diklaim Bisa Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 30 Juni 2026 | 06:48

Selengkapnya