Berita

Nasaruddin Umar/Net

Perempuan Hebat didalam Al-Qur'an (16)

Dampak Pertarungan Dua Istri Nabi Ibrahim

SABTU, 08 SEPTEMBER 2018 | 08:48 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

ADALAH wajar jika kita membaca sejarah Nabi Ibra­him dari perspektif Israil po­sisi Siti Hajar terkesan tidak lebih baik dari Siti Sarah. Wajar pula jika kita mem­baca sejarah Nabi Ibrahim dari perspektif Arab posisi Siti Sarah tidak lebih baik dari Siti Hajar. Yang pasti keduanya adalah istri Nabi Ibrahim dengan masing-masing keunggu­lan dan keterbatasannya. Siti Sarah yang ber­darah Palestin dan Siti Hajar yang berdarah Af­rika. Siti Sarah bermukim di Palestina dan di sana ia mengembangkan keturunannya yaitu Nabi Ishaq dan Nabi Ya’qub. Turunannya ke­mudian melahirkan Nabi Musa yang memba­wa agama yahudi dengan kitab sucinya Kitab Taurat. Salahseorang turunannya juga berna­ma Nabi Isa yang membawa agama Nashrani, sekarang lebih dikenal dengan agama Kristen, dengan kitab sucinya bernama Injil (Bible). Se­dangkan Siti Hajar bermukim di Arab (Mekkah) dan disinilah ia membesarkan anaknya, Nabi Ismail. Turunannya kemudian melahirkan Nabi Muhammad Saw yang membawa agama Islam dengan kitab sucinya bernama Al-Qur'an.

Nabi Ibrahim sesungguhnya Nabi paling beruntung karena anak keturunannya menja­di Nabi dan sekaligus membawa agama dan kitab suci. Agama Yahudi, Nasrani, dan Islam sering disebut para orientalis dengan "Abraha­mic Religion" (Agama anak cucu Nabi Ibrahim). Jika para penganut ketiga agama ini mendala­mi sejarah genetik agamanya masing-masing maka niscaya mereka akan kompak. Ketiga pembawa ajaran agama Samawi ini berasal dari satu nenek yang sama. Sangat ironis jika antara sesama penganut "Abrahamic Religion" ini bermusuhan satu sama lain. Seharusnya mereka bersatu di dalam menghadapi gelom­bang peradaban baru yang sangat menantang inti ajaran agama ini. Namun kenyataannya, dalam lintasan sejarah ketiga agama ini selalu berhadap-hadapan bahkan bermusuhan satu sama lain. Sejarah kelam pernah mencatat ba­gaimana antara penganut agama Yahudi dan Kristen pernah bunuh-bunuhan. Bagaimana dahsyatnya Perang Salib yang pernah ber­langsung 250 tahun, antara penganut agama Kristen dan penganut agama Islam perang habis-habisan. Bagaimana Israel dan Palesti­na sampai sekarang masih terus berlangsung peperangan secara sporadis, padahal mereka masih satu turunan genetik.

Pertarungan antara Israel yang sering men­gusung bendera Yahudi dan penduduk Pales­tina yang juga sering mengusung bendera Is­lam terus saja berlangsung. Israel bagaikan tidak punya telinga untuk mendengarkan se­ruan badan-badan resmi dan tidak resmi in­ternasional agar menghentikan pembantaian dan pendudukannya ke tanah-tanah Palestina. "Perang Saudara" antara Israel dan Palestina jika diurut ke atas maka sesungguhnya meru­pakan jejak persaingan dua ibu atau dua istri. Istri pertama, Sitti Sarah, dibela oleh kelom­pok Yahudi-Israel dan istri kedua, Sitti Sarah, dibela oleh Muslim-Palestina. Kedua kelompok ini masing-masing mengklaim Yerusalem dan Palestina adalah tanah leluhur mereka. Sebet­ulnya masing-masing memiliki kebenaran se­bagai sama-sama anak cucu Nabi Ibrahim, tetapi kebenaran matril, dilihat dari perspektih hokum ketatanegaraan, Israel telah vertindak tidak adil terhadap muslim Palestina. Bukan hanya membantai penduduknay tetapi juga merampas tanah dan kekayaan alamnya.


Bayangkan, wilayah Hamas memiliki ben­tangan pantai cukup panjang tetapi mereka tidak diperbolehkan mengaksesnya karena su­dah dipagar dengan tembok tinggi. Wilayah-wilayah perbatasan, termasuk wilayah pantai semua sudah dikuasai oleh Israel. Bukti auten­tik bahwa Palestina pernah memiliki luas lah­an sekitar 80% di negerinya tetapi kini terbalik, wilayahnya tersisa hanya sekitar 20%. Itu pun sudah berdiri tembok-tembok tinggi pertan­da di bawah penguasaan Israel. Sejarah ke­manusiaan seperti ini seharusnya tidak boleh lagi terulang di dalam sejarah umat manusia. Agama yang seharusnya mengangkat marta­bat kemanusiaan berganti sebagai kekuatan penindas.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya