Berita

Foto: Gerak Lawan

Bisnis

Koalisi Masyarakat Sipil Bentang Spanduk Lawan Intervensi Bank Dunia & IMF

KAMIS, 30 AGUSTUS 2018 | 09:15 WIB | LAPORAN:

Sejumlah organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Gerak Lawan kembali melakukan aksi protes intervensi Bank Dunia terhadap Indonesia melalui berbagai proyek dan utangnya.

Aksi protes ini dilakukan di tengah sosialisasi Environmental and Social Framework (ESF) dengan membentangkan spanduk bertuliskan “World Bank & IMF are Fuelling and Profitting from Neo-Colonialism”.

Zainal Arifin Fuad dari Serikat Petani Indonesia (SPI)  menyampaikan, alih-alih mengurangi kemiskinan, Bank Dunia justru menjadi aktor bagi kebijakan dan proyek pembangunan yang melanggar HAM dan merusak lingkungan.


Dia mengatakan, Bank Dunia juga memiliki kekebalan mutlak dan sulit dimintai pertanggungjawabannya atas berbagai krisis yang merupakan dampak dari model pembangunan yang eksploitatif.

"Aksi ini juga dilakukan untuk mengingatkan rakyat Indonesia akan jejak perampasan ruang hidup dan hak-hak dasar rakyat di berbagai wilayah akibat model pembangunan yang didorong oleh Bank Dunia dan juga IMF," ujar Zainal dalam siaran pers, Kamis (1/9).

Sigit Karyadi Budiono dari Koalisi Rakyat untuk Hak atas Air (KRuHA) menambahkan, salah satu proyek bermasalah selama 33 tahun hingga hari ini adalah kasus Kedung Ombo.

Dia memaparkan, pembangunan waduk yang dimulai sejak tahun 1985 saat rezim Orde Baru yang sentralistik dan militeristik masih berkuasa, dibiayai dari utang Bank Dunia senilai 156 juta dolar AS dan Bank Exim Jepang 25,2 juta dolar AS.

Proyek tersebut telah menggusur setidaknya tanah seluas 7.394 hektare hak milik dari 5.823 Kepala Keluarga, yang bermukim di 37 desa di tujuh kecamatan yang berada pada tiga kabupaten yaitu Boyolali, Grobogan dan Sragen, Provinsi Jawa Tengah.

"Hingga kini persoalan ganti rugi masih terus ditagih oleh masyarakat korban pembangunan bendungan kepada Bank Dunia dan pemerintah," ujar Sigit.

Berbagai kasus utang dan intervensi perubahan kebijakan telah mengakibatkan penderitaan rakyat di berbagai sektor. Sigit menceritakan, tahun 1999 merupakan penanda perubahan besar pada sektor air.

Munculnya kebijakan untuk melakukan reformasi sektor sumberdaya air di Indonesia dimulai dengan dorongan oleh Bank Dunia melalui Water Resources Sector Adjustment Loan Project (Watsal).

Melalui proyek utang senilai senilai 300 juta dolar AS, Bank Dunia mendorong perubahan pada aspek pengelolaan sumber daya air dan pengelolaan layanan.

"Privatisasi, komersialisasi hingga korporatisasi menjadi agenda utamanya. Akibatnya rakyat miskin di perkotaan hingga petani di pedesaan menanggung penderitaan tidak memiliki akses air yang baik," ujarnya.

Teguh Maulana dari Indonesia for Global Justice, menyatakan kehadiran Bank Dunia melalui proyek yang didanainya untuk mendorong perubahan kebijakan sangat mengancam kedaulatan negara.

"Di antaranya dengan mendorong kebijakan investasi yang melemahkan kedaulatan negara, dimana kedua institusi tersebut mengharuskan setiap negara membuat kebijakan investasi yang membuka akses pasar seluas-luasnya di negara berkembang bagi investor," ujar Teguh. [wid]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Steve Hanke Ungkit Lagi Keputusan IMF 1998, Klaim Rupiah Bisa Setara Dolar AS

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:12

Gibran Ingin Generasi Muda Jadi Perekat Persatuan Bangsa

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:06

Komut Pertamina Mochamad Iriawan Pastikan Kesiapan SAF dan Operasional B50 di Jawa Timur

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:57

Wall Street Berpesta! Dow Cetak Rekor

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:53

Nasib Nadiem Ditentukan di Sidang Vonis Hari Ini

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:42

Kekayaan AHY Naik Hampir Enam Kali Lipat, Kini Tembus Rp118,65 Miliar

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:29

STOXX 600 Menguat Tipis, Saham Teknologi dan Energi Topang Bursa Eropa

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:24

Jerman Tumbang, Paraguay Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:14

Pimpin BEI 2026-2030, Jeffrey Hendrik Targetkan Pasar Modal Indonesia Tembus 10 Besar Dunia

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:02

Dana GCA Diklaim Bisa Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 30 Juni 2026 | 06:48

Selengkapnya