Berita

Rizal Ramli/Net

Politik

Jadikan RR Cawapres, Jokowi Atau Prabowo Akan Amanah Selamatkan Perekonomian Bangsa

SELASA, 07 AGUSTUS 2018 | 08:18 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

SOEHARTO dalam memilih wakil presiden parameternya jelas. Bung Hatta naik jadi wapres berdampingan dengan Sukarno karena tuntutan zaman untuk penyelamatan bangsa. Sehingga berbeda dengan hari ini penentuan calon wakil presiden yang dilakukan oleh partai-partai politik parameternya uang, dan tuntutannya juga uang...

Sudharmono jadi wapres karena di mata Soeharto dia manajer partai terpercaya.

Soeharto puas atas prestasi Sudharmono dalam membesarkan Golkar. Partai beringin yang sudah established untuk selanjutnya diteruskan oleh tangan sipil (Harmoko).


Momentum itu sekaligus menandai era berakhirnya tentara dari Angkatan ‘45 dalam memimpin Golongan Karya.

Umar Wirahadikusuma yang urang Sunda, diangkat Soeharto karena representasi tokoh Sunda. Dan yang juga penting ia jenderal faksi Soeharto yang sangat loyal. Saat peristiwa ’65 ia Pangdam Jaya dan meneruskan posisi Pangkostrad yang ditinggalkan Soeharto.

Adam Malik yang Murbais dan pengikut Tan Malaka, yang hanya berpendidikan sekolah rakyat berjasa besar dalam mengangkat Soeharto di lapangan internasional.

Bung Adam yang wartawan merupakan diplomat ulung, antara lain pernah Menlu, Dubes di Soviet dan Polandia. Adam Malik-Sultan-Soeharto adalah Trio Orde Baru, yang antara lain dari tangan mereka lahir konsepsi Undang-undang Penanaman Modal Asing.

Bung Adam yang selalu bangga menyebut diri Putra Andalas diangkat Soeharto jadi wapres, antara lain sebagai representasi tokoh Sumatera.

Soeharto meminang Sultan IX karena Sultan Raja Jawa. Soeharto memerlukan Sultan untuk melegitimasi kekuasaan Orde Baru yang baru lahir. Ia memandang penting aura wibawa Raja Mataram ini sebagai starting point untuk memulai kekuasaan baru di dalam politik nasional yang didominasi oleh kultur Jawa.

Bung Hatta yang ekonom pro rakyat jadi wapres berdampingan dengan Sukarno yang juga pro rakyat. Konsepsi ekonomi Hatta esensinya adalah jalan ekonomi konstitusi yang membela rakyat yang tertindas, anti neoliberal, anti sistem ekonomi ala penjajah, dan karena itu jasa-sumbangsih Hatta sebagai wakil presiden dalam penyelamatan bangsa sangatlah besar.

Itulah sejatinya parameter yang benar bagi seorang calon wakil presiden. Bukan parameter uang dan tuntutannya pun bukan pula tuntutan uang.

Bagaimana sekarang?

Parameter yang seharusnya dipakai oleh Jokowi dan Prabowo dalam memilih calon wakil presiden adalah figur yang mampu menjalankan misi penyelamatan bangsa. Yaitu tokoh yang visi dan karakternya mewarisi marwah Bung Hatta. Karena fokus persoalan negara dan bangsa hari ini adalah keterpurukan ekonomi, yang berimplikasi pada persoalan-persoalan lainnya, seperti kemiskinan, pengangguran, kesenjangan pendidikan, ketidakadilan sosial, hingga potensi konflik horisontal.

Pilpres 2019 oleh Jokowi dan Prabowo sudah seharusnya diletakkan dalam perspektif Penyelamatan Bangsa. Partai-partai politik sudah saatnya mengakhiri petualangan sebagai pencari keuntungan materil dalam momentum Pilpres, Pilkada, dan Pileg.

Sejauh ini banyak kalangan menilai figur ekonom dengan visi ekonomi Bung Hatta ada pada sosok Dr Rizal Ramli (RR), yang selama ini dikenal paling lantang, berani, dan lugas menyuarakan, memperjuangkan, dan membuktikan keberpihakannya dalam membela kepentingan rakyat (terutama wong cilik) yang banyak terpinggirkan kehidupannya akibat jalan sesat perekonomian neoliberal yang merupakan pintu masuk bagi neokolonialisme dan neoimperialisme.

Track record, prestasi, reputasi, dan keberpihakan Rizal Ramli sudah terbukti bukan omong kosong. Inilah antara lain yang membedakan Rizal Ramli dengan sosok-sosok lainnya yang saat ini nama-nama mereka ‘’menggelembung’’ (digelembungkan oleh pencitraan) sebagai cawapres.

Jadikan Dr Rizal Ramli cawapres, Jokowi atau Prabowo akan amanah selamatkan perekonomian nasional dan bangsa. [***]

Penulis adalah wartawan senior

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Asta Cita Tanpa Konsistensi akan Timbul Moral Hazard

Senin, 08 Juni 2026 | 05:48

Pameran ‘Aku Arek Suroboyo’ Ramaikan Peringatan Bulan Bung Karno

Senin, 08 Juni 2026 | 05:24

GP Ansor Jakbar Gelar Diklatsar Tanggapi Sebutan ‘Gotham City’

Senin, 08 Juni 2026 | 04:59

Pernyataan Purbaya dan Djaka Saling Menguatkan dalam Kasus Tiffany & Co

Senin, 08 Juni 2026 | 04:46

Perkuat KDKMP

Senin, 08 Juni 2026 | 04:26

Purbaya Tidak Punya Backup Politik untuk Jalankan Misi Presiden

Senin, 08 Juni 2026 | 03:57

Jangan Kasih Tempat untuk Boti di Negeri Ini!

Senin, 08 Juni 2026 | 03:37

BEI Jabar Gencarkan Literasi Pasar Modal ke Kampus hingga SD

Senin, 08 Juni 2026 | 03:17

Menanti Hasil Uji Fundamental Perekonomian Indonesia

Senin, 08 Juni 2026 | 02:59

IPB University Raih Juara Umum Program Mahasiswa Berdampak Kemendiktisaintek

Senin, 08 Juni 2026 | 02:50

Selengkapnya