Berita

Wahyu Setiawan/Net

Wawancara

WAWANCARA

Wahyu Setiawan: Kalau Temukan Bekas Napi Korupsi Nyaleg, Kami Akan Beri Status TMS

SENIN, 30 JULI 2018 | 09:27 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Komisi Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyisir dengan hati-hati dokumen bacaleg yang masuk. Mereka tak mau bacaleg berstatus bekas narapidana kasus korupsi masuk daftar. Hal itu seperti ditemukan KPU Nusa Tenggara Barat (NTB) baru-baru ini.

KPU NTB berhasil menemukan tiga orang bakal caleg be­kas narapidana kasus korupsi. Dua orang bakal caleg dari Kabupaten Sumbawa, dan satu orang lagi dari Kabupaten Dompu.

Dari situ KPU NTB lang­sung meminta klarifikasi dari Kejaksaan Negeri dan Pengadilan Negeri untuk memas­tikan apakah mereka benar atau tidak berstatus bekas narapidana kasus korupsi.


Kasus yang ditangani KPU NTB itu untuk pemilihan kursi DPRD. Lantas bagaimana den­gan proses penyisiran yang dilakukan KPU Pusat untuk kursi DPR dan DPD? Apakah KPU akan langsung mencoret para bekas narapidana itu dari daftar caleg atau menunggu putusan uji materi terhadap aturan PKPU yang melarang bekas napi nyaleg, yang kini ditangani Mahkamah Agung?

Berikut penjelasan Komisioner KPU Wahyu Setiawan kepada Rakyat Merdeka.

Sampat saat ini berdasarkan penelusuran KPU sudah ada berapa bacaleg DPR berstatus eks napi kasus korupsi yang ditemukan?
Berdasarkan verifikasi keleng­kapan dan keabsahan dokumen persyaratan, kami baru menemukan lima bacaleg anggota DPR yang berstatus bekas napi kasus korupsi. Dalam tahapan berikutnya, KPU bisa saja me­nemukan lagi bacaleg eks napi kasus korupsi, karena kami mempunyai mekanisme berla­pis. Kami mencari informasi tentang salinan putusan MA, dan kami juga membuka ruang partisipasi masyarakat untuk melaporkan. Dua jalur itu kami tempuh semuanya.

Kelima orang itu dari dapil mana saja?

Kelima orang itu dari dua partai politik. Dua bacaleg itu terdaftar di daerah pemilihan (dapil) Aceh. Satu orang terdaf­tar di dapil Babel, satu orang di dapil Sulawesi Utara (Sultra), dan satu orang di dapil Jawa Tengah (Jateng).

Kelima bacaleg itu dari par­tai mana saja?
Enggak enaklah disebutin. Kan mereka juga masih bisa melakukan perbaikan kan. Para caleg itu masih bisa diganti.

Bagaimana KPU bisa mengetahui mereka eks napi kasus korupsi?
Kelima bacaleg diketahui dari dokumen yang mereka lampirkan pada saat didaftarkan. Dalam daftar riwayat hidupnya memang yang bersangkutan mencantumkan bahwa dirinya pernah dipidana kasus korupsi. Ada dasar salinan putusannya. Yang seperti ini bisa kami lang­sung eksekusi, memberikan status yang bersangkutan tidak memenuhi syarat, atau TMS. Jadi kami kembalikan kepada parpolnya untuk kemudian di­ganti.

Itu kan baru untuk bacaleg DPR. Kalau untuk DPRD?
Kalau untuk itu kami sam­pai saat ini belum mempunyai data, karena mereka sampai saat ini belum melaporkan. Tetapi prinsipnya, jika ada be­kas napi kasus korupsi menjadi bacaleg DPR, DPRD, atau DPD maka kami akan memberi status yang bersangkutan TMS (Tidak Memenuhi Syarat).

Artinya mereka otomatis dicoret dan tidak bisa men­calonkan diri?

Kalau istilah kami itu tidak memenuhi syarat. Tanggal 21 Juli 2018 itu kami menyampai­kan kepada partai politik tentang hasil verifikasi, kelengkapan, dan keabsahan dokumen per­syaratan. Pemberitahuan itu isinya lengkap, masing-masing bacaleg ada laporannya. Itu kan persyaratannya banyak, ada pen­didikan, kesehatan, dan lain-lain. Kalau kemudian ditemukan ada bekas napi kasus korupsi, maka akan kami beri status TMS.

Jadi pemberitahuan kami 21 Juli itu para bacaleg itu menda­pat tiga kategori status. Pertama MS, atau memenuhi syarat. Ini artinya bacaleg itu persyaratan­nya sudah lengkap. Kemudian ada yang belum memenuhi syarat, dan diminta syarat itu segera dilengkapi. Lalu baru ada status TMS. TMS itu antara lain bekas napi kasus korupsi, maka kami minta supaya diganti kepada partai yang bersangkutan.

Sekarang kan gugatan be­berapa bacaleg eks napi kasus korupsi di MA masih ber­proses. Itu bagaimana?
Kan begini, bahwa ada upaya dari berbagai pihak mengajukan pengujian PKPU di Mahkamah Agung (MA) itu kami hormati juga. Tetapi KPU kan tidak bisa diam. KPU kan harus tetap bek­erja sesuai tahapan. Karena kan jadwal tahapan sudah diatur secara rinci, jadi kami harus terus bekerja sesuai aturan yang ada saat ini.

Berarti seandainya MA me­mutuskan KPU harus mem­bolehkan para caleg eks napi ini maju, lalu nasib yang sudah dicoret ini bagaimana?
Ya tergantung bagaimana isi putusan MA-nya nanti. Kami belum memberikan respon itu, karena jika MA membuat pu­tusan kami harus mempelajari dulu bagaimana isinya, apakah putusannya berlaku surut atau tidak. Itu kan harus kami keta­hui dulu.

Kalau tidak berlaku surut berarti hanya yang menggugat nanti yang masih bisa maju?
Ya bisa juga pihak lain nanti. Kan masih tergantung bagaima­na kami pelajari isi putusannya nanti. Makanya kita sama-sama menunggu saja putusan MA nanti. Kami tidak biaa berandai-andai dalam situasi begini.

Batas waktu untuk pergan­tian bacaleg atau melengkapi berkasnya itu sampai kapan?
Batas waktunya 10 hari ter­hitung sejak 21 Juli 2018. Ini masih panjang perjalanan.

Jika sampai batas waktu bacaleg eks napi kasus korupsi tidak diganti bagaimana?
Jika tidak diganti, maka po­sisinya kosong karena mereka kan TMS. Tapi hasil komunikasi saya dengan salah satu pimpinan parpol terkait hal itu, parpol berkenan mengganti.

Sudah berkomunikasi den­gan MA terkait batas waktu­nya ini?
Berkomunikasi dengan MA sudah. Jadi melalui surat-menyurat, tidak langsung. Yang pasti KPU tetap bekerja sesuai dengan jadwal, tahapan, dan program. Kalau kita bicara pencalonan DPR dan DPRD, maka meng­gunakan PKPU 20/2018 yang antara lain normanya adalah bekas napi kasus korupsi tidak boleh mencalonkan diri. ***

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya