Optimisme Bung Karno pada pemuda harus menjadi optimisme semua pihak dalam melakukan pembinaan anak muda, demi bangsa dan negara.
Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal (Purn) TNI Moeldoko menjelaskan, jika anak muda dipetakan dengan kapasitas yang mereka miliki, maka bukan tidak mungkin pemuda Indonesia tersebut bisa menggemparkan dunia.
"Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia. Ini adalah pesan optimis yang selalu saya ingat," jelas mantan Panglima TNI itu di Jakarta, Rabu (25/7).
Pemikiran Bung Karno itu, sambung Moeldoko menjadi dasar pemerintah membentuk strategi pembinaan bakat di Tanah Air. Diharapkan dari strategi ini muncul talenta dan prestasi anak-anak Indonesia itu bisa bermanfaat bagi bangsa dan negara.
"Kita ingin menjaring potensi anak muda. Karena negara wajib memberikan kesempatan," katanya.
Agar jiwa nasionalisme anak muda tidak lekang saat berhasil nanti, maka penanaman sejarah bangsa Indonesia harus turut dikembangkan. Pemuda-pemuda wajib mempelajari sejarah. Karena kita tidak akan berada di hari ini, kalau tidak ada masa lalu
"Jasmerah, jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah. Ini juga harus menjadi pemikiran kita juga," demikian Moeldoko mengutip lagi pidato Bung Karno yang pernah terucap di HUT Indonesia tahun 1966 silam.
Secara terpisah Wakil Ketua Komisi X DPR, Sutan Adil Hendra mengamini pernyataan Moeldoko tersebut. Menurutnya, pemuda merupakan penerus perjuangan generasi terdahulu untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Pemuda menjadi harapan dalam setiap kemajuan di dalam suatu bangsa.
"Pemuda lah yang dapat mengubah pandangan orang terhadap suatu bangsa dan menjadi tumpuan para generasi terdahulu untuk mengembangkan suatu bangsa dengan ide-ide ataupun gagasan yang berilmu, wawasan yang luas, serta berdasarkan kepada nilai-nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat," ujar Sutan Adil.
Pemuda-pemuda generasi sekarang harus mencontoh tokoh bangsa seperti Bung Tomo, Bung Hatta, Ir. Soekarno, Sutan Syahrir, dan lain-lain yang rela mengorbankan harta, bahkan mempertaruhkan nyawa mereka untuk kepentingan bersama, yaitu kemerdekaan Indonesia.
"Generasi yang menjadi harapan mereka melanjutkan perjuangan mereka, tidak punya lagi semangat nasionalisme," sambungnya
Dikatakan dia, masa depan bangsa ada di tangan pemuda. Karenanya, pemuda harus memiliki semangat konstruktif bagi pembangunan dan perubahan.
"Pemuda tidak selalu identik dengan kekerasan dan anarkisme tetapi daya pikir revolusionernya yang menjadi kekuatan utama. Sebab, dalam mengubah tatanan lama budaya bangsa dibutuhkan pola pikir terbaru, muda dan segar," katanya.
[fiq]