Berita

Kapitra Ampera/Net

Wawancara

WAWANCARA

Kapitra Ampera: Anak-Istri Saya Sudah Tak Menegur, Bahkan Saya Sudah Dipanggil Cebong

RABU, 25 JULI 2018 | 08:09 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Setelah namanya masuk dalam daftar caleg PDIP, Kapitra mengungkapkan dirinya lang­sung dicap sebagai pengkhianat oleh Persaudaraan Alumni 212- demonstran yang dulu menun­tut agar bekas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok) diadili dalam kasus penistaan agama.

Meski dicap sebagai pengkhi­anat, Kapitra pantang mundur. Katanya, dia ingin membuktikan berjuang untuk Islam bisa tetap dilakukan meski lewat PDIP. Berikut pernyataan Kapitra;

Jadi benar nih Anda nyaleg lewat PDIP?
Iya benar saya mencalonkan dari PDIP. Saya sudah dicalonk­an oleh PDIP sebagai bakal calon legislatif. Meski demikian saya ingin persyaratan dari saya harus diakomodir.

Iya benar saya mencalonkan dari PDIP. Saya sudah dicalonk­an oleh PDIP sebagai bakal calon legislatif. Meski demikian saya ingin persyaratan dari saya harus diakomodir.

Memang apa saja syarat­nya?
Saya mengajukan tiga syarat. Antara lain saya harus men­jadi jembatan kebaikan baik luar maupun dalam. Identitas keislaman saya harus tetap tegak berdiri. Dan aspirasi umat isti­lahnya 80 persen sebagai warga negara harus diprioritaskan.

Syarat Anda itu apakah disetujui oleh PDIP?
Ya iya dong. Kalau tidak untuk apa saya maju bacaleg dari PDIP.

Yang meminta Anda nyaleg siapa?
Dari PDIP yang meminta mencalonkan saya.

Berarti Anda sudah bertemu dengan Sekjen PDIP, Hasto Kristianto dong untuk urusan pencalegan?
Belum pernah.

Lantas siapa orang PDIP yang sudah menyetujui syarat-syarat yang Anda minta itu?
Adalah pokoknya orang-orang yang diutus PDIP.

Sepertinya Anda merasa pede banget nyaleg lewat PDIP pakai meminta syarat-syarat segala. Apa sih tujuan Anda memberikan syarat-syarat kepada PDIP itu?
Untuk menjaga perjuangan umat Islam. Negara ini didirikan agar umat Islam terjaga, diakui, dan dihargai eksistensinya. Sehingga tidak ada lagi kriminalisasi. Sekarang begini saja gula naik, semua naik, apa pesannya sampai ke Presiden atau tidak? Nah, kalau saya di dalam kan bisa disampaikan bagaimana ini kebijakan pemerintah? Sebentar-bentar kok barang naik. Jika aspirasi saya tidak digubris keluarlah saya, apa susahnya sih.

Kapan syarat itu harus di­laksanakan oleh PDIP?
Ya nanti dululah saya baru bacaleg. Syarat saya saja belum masuk. Sabar dulu sajalah.

Dengan memutuskan nyaleg melalui PDIP berarti Anda sudah siap dong dihujat oleh pendukung Habib Rizieq, mengingat posisi Anda saat ini boleh dibilang berlawanan dengan mereka?
Oh bukan hanya sudah siap, malah saya sudah dicaci dan di­hina. Terlebih lagi saya dipanggil cebong. Untung saya tidak diseruduk Banteng di dalamnya, sementara di luar mau menyem­belih saya. Ini fenomena tidak populer, namun bukan juga saya mencari popularitas. Anak dan istri saya saja tidak menegur sa­ya sampai saat ini. Mereka tidak setuju dengan saya. Bahkan ada yang bilang saya meninggal tidak perlu dimakamkan, ya sudah bakar saja tidak apa-apa. Tapi saya akan buktikan bahwa yang saya perjuangkan mudah-mudahan tidak sia-sia. lihat saja yang terpenting adalah ijtihad.

Anda sepertinya hanya men­cari sensasi saja nih?

Saya ingin tegaskan ini kepu­tusan yang tidak populer. Kalau ingin mencari popularitas saya sudah populer sebelum bersentu­han dengan PDIP. Apalagi pen­calonan saya bukan semata-mata menjadi caleg, tidak penting itu. Terpenting saya bisa berjuang dari dalam sehingga ada sin­ergitas antara berjuang diluar partai dan disambut oleh partai. Saya pernah bertemu Presiden. Kata Presiden "Pak Kapitra kenapa tidak dari kemarin minta bertemu?" Saya katakan Presiden kita aksi 212, 411 itu mau bertemu Pak Jokowi untuk menyampaikan aspirasi. Lalu dipotong Pak Wiranto. Sekarang lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Jadi tidak se­mua aspirasi kita itu sampai pada kekuasaan, mengingat ada saja yang menghalangi. Maka dari itu saya korbankan diri saya agar saya bisa berjuang dari dalam membela umat Islam.

Maksudnya?
Orang yang tadinya cinta sama saya sekarang jadi benci. Jadi se­mata-mata untuk membela keis­laman. Saya pun mencalonkan ke PDIP pakai syarat. Negara kita 80 persen muslim maka kepentingan Islam harus diprioritaskan. Saya harus menjadi jembatan kebaikan mengingat itu penting menurut saya. Kalau dimampukan maka saya mau. Kalau tidak saya lang­sung keluar dari PDIP.

Apakah sudah dapat restu Habib Rizieq Shihab?
Tidak ada yang setuju saya masuk PDIP, mana ada yang setuju. Makanya belum lama salah seorang ulama menghubungi saya katanya sedih dan kecewa sama saya. Akan tetapi tidak apa-apa biar waktu yang menentukan. Sebab saya ini ten­gah meneruskan perjuangan. Kalau di luar terus bagaimana perjuangan ini tidak ada yang menyambut di dalam.

Tapi akan komunikasi dengan Habib Rizieq perihal ini?

Terus komunikasilah.

Kabarnya Anda sudah tidak menjadi kuasa hukum Habib Rizieq?
Belum cabut kuasa. Kalau ada yang mengatakan sudah tidak menjadi kuasa hukum Habib Rizieq sejak enam bulan lalu itu salah.

Sudah menjelaskan perihal ini dengan Presidium Alumni 212?

Sudah komunikasi, semua itu tidak setuju. Saya masuk PDIP mengorbankan diri untuk umat agar berjuang di dalam.

Tokoh yang mendukung Anda nyaleg dari PDIP siapa?
Yang bisa memahami saya masuk PDIP ada Adiyaksa Dault, Fahira Idris, Edwin Fahira. Beliau ini orang-orang yang bisa memahami alasan saya masuk PDIP.

Anda merasa mengkhianati umat Islam dengan nyaleg lewat PDIP?
Kok saya dituduh mengkhi­anati? Saya ini ingin memperluas ladang amal kok. Masa saya (di­tuduh) berkhianat? Memangnya saya dapat apa?

Anda kerap mengkritik ke­bijakan Presiden Jokowi, lan­tas bagaimana nanti Pilpres 2019 PDIP memutuskan men­calonkan Jokowi lagi sebagai capres?

Oh tidak ada urusan saya kalau untuk 2019. Saya nyaleg itubukan semata soal nyaleg melainkan soal bagaimana terus berjuang memperjuangkan umat Islam dari dalam. Tidak ada urusan dengan yang lain.

Kalau Anda terpilih menjadi wakil rakyat PDIP dan Jokowi terpilih kembali, apakah Anda akan tetap kritis ketika pe­merintah bersikap tidak pro terhadap umat Islam?
Syarat saya saja belum masuk sudah bicara kalau jadi.

Kenapa tidak nyaleg lewat partai lain?
Sekarang yang punya kekuasan PDIP. Sekarang masalah umat dan ulama dengan kekuasaan atau dengan siapa? Jadi kita itu harus berbaur dengan permasala­han maka di situlah kita mencoba untuk penetrasi. ***

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Tertekan Lonjakan Minyak, Harga Emas Dunia Anjlok ke Level 4.254 Dolar AS

Senin, 28 September 2026 | 08:30

Iran Siap Hadapi "Perang Kiamat" dengan AS

Senin, 28 September 2026 | 08:12

Jalan Terbuka Bagi Dividen BEI: Proses Demutualisasi Masuki Tahap Pengkajian Saham

Senin, 28 September 2026 | 07:52

Halal Jangan Berhenti di Sertifikat

Senin, 28 September 2026 | 07:38

IAMI Lahir di Jakarta, Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama

Senin, 28 September 2026 | 07:07

APH Harus Turun Tangan Tertibkan Tarif Parkir Tak Wajar

Senin, 28 September 2026 | 07:05

Kejagung Didesak Bongkar Mata Rantai Uang Chromebook

Senin, 28 September 2026 | 06:47

Pagar Nusa Kukuhkan 25 Kader Pasukan Inti di Taiwan

Senin, 28 September 2026 | 06:42

Indonesia Ikut Ajang WSC 2026 di Shanghai, Ini Manfaatnya

Senin, 28 September 2026 | 06:20

Ekosistem Logistik di Kawasan Timur Masih Penuh Tantangan

Senin, 28 September 2026 | 05:54

Selengkapnya