Berita

AHY/Net

Politik

Arief: AHY Bukan Hayam Wuruk, Dia Harus Menapak Dari Bawah

SELASA, 24 JULI 2018 | 00:43 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono enggan meminta maaf lantaran telah menyebut Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) seperti anak kecil lantaran tak punya pengalaman di bidang politik.

Arief menjelaskan bahwa pendapatnya itu didasarkan pada realita yang ada. AHY yang kini menjadi Komandan Kogasma Partai Demokrat diakui Arief memang memiliki riwayat pendidikan yang tinggi dan pernah berkarir di militer.

Namun, baginya, AHY masih baru dalam dunia politik, sekalipun putra sulung Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu pernah menjadi calon gubernur DKI Jakarta.


“Mohon maaf, saya tidak mau minta maaf. Tujuan saya untuk melatih AHY, agar dia juga kebal (kritik),” jelasnya saat dihubungi, Senin (23/7).

Arief juga menyoroti sejumlah hasil survei yang selalu menempatkan elektabilitas AHY di bagian atas dalam kategori calon wakil presiden potensial 2019. Dia meminta publik tidak tertipu dengan hasil rilis survei tersebut. Sebab, di dunia nyata, para kandidat yang akan bertarung di Pilpres 2019 harus nyata telah berbuat untuk rakyat.

“Dia pemain baru dalam politik, tidak bisa dipaksakan. Ini bukan kerajaan, ini negara demokrasi,” sambungnya.

Menurutnya, AHY harus mulai merintis karir di politik dari bawah. Dia harus bisa menyatu dengan rakyat agar mengerti apa yang dirasakan rakyat dan kemudian mencarikan solusi masalah itu lewat jalur politik yang sebenarnya.

AHY tidak bisa secara instan menjadi politisi besar tanpa melewati hal tersebut, sekalipun dia adalah putra presiden keenam RI.

“AHY bukan Hayam Wuruk, dia harus menapak dari bawah. Dia harus mendengar rakyat menangis tidak makan, mencium bau buruh dan petani,” tukasnya. [ian]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

UPDATE

Ketua MPR: Peternak Sejahtera, Indonesia Makmur

Sabtu, 25 April 2026 | 22:13

PPN Tiket Pesawat Ekonomi Ditanggung Pemerintah Selama 60 Hari

Sabtu, 25 April 2026 | 21:55

Wapres Gibran Tunjukan Komitmen untuk Indonesia Timur

Sabtu, 25 April 2026 | 21:48

Babak Baru Kasus Hukum Rismon, Dilaporkan Gara-gara Buku "Gibran End Game"

Sabtu, 25 April 2026 | 21:25

Pengusaha Warteg Keberatan Zulhas Beri Sinyal Minyakita Bakal Naik

Sabtu, 25 April 2026 | 20:51

Bukan Soal PAN, Daya Beli juga Tertekan kalau Minyakita Naik

Sabtu, 25 April 2026 | 20:36

Prof Septiana Dwiputrianti Dikukuhkan Guru Besar Politeknik STIA LAN Bandung

Sabtu, 25 April 2026 | 19:52

Modus Ganjal ATM Terbongkar, Empat Pelaku Dicokok

Sabtu, 25 April 2026 | 19:39

The Impossible Journey, Kisah Perjalanan AS Kobalen

Sabtu, 25 April 2026 | 18:44

Kawal Distribusi Living Cost, BPKH Pastikan Efisiensi Dana Haji 2026

Sabtu, 25 April 2026 | 18:24

Selengkapnya