Berita

Fahri Hamzah/Net

Politik

Logika Fahri Hamzah: Jika KPK Benar, Maka Jokowi Salah

SENIN, 23 JULI 2018 | 01:45 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Pemberantasan korupsi yang kian masif di negeri ini sering kali menuai pujian. Sebab, pemerintah dinilai berhasil memerangi para pejabat negara yang mencoba memainkan anggaran dan merugikan rakyat banyak.

Namun demikian, logika berbeda dilontarkan Wakil Ketua DPR RI dalam menanggapi aksi operasi tangkap tangan (OTT) yang marak dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kepada pejabat daerah dan anggota dewan.

Dalam logika Fahri, jika KPK benar dalam penindakan korupsi selama ini, maka itu bisa juga diartikan bahwa Jokowi sebagai presiden telah salah. Pemerintah, melalui Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) gagal memberikan pembinaan sehingga mengakibatkan para kepala daerah berbuat korup. Padahal, Jokowi sudah empat tahun memerintah negeri ini.


“Seandainya KPK benar, artinya Presiden tidak benar. Kenapa korupsi semakin banyak? Bukankah tugas presiden menciptakan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN? Nyatanya setiap hari dalam 4 tahun ini korupsi tambah banyak. Siapa salah siapa benar?” ujar Fahri dalam akun Twitter @fahrihamzah, Minggu (22/7).

Fahri kemudian mengambil contoh OTT KPK terbaru yang dilakukan di Lapas Sukamiskin. Dalam OTT ini, sambung Fahri, jika KPK benar tentang dugaan suap yang diterima Kalapas Sukamiskin Wahid Husen dari narapidana untuk memberikan fasilitas mewah, maka akan menjadi bukti bahwa Jokowi telah salah atau gagal.

“Sebab Lapas itu di bawah kabinet, khususnya Kemenkumham yang diduga ada pembiaran. Lalu siapa sebenarnya yang benar Jokowi atau KPK? Masak yang terus dikorbankan pejabat bawahan?” terangnya.

“Ada banyak sekali paradoks di negeri ini di bawah pimpinan Presiden Jokowi dengan tugas membangun pemerintahan yang bersih dan korupsi kolusi dan nepotisme. Tapi buktinya, menurut KPK semuanya tambah merajalela. Seandainya KPK benar, maka Jokowi lah yang gagal,” tukas Fahri. [ian]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

UPDATE

Ketua MPR: Peternak Sejahtera, Indonesia Makmur

Sabtu, 25 April 2026 | 22:13

PPN Tiket Pesawat Ekonomi Ditanggung Pemerintah Selama 60 Hari

Sabtu, 25 April 2026 | 21:55

Wapres Gibran Tunjukan Komitmen untuk Indonesia Timur

Sabtu, 25 April 2026 | 21:48

Babak Baru Kasus Hukum Rismon, Dilaporkan Gara-gara Buku "Gibran End Game"

Sabtu, 25 April 2026 | 21:25

Pengusaha Warteg Keberatan Zulhas Beri Sinyal Minyakita Bakal Naik

Sabtu, 25 April 2026 | 20:51

Bukan Soal PAN, Daya Beli juga Tertekan kalau Minyakita Naik

Sabtu, 25 April 2026 | 20:36

Prof Septiana Dwiputrianti Dikukuhkan Guru Besar Politeknik STIA LAN Bandung

Sabtu, 25 April 2026 | 19:52

Modus Ganjal ATM Terbongkar, Empat Pelaku Dicokok

Sabtu, 25 April 2026 | 19:39

The Impossible Journey, Kisah Perjalanan AS Kobalen

Sabtu, 25 April 2026 | 18:44

Kawal Distribusi Living Cost, BPKH Pastikan Efisiensi Dana Haji 2026

Sabtu, 25 April 2026 | 18:24

Selengkapnya