Berita

Foto/Net

Bisnis

Indonesia Harus Intensifkan Ekspor Ke Negara Non Tradisional

RABU, 18 JULI 2018 | 14:24 WIB | LAPORAN:

Indonesia masih berpotensi meningkatkan nilai ekspor di tengah wacana pencabutan fasilitas generalized system of preference (GSP) oleh Amerika Serikat. Salah satunya melalui ekspor ke negara-negara non tradisional.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Novani Karin Saputri mengatakan, pasar ekspor ke negara non tradisional dapat menjadi salah satu solusi mengatasi defisit neraca perdagangan. Nilai ekspor Indonesia terhadap negara non tradisional relatif mengalami surplus dalam satu tahun terakhir, terutama ke Turki dan Bangladesh.

Nilai neraca perdagangan Indonesia dengan Turki terus mengalami peningkatan. Pada 2013, nilainya mencapai USD 221.265,8 dan naik menjadi USD 415.483,7 pada 2014 dan USD 909.011,9 pada 2015. Pada 2016 dan 2017 jumlahnya menjadi USD 712.915,4 dan USD 634.871,7. Nilai neraca perdagangan yang terus meningkat juga terjadi pada Indonesia dengan Bangladesh. Pada 2013 nilainya adalah USD 978.289,7 dan meningkat menjadi USD 1.306.319,2 pada 2014. Pada 2015 ada sedikit penurunan menjadi USD 1.281.323,2 dan kembali naik pada 2016 menjadi USD 1.198.283,8 dan USD 1.522,607,9 pada 2017.


Neraca perdagangan Indonesia dengan dua negara tersebut mengalami kenaikan surplus masing-masing 48,97 persen untuk Turki dan 43,44 persen untuk Bangladesh.

"Kondisi ini menjelaskan bahwa produk Indonesia diterima dengan baik oleh negara-negara non tradisional. Selain peningkatan kualitas produk Indonesia supaya daya saing makin kuat, sudah saatnya pemerintah melihat potensi dari negara-negara non tradisional. Pemetaan penting dilakukan supaya pasar untuk produk Indonesia semakin luas," papar Novani kepada wartawan, Rabu (18/7).

Menurutnya, Indonesia harus memanfaatkan perjanjian perdagangan internasional, terutama yang sudah berlangsung, untuk meningkatkan volume nilai ekspor. Kesempatan itu baik, terutama di tengah defisit neraca perdagangan. Selain mendapatkan pangsa pasar baru, Indonesia juga dapat memperoleh penghapusan dan atau pengurangan tarif impor untuk beberapa produk yang selama ini sudah tercantum dalam perundingan lndonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).

Indonesia juga harus mempertimbangkan negara-negara non tradisional yang berpotensi besar untuk menyerap produk-produk ekspor. Pemerintah harus segera menganalisis dengan baik seputar keuntungan yang selama ini diperoleh dari transaksi perdagangan internasional dengan negara non tradisional.

"Indonesia tidak hanya mengandalkan ekspor ke negara selama ini sudah lama mengadakan perjanjian dagang, tetapi juga harus melebarkan sayap ekspor ke negara-negara non tradisional dengan memperhatikan pasar dan kebutuhan di negara tersebut. Perlu adanya upaya untuk membentuk segmen pasar dalam negeri yang mampu menyediakan kebutuhan-kebutuhan negara non tradisional. Beberapa negara-negara non tradisional mengalami pertumbuhan ekonomi yang menggiurkan dan ini tepat bagi Indonesia untuk menggenjot ekspor ke negara tersebut," jelas Novani.

Dia menambahkan, negara seperti Arab, Turki dan Bangladesh memiliki peluang yang bagus karena diprediksi akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang kuat. Belum lagi Afrika yang sekarang mengalami pertumbuhan penduduk relatif cepat, sehingga diprediksi kebutuhan akan produk-produk tertentu akan meningkat.

"Pemerintah juga dapat menciptakan pasar baru yang mampu memproduksi produk-produk dengan kualitas yang sesuai dengan harapan pasar di negara-negara non tradisional. Sehingga Indonesia harus menciptakan potensi bisnis baru yang dapat memaksimalkan nilai ekspor," demikian Novani. [wah]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Pernah Tembak Mati Perampok Toko Emas, Eks Kapolres Jakbar Kini Jabat Kapolda Papua Barat

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:17

PIEP Datangkan 450 Ribu Barel Minyak dari Aljazair

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:07

Din Syamsuddin Tawarkan Konsep Etika Global Bersama di Forum Internasional Mauritius

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:05

KSP Kawal Ketat Kopdes Merah Putih hingga Capai Target

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:04

Strategi Pertamina Trans Kontinental Jaga Stabilitas Kinerja 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:49

Lebih dari 42 Ribu Warga Ikut Pilih Logo HUT RI ke-81

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:40

Ketika Demonstrasi Punya Harga, yang Mati Bukan Hanya Integritas Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:34

Forum Bersama Raja Charles III, Jumhur Bicara Kebijakan Pengelolaan Limbah

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:30

Menkop Gandeng KSP Percepat Operasionalisasi Kopdes

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:23

AKBP Supriyanto jadi Kapolres Pertama Kawasan IKN

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:20

Selengkapnya