Berita

Syafruddin Arsyad Temenggung/Net

Hukum

Kuasa Hukum: Soal Penghapusan Utang Syafruddin Ikut KKSK

RABU, 18 JULI 2018 | 02:58 WIB | LAPORAN:

. Sidang lanjutan SKL BDNI dengan terdakwa Syafruddin Arsyad Temenggung (SAT) mengungkap fakta penghapusan utang petani tambak dibahas dalam Rapat Kabinet terbatas di era pemerintahan Megawati Soekarnoputri.

Mantan Menko Ekuin dan ketua Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK), Dorojatun Kuntjoro Jakti dalam kesaksiannya di persidangan, Senin (16/7) menjelaskan dalam rapat kabinet terbatas pada 11 Februari 2004, membahas usulan penetapan utang petani tambak sebesar Rp100 juta sehingga total Rp1,1 triliun.

Sedangkan sisanya sebesar Rp2,8 triliun dihapus bukukan di level petambak. Namun utang tersebut tetap tercatat menjadi dijamin oleh PT Dipasena Citra Darmaja (PT DCD).


Menurut Dorojatun dalam rapat tidak ada yang keberatan termasuk Presiden Megawati Soekarnoputri.

Rapat kabinet tersebut dihadiri antara lain Wakil Presiden Hamzah Haz, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Hukum dan HAM Yusril Ihza Mahendra, Menteri Keuangan Boediono, Menteri BUMN Laksamana Sukardi dan juga Ketua BPPN Syafruddin Arsyat Temenggung.

Dorojatun menjelaskan Syafruddin sendiri melaporkan kepada Presiden Megawati Soekarnoputri soal usulan penghapusan utang (write off) petambak sejumlah Rp2,8 triliun.

Kuasa hukum Syafruddin, Hasbullah menjelaskan karena dalam rapat terbatas tidak ada keberatan KKSK kemudian mengeluarkan putusan pada tanggal 13 Februari 2004. Draft keputusan KKSK dibuat oleh seketaris KKSK Lukita Dinarsyah Tuwo.

Hal inilah yang menjadi dasar kliennya mengeluarkan putusan sesuai dengan rekomendasi KKSK untuk pemberian bukti penyelesaian sesuai dengan perjanjian Pemegang saham BDNI dengan BPPN.

Syafruddin sambung Hasbullah melakukan pelepasan dan pembebasan sesuai dengan Inpres No 8 tahun 2002.

"Ini merujuk putusan KKSK tanggal 17 Maret 2004," ujarnya saat dihubungi, Selasa (17/7).

Hasbullah juga menjelaskan dalam sidang Dorojatun juga menjelaskan bahwa setelah penutupan BPPN, situasi perekonomian Indonesia menunjukan adanya kemajuan.

Menurut Hasbullah hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan BPPN dalam melakukan tugasnya, merestrukturisasi  perbankan di Indonesia.

"Makro ekonomi membaik, perekonomian Indonesia juga mulai pulih," jelasnya. [rus]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Pernah Tembak Mati Perampok Toko Emas, Eks Kapolres Jakbar Kini Jabat Kapolda Papua Barat

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:17

PIEP Datangkan 450 Ribu Barel Minyak dari Aljazair

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:07

Din Syamsuddin Tawarkan Konsep Etika Global Bersama di Forum Internasional Mauritius

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:05

KSP Kawal Ketat Kopdes Merah Putih hingga Capai Target

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:04

Strategi Pertamina Trans Kontinental Jaga Stabilitas Kinerja 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:49

Lebih dari 42 Ribu Warga Ikut Pilih Logo HUT RI ke-81

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:40

Ketika Demonstrasi Punya Harga, yang Mati Bukan Hanya Integritas Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:34

Forum Bersama Raja Charles III, Jumhur Bicara Kebijakan Pengelolaan Limbah

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:30

Menkop Gandeng KSP Percepat Operasionalisasi Kopdes

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:23

AKBP Supriyanto jadi Kapolres Pertama Kawasan IKN

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:20

Selengkapnya