Berita

Bisnis

Misbakhun Puji Ikhtiar Pemerintah Dan BI Jaga Rupiah

Depresiasi Rupiah Relatif Terkendali
MINGGU, 15 JULI 2018 | 16:39 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

Anggota Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun meminta semua pihak tak serta-merta menyalahkan pemerintahan Presiden Joko Widodo terkait depresiasi kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Menurutnya, depresiasi rupiah masih relatif terkendali di tengah penguatan nilai tukar dolar AS yang menjadi persoalan global.

"Pemerintahan Presiden Jokowi telah melakukan langkah-langkah yang konkret dan terus-menerus untuk mengatasi masalah ini termasuk melakukan langkah koordinasi dengan Bank Indonesia selaku otoritas yang bertanggung jawab soal stabilitas nilai tukar dan OJK selaku pengawas industri jasa keuangan," ujar Misbakhun, Minggu (15/7).

Kurs dolar AS saat Presiden Jokowi dilantik pada 20 Oktober 2014 adalah sekitar Rp 12.030.  Dolar Paman Sam pernah berada di kisaran Rp 14.800 pada 24 September 2015. Namun, kini di kisaran Rp 14.400.


Politikus Golkar yang dikenal gigih membela kebijakan Presiden Jokowi itu lantas membandingkan depresiasi rupiah dengan mata uang negara-negara lain. Misalnya, peso Argentina.

Tiga tahun lalu, dolar AS setara dengan 9,1 peso. Tapi dua tahun silam, peso terdepresiasi. Nilai dolar AS menjadi 14,8 peso.

Setahun kemudian peso kembali terdepresiasi. Nilai dolar AS meningkat menjadi setara 16,8 peso. Sedangkan enam bulan lalu, dolar menguat menjadi setara 18,6. Bahkan sebulan silam peso makin terdepresiasi. Dolar pun menjulang menjadi 25,6 peso. Sedangkan saat ini satu dolar setara 27,1 peso.

"Size ekonomi Indonesia dengan Argentina memang berbeda. Tapi depresiasi Peso ini sudah mencapai 300 persen dalam tiga tahun," ujarnya.

Demikian pula dengan rupee India. Sekitar sepuluh tahun lalu dolar AS masih setara dengan 42,1. Kemudian lima tahun lalu dolar AS menjadi setara 59,3. Setahun lalu, dolar sudah menjadi 64,3 rupee. Tapi sebulan silam kurs Rupe terhadap dolar kian anjlok. Dolar AS menjadi setara 67,1. Berdasar catatan terkini, satu dolar sudah menjadi setara 68,5.

Misbakhun juga menyinggung soal depresiasi lira Turki. Tiga tahun lalu dolar AS setara 2,63. Tapi dua tahun lalu, dolar AS terkerek menjadi 2,88. Setahun lalu kurs dolar AS meningkat menjadi 5,3 lira. Sedangkan enam bulan lalu, dolar menjadi 4,65, dan kini menjadi 4,84 lira.

"Mata uang lira Turki dalam jangka waktu tiga tahun mengalami depresiasi. Size ekonomi Turki hampir mendekati Indonesia sebagai emerging market country walaupun secara spesifik mempunyai banyak juga perbedaan dalam hal sumber daya alam, sistem ekonomi, struktur pasar dan beberapa para meter," tutur Misbakhun.

Mantan pegawai pajak Kementerian Keuangan itu menambahkan, depresiasi yang dialami peso, rupee maupun lira menjadi bukti bahwa ada permasalahan di banyak negara emerging market. Misbakhun meyakini menguatnya USD bukan persoalan Indonesia saja.

"Ini persoalan global. Tinggal adalah bagaimana persoalan tersebut di atasi dan diantisipasi dampak-dampak negatifnya terhadap perekonomian nasional," katanya.[dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

UPDATE

Rano: Pendidikan Harus Memerdekakan Manusia

Jumat, 08 Mei 2026 | 00:05

Car Free Day di Rasuna Said Digelar Perdana 10 Mei

Kamis, 07 Mei 2026 | 23:34

Kasus Pemukulan Waketum PSI Bro Ron Berujung Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 23:12

Kali Kukuba di Halmahera Timur Diduga Tercemar Limbah PT FHT

Kamis, 07 Mei 2026 | 23:00

Pemerintah Bebaskan Pajak Restrukturisasi BUMN

Kamis, 07 Mei 2026 | 22:39

Negara Disebut Kehilangan Ratusan Triliun dari Bisnis Sawit

Kamis, 07 Mei 2026 | 22:15

Akper Husada Naik Kelas Jadi STIKES

Kamis, 07 Mei 2026 | 22:06

Dugaan Jual Beli Jabatan Pemkab Cianjur Bisa Rusak Meritokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 21:27

DPR Usul 1 Puskesmas Punya 1 Psikolog

Kamis, 07 Mei 2026 | 21:04

New Media Merasa Dicatut, DPR Minta Bakom Lebih Hati-hati

Kamis, 07 Mei 2026 | 20:50

Selengkapnya