Berita

Rachland Nashidik/Net

Politik

Presidential Threshold Upaya Berencana Bunuh Demokrasi

SABTU, 07 JULI 2018 | 14:05 WIB | LAPORAN:

Pemberlakuan ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold (PT) merupakan upaya dari pemerintah melakukan pembunuhan berencana terhadap kehidupan berdemokrasi di negeri ini.

Begitu kata Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat, Rachland Nashidik dalam diskusi bertajuk 'Meraba Pasangan Capres-Cawapres' di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/7).

“Ambang batas presiden ini adalah pembunuhan berencana terhadap demokrasi," tegasnya.


Dia menjabarkan bahwa pemberlakuan PT 20 persen kuota kursi DPR RI atau 25 persen suara pemilih merupakan cara dari partai koalisi pemerintah untuk menyempitkan jalan bagi lawan politik untuk mengusung pasangan calon presiden maupun calon wakil presiden.

"Bayangkan namanya jalan yang mengalami kemacetan atau bottle neck atau di belakang banyak calon tapi harus macet-macetan karena disempitkan. Jadi ada yang menginginkan penantang Pak Jokowi dengan parpol yang begitu banyak harus menyesuaikan diri," ujarnya.

Buktinya, lanjut anak buah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu, saat ini hanya ada satu tokoh yang digadang-gadang akan menantang Jokowi, yakni Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Padahal banyak tokoh partai yang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk memimpin bangsa ini.

Lebih lanjut, dia khawatir jika partai-partai yang tidak bisa mencalonkan kadernya akan ditinggalkan para pemilih, hal itu juga akan berlanjut pada Pilpres 2024 nanti.

“Dengan adanya efek ekor jas ini, partai yang tidak bisa dicalonkan akan ditinggalkan pemilih. Kalau itu terjadi di 2024, partai yang kalah kini akan kalah lagi, akibatnya threshold makin sulit," pungkasnya. [ian]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya