Berita

Tantowi Yahya/Net

Politik

Indonesia Dan Selandia Baru Jajaki Kerjasama Ekonomi Kreatif

KAMIS, 05 JULI 2018 | 09:53 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Hubungan Indonesia dan Selandia Baru memasuki usia ke 60 di tahun ini. Hubungan diplomatik kedua negara dijalin pada bulan Juli tahun 1958. Sebagai perayaannya, serangkaian program telah dipersiapkan dan sebagian sudah dilaksanakan baik oleh Kedutaan Besar Selandia Baru di Jakarta maupun oleh KBRI di Wellington.

Dalam kaitan tersebut, KBRI Wellington bekerjasama dengan Asean-NZ Busines Council menyelenggarakan seminar ekonomi kreatif, "60 years on-the opportinities in the digital age" di Wellington. Pemilihan tema ini dikarenanakan kedua negara dikenal sebagai negara yang mempunyai komitmen tinggi untk menjadikan ekonomi kreatif sebagai tulang punggung perekonomian negara.

Tampil sebagai pembicara Dubes RI, Tantowi Yahya dan Agung Sentausa, Ketua Komisi Investasi Film Badan Perfilman Indonesia. Sedangkan pembicara kunci dari pihak Indonesia adalah Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf dan dari Selandia Baru, Hon David Parker, Jaksa Agung merangkap Menteri Perdagangan dan Pengembangan Ekspor.



Materi yang disampaikan para pembicara kemudian dibahas oleh 3 panelis yang mewakili berbagai industri kreatif di Selandia Baru. Mengawali seminar, Dubes Tantowi Yahya menyampaikan bahwa Indonesia saat ini bertekad untuk menjadi sebagai salah satu pemain utama ekonomi kreatif dunia. Tekad ini selayaknya dimanfaatkan oleh Selandia Baru untuk mulai menggagas berbagai kerjasama.


"Pasar Indonesia yang begitu besar dan keuntungan demografis yang kita punya, harus mampu menjadi daya tarik bagi pengusaha-pengusaha di bidang kreatif di Selandia Baru untuk investasi di kita" jelas Tantowi dalam keterangannya (Kamis, 6/7).

Hampir 100 orang praktisi ekonomi kreatif dari berbagai kota di Selandia Baru hadir dan mengikuti secara aktif seminar yang baru pertama kali dilaksanakan ini. Dalam paparannya Triawan Munaf menjelaskan bahwa Pemerintah saat ini mempunyai komitmen tinggi untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu kekuatan besar ekonomi  kreatif di dunia sebelum 2030. Ada 16 sub sektor ekonomi terutama kuliner, fashion dan kerajinan yang merupakan 77, 6 persen dari ekonomi kreatif Indonesia dan sub sektor prioritas yakni  film, animasi, video, aplikasi dan games serta musik) yang didorong oleh Bekraf. Ekonomi kreatif Indonesia menyumbang 66,61 milyar dolar AS atau 7,44 persen dari GDP.

"Sumbangan ekonomi kreatif terhadap GDP kami merupakan terbesar ketiga di dunia, hanya kalah oleh Amerika dan Korea Selatan" jelas Triawan.

Mewakili industri perfilman, Agung Sentausa menjelaskan bahwa untuk melayani penduduk yang jumlahnya lebih dari 260 juta, layar bioskop di Indonesia baru dikisaran 1400 an. Dibutuhkan 2000 layar lagi untuk mencukupi kebutuhan tersebut. Indonesia sejak 2016 melalui Perpres no 44, Pemerintah telah mencabut usaha bioskop dan film dari daftar negatif investasi.

"Peluang yang harus dimanfaatkan oleh Selandia Baru," jelas Agung.

Merespon data dan harapan Indonesia tersebut, para panelis dan khususnya Menteri David Parker menjelaskan Selandia Baru membuka peluang sebesar-besarnya bagi Indonesia untuk menjajajaki berbagai kerjasama di ekonomi/industri kreatif. Kemajuan Selandia Baru di industri perfilman lewat film-film box office seperti Lord of the rings, Hobbit, Iron Man, Avatar, King Kong dll dapat dikolaborasikan dengan keinginan kita untuk melahirkan film-film box office dengan tehnogi  dan animasi kelas dunia yang beredar secara global.

Triawan secara eksplisit mengatakan kehebatan Selandia Baru dalam menjadikan museum sebagai daya tarik pariwisata lewat kecanggihan tehnologinya harus kita transfer.

"Saya bermimpi museum diorama di Monas dapat menjadi museum modern dan hidup seperti Galipoli di  Museum Te Papa Wellington," harap Triawan. [rus]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Dua Nama Hilang dari Daftar Calon BPK

Kamis, 10 September 2026 | 00:17

UAG Perkuat Sekolah Rakyat dan Talenta Halal Nasional

Kamis, 10 September 2026 | 00:06

Langkah Berani Gubernur Sultra Tertibkan Aset Usik Zona Nyaman Oknum Tertentu

Rabu, 09 September 2026 | 23:52

DPRD DKI Dukung Perluas Program Pendidikan bagi Santri Perkotaan

Rabu, 09 September 2026 | 23:32

Salat Istisqa Digelar di Lahat, Bursah Zarnubi Mohon Hujan segera Turun Merata

Rabu, 09 September 2026 | 23:22

DPR Dorong Pembangunan dari Desa Lewat Rakernas AKSI

Rabu, 09 September 2026 | 23:20

Rosan Roeslani Masuk Dua Besar Menteri Berkinerja Terbaik

Rabu, 09 September 2026 | 23:00

DPR: Kalau Ada Laporan Masyarakat, Polri Tak Perlu Ragu

Rabu, 09 September 2026 | 22:59

Jangan Sampai Indonesia jadi Sasaran Empuk Jaringan Narkoba Internasional

Rabu, 09 September 2026 | 22:45

Mantan Napi KDRT Diduga Kriminalisasi Istri Lewat Kesaksian Palsu ART

Rabu, 09 September 2026 | 22:31

Selengkapnya