Berita

Foto/Biro Komunikasi Publik Kemen PUPR

Advertorial

Pembangunan Bendungan Paselloreng Dukung Swasembada Pangan

SELASA, 03 JULI 2018 | 23:35 WIB | LAPORAN:

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus meningkatkan luasan irigasi yang mendapatkan suplai air bersumber dari bendungan.

Pada periode 2015-2019 Kementerian PUPR menargetkan pembangunan 65 bendungan yang terdiri dari 49 bendungan baru dan 16 bendungan lanjutan.

Presiden Joko Widodo mengatakan sebanyak delapan bendungan yang mulai dikerjakan sebelumnya akan selesai tahun 2018.


Delapan bendungan tersebut yakni Bendungan Rotiklot di NTT, Bendungan Tanju, Mila di NTB, Bendungan Gondang dan Logung di Jawa Tengah, Bendungan Sei Gong di Batam, Bendungan Sindang Heula di Banten dan Bendungan Kuningan di Jawa Barat.

Hal itu dikatakan Jokowi saat meninjau progres konstruksi Bendungan Paselloreng di Desa Arajang Kecamatan Gilireng, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan (Sulsel), Selasa (3/7). Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, dan Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi turut mendampingi Jokowi.

Untuk Bendungan Paselloreng saat ini progres konstruksinya sudah 73,3 persen dan ditargetkan selesai akhir Februari 2019.

"Bendungan Paselloreng mampu menampung 138 juta m3 untuk mengairi 7 ribu hektar sawah. Bendungan yang kita bangun untuk menyiapkan air irigasi pertanian menuju swasembada pangan," kata Jokowi.

Kapasitas tampungnya 10 kali lebih besar dibandingkan Bendungan Raknamo yang diresmikan Jokowi pada awal 2018 lalu sebesar 13,5 juta m3 dan lima kali lebih besar dari Bendungan Kuningan yang berkapasitas 25 juta m3.

Bendungan multifungsi ini juga dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk 4 kecamatan di Kabupaten Wajo sebesar 305 lt/detik, Konservasi Sumber Daya Air, pengendalian banjir Sungai Gilireng (1002 m3/detik), perikanan air tawar, pengembangan Pariwisata, dan potensi listrik 0,8MW.

Konstruksi Bendungan Paselloreng dikerjakan oleh PT. Wijaya Karya serta PT. Bumi Karsa, KSO (Kerjasama Operasi) dengan biaya Rp736 miliar. Sementara sebagai konsultan supervisi adalah PT. Mettana, PT. Timor Konsultan, PT. Raya Konsultan KSO dengan nilai kontrak supervisi sebesar Rp37,5 miliar.

Konstruksi bendungan telah dimulai Juni 2015 dan ditargetkan selesai lebih cepat 4 bulan dari jadwal kontrak yakni Juli 2019 menjadi selesai akhir Februari 2019. Untuk pengadaan lahan, dari luas yang dibutuhkan 1.849,88 ha, sudah dibebaskan 681,98 ha (36,87 persen) sisanya dalam proses penyelesaian pembayaran bertahap untuk area genangan.

Di Sulsel, selain Bendungan Paselloreng juga tengah diselesaikan pembangunan dua bendungan yakni Bendungan Karalloe di Kabupaten Gowa dan Pamukkulu di Kabupaten Takalar yanga akan menambah tampungan air total sebesar 256 juta m3.

Bendungan Karalloe mulai dibangun Desember 2013, saat ini progresnya sudah mencapai 54% dan ditargetkan rampung tahun 2019. Kapasitas tampungnya sebesar 40 juta m3. Bendungan Pamukkulu mulai dibangun bulan November 2017, memiliki kapasitas tampung maksimum 78 juta m3. Saat ini progres konstruksinya mencapai 2,8 persen.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan mendukung penuh Provinsi Sulsel sebagai lumbung pangan nasional.

"Di Sulsel, masih terdapat hamparan lahan persawahan diatas 3.000 hektar yang sudah sulit ditemui di daerah lain. Produktivitasnya kita tingkatkan dengan ketersediaan air yang berkelanjutan dari bendungan" jelas Basuki.

Lahan pertanian potensial di Sulsel diperkirakan seluas 300 ribu hektar sehingga akan terus dioptimalkan. Tahun 2018 Kementerian PUPR akan memulai pembangunan Bendungan Jenelata Baja di Kabupaten Gowa yang kapasitasnya lebih besar dari Bendungan Passeloreng yakni sebesar 237 juta m3.

Secara nasional lahan irigasi seluas 7,3 juta hektare dimana baru 11 persen yang dilayani bendungan, sisanya mengandalkan air dari hujan atau sawah tadah hujan.

"Melalui pembangunan 65 bendungan akan meningkat menjadi 20 persen," jelas Basuki.

Turut hadir mendampingi Menteri PUPR yakni Dirjen Sumber Daya Air Imam Santoso, Dirjen Bina Marga Arie Setiadi Moerwanto, Direktur Utama PT Wijaya Karya Tumiyana, Kepala Pusat Bendungan Ni Made Sumiarsih, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan-Jeneberang T. Iskandar, Kepala BBPJN XIII Makassar Miftachul Munir, Direktur Operasi 1 PT Wijaya Karya Agung Budi W dan Kepala Biro Komunikasi Publik Endra S. Atmawidjaja. [nes]


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya