Berita

Hidayat Nur Wahid/Net

Wawancara

WAWANCARA

Hidayat Nur Wahid: Bela Palestina, Kita Harus Waspadai Jebakan Israel

KAMIS, 21 JUNI 2018 | 10:20 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kunjungan Yahya Cholil Staquf atau akrab dipanggil Gus Yahya ke Israel baru-baru ini menuai kritik keras di dalam negeri. Kunjungan tersebut dianggap tidak sejalan dengan sikap politik Indonesia yang mendukung kemerdekaan Palestina. Sorotan tajam terhadap Gus Yahya sebab lelaki lulusan Universitas Gadjah Mada tersebut menjabat sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (watimpres) dan Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Gus Yahya ke Israel memenuhi undangan American Jewish Community (AJC) pada medio 10-14 Juni lalu. Menanggapi kritik, Gus Yahya telah memberikan klarifikasi bahwa dirinya datang atas nama pribadi. Selain itu, dia juga menyampaikan kedatangan bagian dari upaya menghidupkan perdamaian, untuk membela Palestina. Namun demikian, pen­jelasan itu belum bisa meredakan kekecewaan sebagian masyarakat di Tanah Air.

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, salah satu tokoh yang selama ini dikenal aktif menggalang dukungan untuk Palestina memandang kunjungan Gus Yahya tidak menguntung­kan secara politik. Karena, ide baik Gus Yahya tidak digubris Israel. Politisi PKS itu mewanti-wanti semua kalangan di Tanah Air untuk hati-hati dengan jebakan politik Israel. Berikut ini pandangan Hidayat Nur Wahid selengkapnya mengenai polemik kunjungan Gus Yahya.


Bagaimana pandangan Anda mengenai kunjungan Gus Yahya Ke Israel?
Saya belum tahu posisi beliau di sana mewakili siapa dan untuk siapa? Saya hanya mengulang kembali pernyataan yang disam­paikan sejumlah pihak. PBNUtelah menyampaikan bahwa kun­jungan Pak Yahya tidak terkait dengan PBNU. Kemudian, Watimpres juga menyatakan, tidak terkait dengan urusan kunjungan pak Yahya. Jika beliau mengatasnamakan untuk membela Palestina, Fatah dan Hamas itu menolak dan tidak setuju ke­datangan beliau ke Israel. Jadi sebenarnya yang diperjuangkan itu siapa? Dan harus menjadi catatan, keberadaan Pak Yahya di Israil mendapatkan tepuk tangan meriah dari mereka.

Maksud Anda, dari sisi poli­tik, kunjungan Gus Yahya blunder?
Pak Yahya menyampaikan tentang pentingnya kasih sayang dan keadilan. Dan, saya belum lama bicara dengan Ibu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Ibu Retno memberikan informasi bahwa Israel menolak keras resolusi sidang umum PBB un­tuk memberikan perlindungan kepada warga sipil Palestina. Pak Yahya Staquf menyampaikan pidato pada hari Senin-Selasa (11 sampai 12 Juni). Dan, per­istiwa penolakan terhadap hasil sidang umum PBB oleh Israel dan negara lain konco-konconya pada hari Selasa-Rabu-nya. Pak Yahya menolak keras tindakan brutal terhadap masyarakat sipil di Gaza. Tetapi, sikap resmi Israil menunjukkan sikap yang tidak manis terhadap ide pak Yahya. Hal ini menunjukkan Israel tidak mengenal sikap kasih sayang, tidak mengenal keadilan, dan secara nyata menolak perlind­ungan terhadap hak sipil warga Palestina.

Gus Yahya menyampaikan kunjungannya bagian mem­bela Palestina. Bagaimana penilaian Anda?
Menurut saya, jika memang kita ingin berjuang untuk Palestina maka harus berada di wilayah membela kepentingan Palestina. Jangan kita masuk dalam jebakan dari kepentingan Israel. Kita semua harus hati-hati terhadap mereka.

Apakah kunjungan Gus Yahya melemahkanperjuanganmembela Palestina?
Pak Yahya sudah menyampaikan bahwa kunjungannya atas nama pribadi yang tidak terkait dengan sikap PBNUdan Watimpres. Namun demikian, kunjungan itu menimbulkan salah paham. Dampak kunjunganitu tentu bisa memberi­kan pengaruh ke dalam negeri. Kesalapahaman itu bisa menjadi pintu yang tidak mendukung Palestina untuk mengadudomba antar masyarakat Indonesia. Lebih jauh, untuk mengadu­domba masyarakat Indonesia dengan Palestina.

Menurut saya, untuk menghadapi Israel kita harus berpatokan kepada sikap resmi Israel. Sikap mereka sudah jelas. Sikap Israel kontradiktif dengan ide baik dari pak Yahya. ***

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya