Berita

Alireza Alatas/Net

Publika

Di Balik Nama Taksaka

RABU, 20 JUNI 2018 | 14:34 WIB

ALHAMDULILLAH saya hari ini (Rabu, 20/6) bersama keluarga berkesempatan mudik ke Yogyakarta. Kali ini, kami mudik dengan kereta Taksaka. Mendengar kata Taksaka, saya pun penasaran nama di balik penamaan kereta api ini.

Ternyata usut diusut, Taksaka adalah nama sebuah naga. Yang jelas, Taksaka bukan nama salah satu naga dari 9 Naga yang sekarang menjadi momok bagi negeri ini seperti yang disinggung Kwik Kian Gie dalam sebuah acara talk show televisi nasional.

Dalam mitologi Hindu, Taksaka (Sanskerta: तक्षक; Takṣaka) adalah salah satu naga, putera dari Dewi Kadru dan Kashyapa. Ia tinggal di Nagaloka bersama saudara-saudaranya yang lain, yaitu Basuki, Antaboga, dan lain-lain. Dalam Mahabharata, Naga Taksaka adalah naga yang membunuh Raja Parikesit.

Dalam kitab Adiparwa, Prabu Parikesit meninggal karena digigit Naga Taksaka yang bersembunyi di dalam buah jambu. Parikesit mati sesuai dengan kutukan Brahmana Srenggi.  


Menurut sebuah kisah, salah satu kesenangan Parikesit ini adalah berburu binatang di hutan. Suatu saat, ketika sedang berburu dan kelelahan mengejar buruannya, mampirlah Sang Raja ini ke sebuah pertapaan seorang brahmana. Saat itu sang pemilik pertapaan yang bernama Begawan Samiti sedang melakukan semedi sehingga tidak menghiraukan kedatangannya.

Merasa tidak dihiraukan dan didiamkan,  Parikesit kesal,  lalu ia mengambil bangkai ular dengan gendewanya dan dikalungkannya bangkai tersebut ke leher sang Begawan. Setelah itu ditinggalkannya begitu saja sang Begawan dengan lilitan bangkai ular di lehernya.

Beberapa saat kemudian datanglah Sang Srenggi, putra Begawan Samiti. Betapa murkanya ketika melihat kondisi ayahnya yang sedang bersemedi diperlakukan tidak hormat oleh seorang ksatria. Apalagi pelakunya adalah raja besar Hastinapura. Spontan keluarlah kutukan dari mulutnya, bahwa sang Raja akan mati dalam tujuh hari karena digigit ular.

Menariknya, Prabu Parikesit dalam cerita Jawa ternyata bukan tokoh antagonis seperti yang diceritakan di atas. Parikesit adalah putera Abimanyu alias Angkawijaya, kesatria Plangkawati dengan permaisuri Dewi Utari, puteri Prabu Matsyapati dengan Dewi Ni Yustinawati dari Kerajaan Wirata.

Ia seorang anak yatim, karena ketika ayahnya gugur di medan perang Bharatayuddha, ia masih dalam kandungan ibunya. Parikesit lahir di istana Hastinapura setelah keluarga Pandawa boyong dari Amarta ke Hastinapura.

Parikesit naik tahta negara Hastinapura menggantikan kakeknya Prabu Karimataya, nama gelar Prabu Yudistira setelah menjadi raja negara Hastinapura. Ia berwatak bijaksana, jujur dan adil.

Tidaklah heran bila kemudian ada yang bilang Jokowi seperti Prabu Parikesit. Tentu analogi itu bermaksud memuji Jokowi bukan menyindirnya.

Menurut Hermanto Dardak saat menggelar pagelaran pewayangan sebagai syukuran terlaksananya pemilu dengan aman 2014 lalu, terpilihnya Joko Widodo pada Pilpres 2014 dianalogikan seperti layaknya ksatria Pandawa, Parikesit, dalam cerita pewayangan.

Dari sisi lain, mungkin ada benarnya dengan apa yang disampaikan Hermanto Dardak. Saat ini Jokowi benar-benar terlilit naga. Tentu analogi Hermanto Dardak  bukan terliitnya Jokowi dengan ular karena kutukan, tapi maksudnya adalah versi lain Prabu Parikesit  yang diumpamamkan pemimpin yang adil.

Semoga  saja demikian. Jika tidak, nasib Jokowi bisa seperti Prabu Parikesit menurut versi umum, yaitu terlilit naga setelah menggangu ksatria semedi.

Bukankah saat ini Jokowi dinilai mengkriminalisasi ulama (baca: mengganggu ksatria) dan dihimpit di tengah tekanan naga yang mau melilitnya. Mungkin dari kisah di atas bisa diturunkan ke fakta saat ini. Faktanya, jika Jokowi tidak mengkriminalisasi ulama dan tidak mengabaikan wejangan para ksatria, maka ia niscaya akan terlepas dari sengatan naga.  [***]

Alireza Alatas
(Pembela ulama dan NKRI /aktivis SILABNA)

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Prabowo-Pramono Pasangan Kuat Luar Dalam

Sabtu, 04 April 2026 | 06:08

Ancaman Cuaca Ekstrem dan Air Bersih Warga

Sabtu, 04 April 2026 | 05:40

Batas ‘Scroll’ Anak

Sabtu, 04 April 2026 | 05:14

Jangan Keliru Pahami Langkah Prabowo soal Kunjungan ke Luar Negeri

Sabtu, 04 April 2026 | 05:12

Vicky Mundur dari Polisi, Kasus yang Ditangani juga Ikutan Mundur

Sabtu, 04 April 2026 | 04:38

Satu Orang Tewas Imbas Kecelakaan Beruntun di Tol Solo-Semarang

Sabtu, 04 April 2026 | 04:03

Negara Harus Tegas atas Gugurnya Tiga Prajurit TNI

Sabtu, 04 April 2026 | 04:00

Mobil Tertimpa Pohon Tumbang di Bandung, Sopir Tewas

Sabtu, 04 April 2026 | 03:38

IAW Peringatkan Potensi Kebocoran Lebih Besar di Bea Cukai

Sabtu, 04 April 2026 | 03:26

Dedi Mulyadi Lunasi Tunggakan Gaji Pegawai Bandung Zoo

Sabtu, 04 April 2026 | 03:03

Selengkapnya