Berita

Ilustrasi

Kesehatan

Hasil Studi: Bos Yang Buruk Bikin Stres

SELASA, 05 JUNI 2018 | 08:06 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Ini rasanya bukan kesimpulan yang begitu mengejutkan. Kaitan antara ruang kerja dengan kondisi kesehatan fisik dan psikis seseorang sudah sering dibicarakan.

Namun perlu juga disampaikan disini hasil studi yang menyimpulkan bahwa bagi 75 persen masyarakat Amerika Serikat, bos adalah penyebab utama stres di lingkungan kerja. Hasil studi Majalah Quartz itu dipublikasikan pertama kali di jejaring Linkedin.  

Menurut studi itu, semakin lama bekerja dengan seseorang yang membuat Anda stres, semakin besar kerusakan mental yang bisa dialami seseorang.


Menurut Quartz, data dari Asosiasi Psikologi Amerika memperlihatkan bahwa dari 75 persen warga Amerika yang mengatakan bos adalah penyebab stres di lingkungan kerja, sebesar 59 persen memilih tidak meninggalkan tempat kerja.

Data statistik memperlihatkan mereka yang bertahan itu pada akhirnya terbiasa dengan pekerjaan mereka walaupun mereka tidak bahagia. Mereka tidak termotivasi untuk mencari tempat kerja yang mungkin lebih baik.

Peneliti dari Harvard Business School and Stanford University menyimpulkan bahwa bos yang buruk lebih berbahaya dari rokok. Mereka mengumpulkan 200 hasil studi sebelumnya dan menemukan fakta bahwa stres di tempat kerja bisa merusak seperti dampak yang dihasilkan asap rokok.

Namun juga disebutkan bahwa dalam beberapa kasus, masalah dengan bos seringkali hanya persoalan suka atau tidak suka.

Studi tersebut juga menawaran strategi yang bisa diambil karyawan yang berada pada situasi sulit di tempat kerja.

Pertama, bikin goal harian dan berusaha lah sekuat mungkin untuk mencapainya. Begitu Anda bisa menyelesaikan goal harian, perasaan Anda bisa jauh lebih baik. Kedua, matikan email dan telepon genggam Anda selama akhir pekan atau di saat tidak bekerja. Ini bisa membantu Anda meningkatkan kembali baterai personal untuk menghadapi hari-hari berikutnya. [guh]


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Gibran Tanpa Ijazah

Senin, 05 Oktober 2026 | 00:26

Prabowo dan Presiden FIFA Bakal Saksikan Laga Indonesia Versus Thailand

Senin, 05 Oktober 2026 | 00:07

GPNN: Listyo Berhasil Ubah Kultur Kerja Polri

Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:47

Wantimpres Bukan Sekadar Membenarkan Keputusan Kekuasaan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:20

Indonesia Akhiri Asian Games 2026 dengan 5 Emas

Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:03

95 Persen Aspirasi Buruh Diklaim Masuk RUU Ketenagakerjaan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:45

DPR Yakin Merger BUMN Mampu Dongkrak Dividen

Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:19

Putusan Sidang Etik Mantan Kasat Reskrim Jakpus Dipertanyakan Kuasa Hukum

Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:56

Densus 88 Sikat 11 Tersangka Terorisme di Enam Provinsi

Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:35

Ketum PPP Targetkan Satu Fraksi di DPRD Surabaya pada Pemilu 2029

Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:23

Selengkapnya