Berita

Nasaruddin Umar/Net

Sosiologi Terorisme (4)

Sumber Dana Teroris

SELASA, 22 MEI 2018 | 11:41 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

SAMA dengan kelompok radikal, kalangan teroris umumnya mengelola sumber dananya sendiri. Mereka menyadari bahwa tidak mungkin bisa mem­peroleh dana terbuka dari masyarakat luas seperti halnya ormas-ormas lain, yang bebas mengirim proposal permohonan bantuan perjuangan umat. Mereka juga me­nyadari tidak mungkin memperoleh bantuan dana dari pemerintah. Bahkan pemerintah dinilai amat proaktif memotong mata rantai sumber-sumber dana mereka, baik dari dalam negeri melalui regulasi ketat, maupun bantu­an dari luar negeri melalui pemantauan pen­giriman dan transfer dana dari luar yang men­curigakan. Mereka juga sulit mendapatkan pendanaan dari pihak swasta atau pengusa­ha, karena tentu pihak mereka khawatir usa­hanya akan gulung tikar setelah diisukan pen­dukung dana terorisme atau kelompok garis keras. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi kelompok teroris.

Mereka tidak mungkin membawa uang cash atau travel check dari luar negeri karena jika ketahuan maka bukan hanya dana itu akan di­ambil tetapi dirinya juga akan ditahan jika tidak mampu mempertahankannya. Karena itu mer­eka berusaha mencari akal untuk memperoleh dana dari luar melalui pengiriman surat-surat berharga non-uang atau check. Kelompok jar­ingan teroris pernah ditemukan menggunakan permata atau berlian yang bernilai tinggi un­tuk lolos dari X-ray. Di beberapa tempat, ter­urama di perbatasan Sumatera dan Malaysia sering ditemukan penyelundupan ganja yang kemudian ditukar dengan senjata dari nega­ra-negara lain. Di antara mereka juga memi­liki keahlian memproduksi narkoba untuk se­lanjutnya dijadikan sumber keuangan di dalam membiayai perjuangan mereka. Bahkan ada yang merampok bank dan toko-toko emas untuk mendanai perjuangan mereka, seperti yang dilakukan kelompok teroris yang sudah ditangkap di beberapa tempat.

Mereka berusaha menciptakan sumber-sumber ekonomi mandiri dari para ang­gotanya dengan menyisihkan sebagian be­sar keuntungan untuk mendanai perjuangan mereka. Mungkin karena ada motivasi kuat, maka etos kerja kelompok ini sangat gigih. Bahkan merelakan diri siang dan malam mengoleksi dana-dana recehan, seperti yang pernah ditemukan mengoleksi dana recehan dari pinggir jalan melalui kotak-kotak amal, menjual produk-produk tertentu melalui bisnis multi level system, atau apa saja yang bisa menghasilkan uang untuk mendanai perjuan­gan mereka. Secara konvensional uang cash dapat dihimpun melalui iuran-iuran tetap ang­gota. Bisa juga menyamarkan sebuah yayasan keagamaan sebagai badan hukum yang bisa digunakan untuk menampung bantuan legal dari donatur. Mereka tidak segan-segan men­jual properti mereka, seperti rumah, tanah, bangunan, dan kendaraan, untuk membiayai kegiatan yang dinilainya sangat mendesak. Mereka maknai ayat: "… berjihadkan dengan harta dan diri kalian…". Mereka tidak sadar bahwa berjihad dengan harta tidak boleh den­gan cara mengorbankan atau menelantarkan keluarga sendiri.


Mereka masih berusaha untuk menghin­dari label teroris. Mereka juga sesungguhnya tidak mau disebut Kelompok Radikal, karena apa yang dilakukannya sesungguhnya tidak lain adalah untuk meninggikan kalimat Allah (li i'lai kalimat Allah), melalui membela kaum yang tertindas dan kaum yang didhalimi seperti kelompok Hamas Palestina dan kelompok muslim lain yang tertindas di dalam maupun di luar negeri. Mereka menggugah semangat pengorbanan komunitas mereka untuk berba­gi dengan mereka yang memerlukan bantuan dan pertolongan. Mereka merasa tidak layak menggunakan perhiasan emas dan sejumlah properti di tengah penderitaan saudara seaqi­dahnya. Karena itu mereka nekat mengorbankan diri sendiri sebagai bentuk protes terhadap kebatilan yang ada di lingkungan sekitarnya. 

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Irjen Slamet Uliandi Tersangka Keempat Kasus Penyadapan Telepon Prabowo

Jumat, 06 November 2026 | 02:03

Dzulfikar dan Fuji Abdul Tekankan Intelektualisme Pemuda untuk Pengabdian Bangsa

Jumat, 06 November 2026 | 01:31

Pramono Bertahap Menata Parkir Liar hingga Fasilitas Tanah Abang

Jumat, 06 November 2026 | 01:17

Kalau Hasil Labfor Polri Diragukan, Siapa Lagi yang Mau Dipegang?

Jumat, 06 November 2026 | 01:05

Menjaga Riau dari Ancaman Karhutla Lewat Mitigasi Berkelanjutan

Jumat, 06 November 2026 | 00:32

PPKK Perkuat Pengamanan Kawasan Kemayoran

Jumat, 06 November 2026 | 00:17

Tunjukkan Ijazah di Pengadilan Belum Tentu Akhiri Polemik

Jumat, 06 November 2026 | 00:08

Listyo Sigit Cs Pakai Mesin Sadap Seharga Rp212 Miliar

Kamis, 05 November 2026 | 23:39

Gratis Masuk Ancol Bulan November, Cek Caranya

Kamis, 05 November 2026 | 23:12

Jokowi Menolak Ijazah Diuji Ulang, Pengamat: Apa karena Kapolri sudah Diganti?

Kamis, 05 November 2026 | 23:01

Selengkapnya