Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net
"Akuntabilitas penanganan terorisme dengan melibatkan TNI bertolak belakang dengan sistem penegakan hukum. Kewenangan TNI dalam memerangi terorisme sudah diatur dalam UU Pertahanan Negara dan UU TNI, sehingga tidak perlu diatur lagi dalam revisi UU Terorisme," Demikian pernyataan sikap Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) yang diterima Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (16/5).
PMKRI berpandangan bahwa militer adalah aktor yang berbeda dan bukan bagian aparat penegak hukum. Oleh karenanya pelibatan TNI memerangi terorisme akan menimbulkan kerancuan dalam penegakan hukum dan berpotensi melanggar HAM.
Populer
Jumat, 04 September 2026 | 20:28
Kamis, 03 September 2026 | 14:46
Selasa, 01 September 2026 | 15:17
Selasa, 01 September 2026 | 01:59
Rabu, 09 September 2026 | 01:15
Sabtu, 05 September 2026 | 16:59
Sabtu, 05 September 2026 | 19:53
UPDATE
Rabu, 09 September 2026 | 14:28
Rabu, 09 September 2026 | 14:26
Rabu, 09 September 2026 | 14:06
Rabu, 09 September 2026 | 13:49
Rabu, 09 September 2026 | 13:39
Rabu, 09 September 2026 | 13:29
Rabu, 09 September 2026 | 13:27
Rabu, 09 September 2026 | 13:02
Rabu, 09 September 2026 | 12:47
Rabu, 09 September 2026 | 12:38