Berita

Politik

Isu Rasional, Cara Terbaik Berpolitik Di Negeri Plural

RABU, 09 MEI 2018 | 09:59 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Kerenggangan hubungan sosial masyarakat sangat mungkin terjadi di negara majemuk, seperti Indonesia. Apalagi, jika cara-cara berpolitik di negeri ini menggunakan isu-isu kedaerahan.

"Jika isu sentimen primordialistik seperti SARA dijadikan jurus politik, maka sangat berbahaya sekali bagi negara plural," ujar peneliti CSIS, J Kristiadi, dalam dialog bertajuk ‘Kohesi Sosial yang Mulai Retak di Masyarakat’ di Auditorium DPP Partai Nasdem, Jakarta, Selasa (8/5).

Kristiadi menjelaskan bahwa cara terbaik berpolitik di negeri yang majemuk adalah dengan menggunakan isu yang rasional. Isu ini harus menarik perhatian publik karena menyangkut kebutuhan dan harapan mereka. Contohnya adalah isu-isu tentang pendidikan, pertanian, kelautan, kesehatan, atau pertahanan.


“Itu yang harus dijelaskan. Sehingga masyarakat diajari untuk memilih berdasarkan rasionalitas," katanya.

Lebih jauh Kristiadi menjelaskan bahwa dirinya percaya keretakan kohesi sosial yang akhir-akhir ini terjadi masih bisa diperbaiki. Sebab, Indonesia memiliki kehebatan dalam hal memulihkan konflik identitas. Sekalipun konflik identitas itu sudah masif.

Sementara itu, Ketua Mahkamah Partai NasDem, Saur Hutabarat menilai masyarakat Indonesia masih belum dewasa dalam berdemokrasi. Sehingga, hal ini menjadi penyebab terjadinya keretakan kohesi sosial di masyarakat.

Seharusnya, nilai-nilai untuk menghargai perbedaan ditanamkan ke diri anak bangsa.

“Kita masih menghadapi kebutaan demokrasi. Nilai-nilai untuk menghargai perbedaan masih belum tertanam," jelasnya. [ian]

Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Fuad Hasan Punya Peran Sentral Skandal Korupsi Kuota Haji

Kamis, 09 April 2026 | 16:31

UPDATE

Analis Ungkap 3 Faktor Penentu Reshuffle Kabinet di Era Prabowo Subianto.

Sabtu, 18 April 2026 | 09:43

Harga BBM Non Subsidi Naik, Perrtamax dan Dexlite Nyaris Rp24 Ribu per Liter

Sabtu, 18 April 2026 | 09:18

Menuju Kuartal II-2026: Sektor Furnitur Siap Ambil Alih Kendali Pertumbuhan

Sabtu, 18 April 2026 | 09:08

Harga Emas dan Perak Kompak Menguat di Penutupan Pekan

Sabtu, 18 April 2026 | 08:47

Trump Kembali Kecam NATO, Tegaskan AS Tak Butuh Bantuan di Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 08:30

Harga Minyak Anjlok setelah Hormuz Dibuka

Sabtu, 18 April 2026 | 08:17

Wall Street Hijau: Nasdaq Terbang Tinggi

Sabtu, 18 April 2026 | 08:03

Sempat Viral, Ini Fakta di Balik Visual Balita pada Kemasan AMDK

Sabtu, 18 April 2026 | 07:55

Bursa Eropa Menghijau Efek Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 07:41

Hormuz Dibuka tapi AS Tetap Menekan Iran

Sabtu, 18 April 2026 | 07:18

Selengkapnya